Hingga pagi kita beredar, sekadar mencari sudut yang masih berpendar. Kita susuri tiap jengkal. Pengamen jalanan, pedagang sayuran, mereka kalah kalong! Jiwamu tentu lebih petualang. Ajaibnya kamu, kota yang selalu kucaci kau sulap jadi tempat yang takkan bisa kubenci.
Suatu ketika kau bilang, “Monas adalah api yang tak pernah menyala, tapi selalu membara.” Atau “Kau lihat pelacur itu? Ia adalah ibunya ibu kota.” Dan “Pria Pancoran mirip tahanan perang, asal menunjuk orang, dipaksa bertahan.”
Jakarta at its finest - You gave me the best and rarest view. And I think, that’s why I love you.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar