Senin, 31 Agustus 2015

Hujan di Mata Arina

Tiba-tiba semua hal terjadi di luar rencana. Hujan di mata Arina tak pernah padam, pun bara api yang tak kunjung redam. Tak ada yang bisa disalahkan. Tak ada yang dapat dilakukan. Jalan yang ditempuh Arina mulai berputar. Peluh berganti keluh. 

Arina, bagaiama rasanya? Untuk pernah percaya kamu mampu lalu seolah semesta memojokanmu. Kehilangan harapan.

Arina, bagaimana rasanya? Berada di persimpangan namun semua terlihat seperti jalan buntu. Kehilangan tujuan.

Arina, bagaimana rasanya? Masih bertahan walau kamu tidak lagi memiliki pegangan. Kehilangan segalanya.

Arina, bagaimana rasanya?

Diremehkan.

Dosamu dibongkar.