Pemberianmu selalu ingin kusimpan. Mungkin untuk menjadi
pengingat kau sempat mampir. Mungkin pula untuk meyakinkan diriku kau pernah
hadir. Bunga itu, mawar, genap sepuluh, sedikit layu. Kelopaknya tidak merekah
pun tidak benar-benar merah. Bunga tak laku.
Kau membawanya di saat hujan, dengan senyum polos dan rambut
basahmu. Meminta maaf datang terlambat, beralasan cuaca sedang tak bersahabat.
Aku cemberut, pura-pura saja cemberut. Semata ingin cari perhatianmu. Semata sudah
tak sabar menunggu. Lalu kau berikan aku itu. Walau tak rela, aku tertawa. Kau
kesayanganku, pantas saja begitu.
Setahun telah berlalu sejak hujan dan mawar malam itu.
Katamu buang saja. Kataku ingin kusimpan selamanya. Kau kesayanganku, selalu
saja begitu. Walau kesal, kau tertawa, berjanji akan ada sejuta mawar
setelahnya. Aku pura-pura marah, tak rela ada sejuta maaf lainnya.
Siapa sangka ada sejuta maaf setelahnya. Tanpa mawar.
Siapa sangka tak ada sejuta maaf setelahnya. Hanya ada
mawar, genap sepuluh, tersimpan di kulkas. Sudah lama layu.
Kau kesayanganku, tetap saja begitu.
Kau kesayanganku, mungkin saja begitu.
Kau kesayanganku, dulu pernah begitu.
Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.
BalasHapus