Rahasia itu menghilang, bersama bianglala yang berputar kencang.
Rasa itu memudar, bersama ia yang hilang tanpa kabar.
Rindu itu datang, bersama kenangan.
Jarak. Helaan nafas. Erangan panjang.
-----
Malam yang sama. Gadis itu mengenakan baju tidur satin kesukannya. Ia magis, cantik dengan cara yang asing, dengan caranya. Saya dengan mudah tahu dia rapuh, dengan cepat paham senyum sendunya, dengan hati-hati berupaya tidak melukainya. Tanpa sadar, saya terpaku. Mungkin karena tatapan kosongnya, mungkin juga karena matanya yang indah.
Jika ia lukisan, jika manusia bisa diibaratkan dengan warna, gadis itu adalah campuran biru dan jingga muda. Saya akan memilih
tone paling pucat untuk melukiskannya. Kemudian akan saya tambahkan ilalang dan pot bunga, sedikit awan dan sedikit gerimis. Ia akan menjadi potret hangat juga dingin yang sempurna.
Ia selalu membawa padi di sakunya. Entah untuk apa. Ketika ditanya, ia hanya diam, lalu tersenyum. Tapi kemudian ia memberi saya satu. Saya ingin menolak, tapi tak tega melihat ia yang penuh harap. Saya mengangguk. Ia mendekap padinya kemudian memberikannya ke saya. Saya melakukan hal yang sama. Untuk pertama kali, saya lihat tatapan matanya bercahaya. Ia berpendar.
Senja yang sama. Kami menghabiskan waktu di tepi ladang kapas. Dalam hening dan semilir angin, kenangan datang, perlahan tanpa bisa dihentikan. Saya mulai menulis, entah tentang apa, entah untuk siapa. Gadis itu hanya memandang jauh, sesekali bangkit, berjalan, lompat, berlarian. Serbuk putih bertebaran. Saya mengulum senyum.
Kami pulang. Ia mengumpulkan batu paling cantik sepanjang jalan. Lalu akan diletakannya di atas daun-daun gugur, atau di tepi pohon rindang, atau dekat bunga yang malu-malu mekar. Langkah saya pelan. Langit sore itu hangat sekali.