Rabu, 24 Oktober 2018
A to D. You should always be happy.
You should have when people belittle you
Yet you don't cause deep down in your heart
You know you still love them for memory you once had
B is for Brave. Be Brave. Have bravery.
To keep your chin up even when you know
The world is all against you.
And want you to fall to the ground.
C is for Charm.
Don't lose your charm, never let go of your spark.
Never let bitter them, makes you bitter you.
Your world is much more wider than that.
D is for Do Do Do. Don't Don't Don't.
Do what you love.
Don't give up. Don't give up. Don't give up.
And don't give up.
Jumat, 19 Oktober 2018
Warisan
Sejujurnya saya tidak bercanda ketika bilang warisan paling baik dari mama saya adalah hati yang merasa cukup untuk hal-hal sederhana. Semakin saya dewasa, semakin saya menyadari, betapa berharganya hal tersebut.
Apalagi, kepribadian saya sering menimbulkan salah paham. Jika bicara saya tanpa pikir panjang. Saya mudah tertawa, nyaris terlalu kencang. Saya peduli dengan orang lain, tapi tidak cukup cakap menunjukkannya.
Dari kecil, saya selalu mengalami kisah yang sama. Oh believe me, you may think this is the first, but I've experienced this kind of thing since middle school.
Ada kotak hadiah yang belasan tahun tersimpan di rumah karena yang mau saya kasih beserta teman-temannya tidak menyukai saya. Ada yang menaruh sampah di barang-barang saya. Saya dipanggil dengan nama-nama buruk, kalau tidak salah ingat ada 8 sebutan, dicap jelek untuk hal-hal yang tak pernah saya lakukan. Saya mengalami itu semua dari umur belasan.
Bohong kalau saya bilang saya tidak apa-apa. I was still very young for God's sake. Saat itu saya merasa ada yang salah dengan diri saya. Saya tidak percaya diri. Saya menutup hati dalam pergaulan. Saya mempertanyakan tiap jengkal soal saya. Berlebihan, but I can't help being overreacting.
Tuhan mungkin merasa kasihan. Jalan saya kemudian dipertemukan dengan teman-teman, yang untuk pertama kalinya selama hidup ini, saya merasa ada yang bisa menyayangi saya selain keluarga. Yang membuat semalaman saya menangis dan berkata, "Terima kasih telah menunjukkan saya juga pantas dicintai."
Hal itu benar-benar terjadi. Dan saya telah melaluinya. Jadi ketika ada yang menyangka saya akan takut dan lemah, mereka salah. Sekarang saya sudah lebih dewasa dan sangat bisa menghargai diri saya sendiri.
Happiness
Ketika sedang sibuk bimbel untuk tes kuliah PTN, seorang guru yang mungkin melihat saya cuma bisa cengengesan bertanya, "Mau jadi apa kamu nanti?"
Di kelas dengan lantang saya yang masih muda menjawab, "Saya ingin menjadi bahagia." Guru itu lantas mengrenyitkan dahi, lalu secara tipikal pertanyaan retorika muncul, "Nilai kamu disini kemarin berapa? Kemarin ambil jurusan apa?"
"Tata boga. Gatau berapa nilainya." Saya benar-benar memilih tata boga di try out pertama. Saya benar-benar tidak mengecek nilai saya. Guru tadi rasanya makin berpikir anak seperti saya hanya bisa main-main.
Padahal seharusnya saya cek saja, karena ternyata di try out try out selanjutnya saya tahu, nilai saya tertinggi di bimbel tersebut.
Ketika sudah lebih dewasa, dan memiliki pekerjaan, belum pernah ada lagi yang bertanya ingin jadi apa saya nanti. Apakah sekarang bahagia masih menjadi target utama saya?
Pada dasarnya saya adalah anak yang gampang bahagia. Saya ga pernah iri sama orang lain. Saya belum pernah membenci siapa-siapa. Kamu mau nyakitin saya gimana juga, hingga sekarang saya bisa pastikan saya ga akan menyimpan dendam. Saya bebas dari penyakit hati seperti itu.
Tapi, saya juga anak yang gampang merasa sedih. Saya mudah merasa sepi, saya peka dengan hampa. Saya masih sering terperangkap di hal-hal seperti ini.
Ada saat-saat dimana semua hal penuh cela, tapi saya sangat bahagia tiap harinya. Saya bisa menggerakkan tangan dan kaki saya kesana-kemari, lalu tertawa sendiri. Pokoknya, hidup ini indah dan gembira di dada membuncah.
Ada saat-saat dimana semua tampak sempurna. Saya seharusnya bahagia, tapi tunggu dulu, ketika sendirian, saya akan menangis tanpa henti. Pokoknya semua terlihat salah, hati dan badan saya seluruhnya lelah.
Lalu dua tahun lalu, saya sepenuhnya tersadar, kebahagiaan bisa saya usahakan. Saya mulai mengerjakan apa yang menjadi keinginan saya, menyusunnya pelan-pelan. Dan ketika saya melakukannya, perasaan-perasaan buruk seketika sirna entah kemana.
Kemarin, iya benar-benar kemarin, saya yang nyaris lupa hal tadi, melakukannya lagi. Dan wow hari saya mengalami kebahagiaan yang gila. Bahkan di tengah omongan orang, pekerjaan yang datang, saya tak bisa menahan diri untuk menari atau tersenyum sendiri.
Hidup rasanya penuh harapan. Ketakutan-ketakutan tidak rasional menjadi tidak signifikan. Tiap orang punya cara untuk mengusahakan bahagia. Dan cara saya adalah mencari mimpi, apa yang benar-benar saya inginkan dalam hidup ini, lalu pelan-pelan membangun dari serpih dan kepingnya.
Kebahagiaan sering berubah. Jika saya menjadikan bahagia tujuan utama saya, maka berarti ketika saya tidak bahagia saya akan merasa gagal. Sehingga sekarang jika ditanya, apa keinginan saya, saya akan menjawab untuk memiliki hidup yang penuh arti. Karena dalam jalan mencapainya dan seharusnya di tujuan nanti, saya mendapatkan kebahagiaan.
Kamis, 04 Oktober 2018
The Art of Acknowledging Your Self-Worth
Every day she reminds herself she's not special, so when people get harsh on her, she won't take that deeply.
Jadi percaya lah kalo gue bilang, gue ga sedih, gue ga kecewa, gue ga terluka. Hal-hal kayak gitu.... sudah lama berlalu. I love myself enough to know my worth. I love myself enough to know bad words don't define me. I love myself enough to let go good and sorrowful memories. I love myself enough to forgive (esp.) myself.
The younger version of me mungkin sudah meraung-raung dan menganggap ada yang salah sama diri gue. Tapi, gue yang sekarang sudah tau hal ini: I am enough. I lose people who treat me lowly. They lose a person who once considered them as a family. It's not my loss. Never was. And never will.