“Omo
omo… Gimana ini Noah mau tampil minggu depan. Pokoknya kita harus dapet tiketnya. Pasti antriannya panjang banget.”
Benar
saja, bahkan setahun sebelum Noah akan tampil di distrik Gangnam, tiketnya
sudah terjual habis. Para remaja yang didominasi putri itu rela mengantri tiket
bahkan dari malam sebelumnya. Mereka bermalam di booth. Esoknya, semakin siang antrian semakin mengular, walau
matahari saat itu sedang tidak bersahabat. Maklum saja, waktu itu memasuki
bulan Juni, awal musim panas di Korea.
Sejumlah
media lokal pun datang meliput fenomena Indonesian Pop di kalangan para remaja
Korea.
“Annyeonghaseyo,
boleh kita wawancara sebentar. Kenapa sih
kamu suka sekali sama Noah?”
“Personelnya
ganteng-ganteng, lagunya asik-asik.
Ariel oppa we love youuu!!!” jerit
remaja putri itu histeris dibarengi teman-temannya. Wartawan itu mengangguk-angguk.
Kejadian
di atas umum terjadi. Hampir satu dekade ini demam Indonesia melanda Korea.
Indonesia berkembang menjadi negara maju dengan pendapatan per kapita yang
menggembirakan per tahunnya. Semua berkat hidupnya industri kreatif dan
kemajuan teknologi disana. Padahal, berpuluh tahun sebelumnya kedudukan
Indonesia dan Korea sama, bahkan Indonesia lebih miris. Namun kini, Korea jauh
tertinggal.
Indonesia
menjadi kiblat fashion, kecantikan, budaya, dan gaya hidup. Demam Indonesia
terjadi di seluruh penjuru Korea. Tentu saja ini semua berkat sinetron
Indonesia yang terkenal memiliki plot cerita kuat dengan aktor yang rupawan.
“Wah
lihat deh, noona itu cantik sekali, seperti gadis Indonesia.” Kini, gadis
Indonesia menjadi standar baru kecantikan di Korea.
“Nona
Suzy, Anda kerap dipuji mirip gadis Indonesia. Bagaimana tanggapan Anda?” tanya
seorang wartawan saat jumpa pers. Suzy Miss A menjawab dengan sumringah.
Sinetron
Ganteng-Ganteng Serigala menjadi sinetron yang banyak diunduh per 2014. Di
tahun-tahun sebelumnya, Tukang Bubur Naik Haji. Cintra Fitri, dan Para Pencari
Tuhan menjadi favorit. Fenomena Indonesian
Wave juga mengangkat karya lama yang sebelumnya telah sukses di Indonesia.
Sebut saja Tersanjung, Jinny Oh Jinny, Tuyul dan Mbak Yul, Gerhana, Bawang
Merah Bawang Putih, Pernikahan Dini, Si Dul Anak Betawi, Keluarga Cemara, Saras
008 namanya terdengar kembali dan mendapat apresiasi luar biasa dari rakyat
Korea. Film-film Indonesia lama pun menggaung lagi. Misalnya, Petualangan
Sherina dan Ada Apa Dengan Cinta. Bahkan,
hutan tempat Sherina diculik menjadi tempat wisata wajib dikunjungi rakyat
Korea saat berlibur ke Indonesia.
Setiap
hal pasti memiliki sisi positif dan negatif. Contohnya saja, Indonesian Wave dinilai membunuh
identitas Korea, terutama di industri kreatif. Banyak drama series Korea yang menjiplak sinetron Indonesia. Bahkan,
pernah ada drama series yang meniru plek plek, hingga menyebabkan perwakilan
dari pihak SinemArt Production beradu dengan HB Entertainment. Tentu saja HB
Entertainment mundur sebelum kasus dibawa ke pengadilan.
Reality show Indonesia menjadi panutan.
Termehek-mehek, Jika Aku Menjadi, Jejak Petualang, Salah Sambung, Pulang
Kampung, dan Dunia Lain dimodifikasi oleh Korea dan langsung mendapat cercaan.
Remaja Korea marah, mengumpat-umpat di media sosial. Mereka menyebut negara
mereka sebagai negara plagiat. Walau, ada beberapa nasionalis Korea yang
membela dengan alasan biarkan negara mereka berkembang sampai bisa menemukan
jati dirinya.
Hal
serupa juga terjadi di industri musik. Para girl
band maupun boy band Korea yang
memasukkan genre dangdut dalam musik mereka langsung mendapat cercaan sok
ke-Indonesia-an sekali, Indonesia yang gagal. Para penggemar tidak suka idola
mereka ditiru, maksa kata mereka.
Fanatisme tidak berhenti sampai disitu. Remaja Korea juga menjadi konsumtif.
Apapun yang berhubungan dengan idola mereka dibeli, walau nominalnya mencapai
ratusan ribu won. Miris mengingat masih banyak rakyat Korea yang hidup tidak
layak, untuk makan pun susah.
Restoran
Indonesia semakin menjamur. Katanya rasanya juara, bumbunya gurih dan kaya.
Rumah makan Padang buka cabang dimana-mana, pun restoran Sunda, Manado, dan
lain-lain. Tteokbokki kalah pamor. Sekarang remaja menggandrungi Cilok, apalagi
jika ditambah kecap sambal dan bumbu kacang. Walaupun harga Cilok jauh lebih
mahal, yang menurut orang tua Korea rasanya hampir sama. Tteokbokki yang
dijajakan di pinggir-pinggir jalan sudah sepi pembeli.
Di
antara semua rumah makan Padang yang menjamur di Korea, yang terkenal adalah RM
Sederhanah. Alasannya, pengunjung yang datang bisa berfoto mengenakan baju adat
Sumatera Barat. Strategi pemasaran ini akhirnya dicontoh restoran Indonesia
lainnya. Tentu yang paling menarik adalah Bali dengan Reog-nya. Beberapa
restoran Korea mencoba mencotohnya. Mereka menyediakan hanbok di
restoran-restorannya. Tapi, tetap saja tidak berhasil menarik pengunjung.
Sari
Ayu dan Martha Tilaar sangat terkenal di Korea. Kedua merk kosmetik asal
Indonesia ini mulai dilirik remaja Korea. Banyak online shop yang membuka pre
order untuk kosmetik Indonesia karena harga kosmetik Indonesia di outlet Korea menjadi sangat mahal.
Kemasan yang menarik dan kulit orang Indonesia yang terkenal apik membuat
penjualan kosmetik laris manis bagai kacang goreng, istilah yang kerap
digunakan orang Indonesia.
Gadget Indonesia menjamur di Korea,
bahkan sebenarnya dunia. Penjualannya menyaingi Apel, merk fenomenal asal
Amerika. Tidak heran mengingat fitur yang modern dan metode pemasaran yang
tepat menyasar target pasar. Menyikapi hal ini, Korea mulai mencoba membuat
perangkat elektronik mereka sendiri. Namun, apa daya, akibat anggaran Research and Development yang kecil di
Korea dan kurangnya apresiasi dari pemerintah maupun penduduk lokal, karya anak
bangsa akhirnya hanya numpang lewat,
sekali-kali muncul di media lokal tapi setelah itu tidak terdengar lagi
gaungnya.
Menteri
Kebudayaan Korea sudah satu periode ini berpikir keras bagaimana Indonesian Wave bisa ditiru oleh Korea
agar nantinya dunia juga mengenal Korean
Wave, walau ia sadar betul belum tentu ini akan sesukses demam Indonesia di
Asia. Alasannya, nasionalisme remaja semakin mati. Banyak budaya Korea yang akhirnya
diklaim negara tetangga, Jepang. Kalau sudah seperti itu rakyat baru heboh,
remaja semangat sekali berkoar-koar,
walau kebanyakan hanya melalui media sosial. Maklum, sebelumnya mereka masih
sibuk mencari tahu style terbaru
artis Indonesia idola mereka dan sinetron yang mereka bintangi.
Indonesia
tentu sadar betul hype nya di Korea.
Kabar terakhir, Januari lalu, pusat kebudayaan Indonesia dibangun di Korea.
Alasannya Korea merupakan salah satu negara dengan penggemar Indonesia paling
banyak. Bahkan, menurut pengakuan Kepala Pusat Kajian Industri Indonesia di
salah satu media lokal, band-band Indonesia dijadwalkan paling sering tampil di
Korea. Misalnya saja pada akhir tahun ini ada Setia Band, tahun depan sudah
mengantri Noah, Gigi, Armada, Garasi, dan Trio Macan.
Pusat
kebudayaan ini disambut sangat baik oleh fans
Indonesia, apalagi acara yang ditawarkan sangat Indonesia sekali. Pusat
kebudayaan Indonesia bekerja sama dengan pemerintah Korea mengadakan Pekan
Indonesia yang dijadwalkan tiap satu tahun sekali di distrik Gangnam. Alasannya
kawasan Gangnam berpopulasi padat dengan perumahan paling makmur di Korea, demi
gengsi.
Dalam
Pekan Indonesia, masyarakat Korea bisa menikmati jajanan Indonesia seperti
lemper, getuk, onde-onde, klepon, kue lapis, combro, dan lain-lain. Walau harga
yang dipatok relatif tinggi, tetap saja jajanan ini laris-manis dan hampir
selalu ludes. Selain itu, diadakan juga lomba dan kursus memasak masakan
Indonesia. Tahun ini temanya nasi tumpeng.
Namun,
acara yang paling menarik perhatian pengunjung adalah lomba tarian tradisional
Indonesia, selain pentas band Indonesia sendiri tentunya. Tiap tahun pesertanya
semakin membludak. Biasanya, yang menjadi favorit pilihan peserta adalah tarian
Bali, Padang, atau Jawa. Ada-ada saja variasi para remaja Korea ini, misalnya
saja tahun ini ada yang menggunakan angklung saat melakukan sinden.
Kebetulan
hari itu saya datang, iseng-iseng diajak teman. Perasaan kagum dan kecewa
bercampur jadi satu. Kagum dengan negara orang, kecewa dengan orang negara
sendiri. “Sakitnya tuh disini di dalam hatiku. Sakitt…. Sakittt…..” Lagu
dangdut Cita Citata berkumandang seolah ingin membuat saya lebih galau, seolah
mencemooh fanatisme orang Korea yang menganaktirikan tanah airnya sendiri.
Kepala saya pening.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar