Sabtu, 26 November 2016

Percakapan di Suatu Perjalanan

"Din, lo anaknya seni banget ya sekarang."
"Dari dulu gue suka teater sih, tapi baru sekarang aja di post."
"Engga, engga, kalo ini tuh, lo pasti pergi tiap minggu."

Dalam hati, tiba-tiba saya tersadar dan lalu berpikir lagi, kenapa sih pada awalnya saya meniatkan diri mencari kegiatan sampingan, entah kursus atau bersenang-senang.

"Dulu pas kuliah, lo tau sendiri kegiatan kita sangat sangat bervariasi. Sekarang waktu gue udah lulus, waktu kayaknya berlalu gitu aja."

Pada dasarnya saya menyukai kejutan dan hidup yang tidak stagnan.

Saat kuliah saya tergabung di organisasi yang memungkinkan saya melakukan wawancara di wilayah-wilayah kumuh Jakarta, lalu di hari berikutnya saya bisa mendapati diri saya ada di kawasan elit dan melakukan perbincangan dengan tokoh-tokoh penting ibukota. Organisasi yang membuat saya bisa ikut penelitian ke daerah-daerah, penjara, hingga sekadar diskusi santai atau membaca puisi di halaman kampus. Anak tadi teman satu organisasi saya. Ia paham.

Hal ini ditunjang dengan besarnya range acara di UI dan Jakarta. Kalau bosan, saya tinggal mampir ke fakultas lain: ikut kelas bahasa isyarat, sharing dari penyintas 65, ceramah seksualitas, atau kadang-kadang kajian agama Islam. Beberapa kali, ketika saya agak spontan, saya pergi ke luar kota bersama rombongan asing yang saya tahu di internet (tentu setelah melalui riset apakah mereka bisa dipercaya haha). Rasa-rasanya nyaris tidak ada hari yang hambar.

Memangnya teater, museum, atau pameran bisa bikin hidup tidak stagnan? Untuk sekarang, saya masih menganggap hal-hal itu adalah self-healing paling ampuh di tengah keterbatasan *apose din* Ada ide baru yang saya tangkap, konsep yang saya lihat, pengalaman yang saya rasakan.

Dan.

Belum lagi harapan orang-orang yang terlibat di dalamnya. Zaman sekarang, teater-museum-pameran, sulit menghasilkan kalau hanya menjadi biasa-biasa aja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar