Jumat, 19 Oktober 2018

Warisan

Sejujurnya saya tidak bercanda ketika bilang warisan paling baik dari mama saya adalah hati yang merasa cukup untuk hal-hal sederhana. Semakin saya dewasa, semakin saya menyadari, betapa berharganya hal tersebut.

Apalagi, kepribadian saya sering menimbulkan salah paham. Jika bicara saya tanpa pikir panjang. Saya mudah tertawa, nyaris terlalu kencang. Saya peduli dengan orang lain, tapi tidak cukup cakap menunjukkannya.

Dari kecil, saya selalu mengalami kisah yang sama. Oh believe me, you may think this is the first, but I've experienced this kind of thing since middle school.

Ada kotak hadiah yang belasan tahun tersimpan di rumah karena yang mau saya kasih beserta teman-temannya tidak menyukai saya. Ada yang menaruh sampah di barang-barang saya. Saya dipanggil dengan nama-nama buruk, kalau tidak salah ingat ada 8 sebutan, dicap jelek untuk hal-hal yang tak pernah saya lakukan. Saya mengalami itu semua dari umur belasan.

Bohong kalau saya bilang saya tidak apa-apa. I was still very young for God's sake. Saat itu saya merasa ada yang salah dengan diri saya. Saya tidak percaya diri. Saya menutup hati dalam pergaulan. Saya mempertanyakan tiap jengkal soal saya. Berlebihan, but I can't help being overreacting.

Tuhan mungkin merasa kasihan. Jalan saya kemudian dipertemukan dengan teman-teman, yang untuk pertama kalinya selama hidup ini, saya merasa ada yang bisa menyayangi saya selain keluarga. Yang membuat semalaman saya menangis dan berkata, "Terima kasih telah menunjukkan saya juga pantas dicintai."

Hal itu benar-benar terjadi. Dan saya telah melaluinya. Jadi ketika ada yang menyangka saya akan takut dan lemah, mereka salah. Sekarang saya sudah lebih dewasa dan sangat bisa menghargai diri saya sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar