Jumat, 19 Juni 2015

Nilai Perempuan

Ada seorang perempuan berpikir bahwa nilainya adalah dari tubuhnya. Maka ia terima saja ketika kekasihnya mulai nakal menjamah, walau tak rela.

Ada seorang perempuan berpikir bahwa nilainya adalah dari wajahnya. Maka ia terima saja ketika cantiknya dijual, walau ia pun mulai lelah.

Ada seorang perempuan berpikir bahwa nilainya adalah dari otaknya. Lalu ia sangka semua yang datang padanya hanya mau memanfaatkannya.

Ada seorang perempuan berpikir bahwa nilainya adalah dari hatinya. Maka ia yang awalnya tulus kemudian bersusah payah mempertahankan kebaikannya.

Ada seorang perempuan berpikir bahwa nilainya adalah dari imannya. Perlahan ego datang, lalu tanpa sadar ia menganggap perempuan lain tak lebih baik darinya.

Kamis, 04 Juni 2015

Tentang Bunga di Kulkas

Pemberianmu selalu ingin kusimpan. Mungkin untuk menjadi pengingat kau sempat mampir. Mungkin pula untuk meyakinkan diriku kau pernah hadir. Bunga itu, mawar, genap sepuluh, sedikit layu. Kelopaknya tidak merekah pun tidak benar-benar merah. Bunga tak laku.

Kau membawanya di saat hujan, dengan senyum polos dan rambut basahmu. Meminta maaf datang terlambat, beralasan cuaca sedang tak bersahabat. Aku cemberut, pura-pura saja cemberut. Semata ingin cari perhatianmu. Semata sudah tak sabar menunggu. Lalu kau berikan aku itu. Walau tak rela, aku tertawa. Kau kesayanganku, pantas saja begitu.

Setahun telah berlalu sejak hujan dan mawar malam itu. Katamu buang saja. Kataku ingin kusimpan selamanya. Kau kesayanganku, selalu saja begitu. Walau kesal, kau tertawa, berjanji akan ada sejuta mawar setelahnya. Aku pura-pura marah, tak rela ada sejuta maaf lainnya.

Siapa sangka ada sejuta maaf setelahnya. Tanpa mawar.

Siapa sangka tak ada sejuta maaf setelahnya. Hanya ada mawar, genap sepuluh, tersimpan di kulkas. Sudah lama layu.

Kau kesayanganku, tetap saja begitu.

Kau kesayanganku, mungkin saja begitu.

Kau kesayanganku, dulu pernah begitu.