Minggu, 22 Februari 2015

What Your Mom Said When Your Father Left

1.
She told me she's insane.
She told me she's like a kid.
She never told me he's a jerk.
She never told me he's a creep.
And maybe that what makes me hate him even more.

2.
She has this one thing. 
She can't tell anyone about it.
He has this one thing.
He won't tell anyone about it.
They have this one thing, they don't have anything.

3.
She said I may be happy and he won't know.
She said he may be happy and we won't know.
We should be happy. 
We should have known.
He doesn't have to know.

Melankolia

Rahasia itu menghilang, bersama bianglala yang berputar kencang.
Rasa itu memudar, bersama ia yang hilang tanpa kabar.
Rindu itu datang, bersama kenangan.
Jarak. Helaan nafas. Erangan panjang.

-----

Malam yang sama. Gadis itu mengenakan baju tidur satin kesukannya. Ia magis, cantik dengan cara yang asing, dengan caranya. Saya dengan mudah tahu dia rapuh, dengan cepat paham senyum sendunya, dengan hati-hati berupaya tidak melukainya. Tanpa sadar, saya terpaku. Mungkin karena tatapan kosongnya, mungkin juga karena matanya yang indah.

Jika ia lukisan, jika manusia bisa diibaratkan dengan warna, gadis itu adalah campuran biru dan jingga muda. Saya akan memilih tone paling pucat untuk melukiskannya. Kemudian akan saya tambahkan ilalang dan pot bunga, sedikit awan dan sedikit gerimis. Ia akan menjadi potret hangat juga dingin yang sempurna.

Ia selalu membawa padi di sakunya. Entah untuk apa. Ketika ditanya, ia hanya diam, lalu tersenyum. Tapi kemudian ia memberi saya satu. Saya ingin menolak, tapi tak tega melihat ia yang penuh harap. Saya mengangguk. Ia mendekap padinya kemudian memberikannya ke saya. Saya melakukan hal yang sama. Untuk pertama kali, saya lihat tatapan matanya bercahaya. Ia berpendar.

Senja yang sama. Kami menghabiskan waktu di tepi ladang kapas. Dalam hening dan semilir angin, kenangan datang, perlahan tanpa bisa dihentikan. Saya mulai menulis, entah tentang apa, entah untuk siapa. Gadis itu hanya memandang jauh, sesekali bangkit, berjalan, lompat, berlarian. Serbuk putih bertebaran. Saya mengulum senyum.

Kami pulang. Ia mengumpulkan batu paling cantik sepanjang jalan. Lalu akan diletakannya di atas daun-daun gugur, atau di tepi pohon rindang, atau dekat bunga yang malu-malu mekar. Langkah saya pelan. Langit sore itu hangat sekali.

Selasa, 17 Februari 2015

Tentang Ia

Saya bisa jatuh cinta. Ke satu orang. Ke dua orang. Ke tiga orang. Di saat yang sama.
Saya mudah jatuh cinta. Ke satu orang. Ke dua orang. Ke tiga orang. Di saat yang sama.
Saya selalu jatuh cinta. Ke satu orang. Ke dua orang. Ke tiga orang. Di saat yang sama.

-----

Saya tahu. Sayangnya saya hanya bisa, mudah, dan selalu jatuh cinta ke kamu. Di saat yang sama.
You can run. Away. Runaway. As fast as you can. As coward as you are going to be.

Rabu, 04 Februari 2015

Tentang Raga

Apa kabar Raga? Bagaimana kabarmu? Ah aku jadi mengulang kalimat yang sama.

Raga, kini disampingku bukanlah kamu. Lucu, mengingat dulu kita telah membicarakan masa depan yang jauh. Rencana. Tentang rumah. Rencana. Tentang berapa jatah belanjaku sebulan. Rencana. Tentang pekerjaan impianmu. Rencana. Tentang segala hal. Tentang segalanya.

Raga, kini disampingmu pun bukanlah aku. Aneh, seingatku kita telah berandai dengan jumawa. Tentang anak pertama. Tentang namanya. Tentang bagaimana ia akan menikmati hidupnya. Bagaimana ia mengenyam pendidikannya, pergaulannya, bahkan kekasihnya. Lihat kan, betapa sombongnya kita.

Raga, apa kamu bahagia?

Raga, aku harap kamu bahagia.
Cinta yang datang belakangan. Lucu. Ia meninggalkan kenangan.