Sabtu, 30 Mei 2015

K-POP! - Tulisan untuk Sebuah Lentera

“Omo omo… Gimana ini Noah mau tampil minggu depan. Pokoknya kita harus dapet tiketnya. Pasti antriannya panjang banget.”
Benar saja, bahkan setahun sebelum Noah akan tampil di distrik Gangnam, tiketnya sudah terjual habis. Para remaja yang didominasi putri itu rela mengantri tiket bahkan dari malam sebelumnya. Mereka bermalam di booth. Esoknya, semakin siang antrian semakin mengular, walau matahari saat itu sedang tidak bersahabat. Maklum saja, waktu itu memasuki bulan Juni, awal musim panas di Korea.
Sejumlah media lokal pun datang meliput fenomena Indonesian Pop di kalangan para remaja Korea.
“Annyeonghaseyo, boleh kita wawancara sebentar. Kenapa sih kamu suka sekali sama Noah?”
“Personelnya ganteng-ganteng, lagunya asik-asik. Ariel oppa we love youuu!!!” jerit remaja putri itu histeris dibarengi teman-temannya. Wartawan itu mengangguk-angguk.
Kejadian di atas umum terjadi. Hampir satu dekade ini demam Indonesia melanda Korea. Indonesia berkembang menjadi negara maju dengan pendapatan per kapita yang menggembirakan per tahunnya. Semua berkat hidupnya industri kreatif dan kemajuan teknologi disana. Padahal, berpuluh tahun sebelumnya kedudukan Indonesia dan Korea sama, bahkan Indonesia lebih miris. Namun kini, Korea jauh tertinggal.
Indonesia menjadi kiblat fashion, kecantikan, budaya, dan gaya hidup. Demam Indonesia terjadi di seluruh penjuru Korea. Tentu saja ini semua berkat sinetron Indonesia yang terkenal memiliki plot cerita kuat dengan aktor yang rupawan.
“Wah lihat deh, noona itu cantik sekali, seperti gadis Indonesia.” Kini, gadis Indonesia menjadi standar baru kecantikan di Korea.
“Nona Suzy, Anda kerap dipuji mirip gadis Indonesia. Bagaimana tanggapan Anda?” tanya seorang wartawan saat jumpa pers. Suzy Miss A menjawab dengan sumringah.
Sinetron Ganteng-Ganteng Serigala menjadi sinetron yang banyak diunduh per 2014. Di tahun-tahun sebelumnya, Tukang Bubur Naik Haji. Cintra Fitri, dan Para Pencari Tuhan menjadi favorit. Fenomena Indonesian Wave juga mengangkat karya lama yang sebelumnya telah sukses di Indonesia. Sebut saja Tersanjung, Jinny Oh Jinny, Tuyul dan Mbak Yul, Gerhana, Bawang Merah Bawang Putih, Pernikahan Dini, Si Dul Anak Betawi, Keluarga Cemara, Saras 008 namanya terdengar kembali dan mendapat apresiasi luar biasa dari rakyat Korea. Film-film Indonesia lama pun menggaung lagi. Misalnya, Petualangan Sherina dan Ada Apa Dengan Cinta. Bahkan, hutan tempat Sherina diculik menjadi tempat wisata wajib dikunjungi rakyat Korea saat berlibur ke Indonesia.
Setiap hal pasti memiliki sisi positif dan negatif. Contohnya saja, Indonesian Wave dinilai membunuh identitas Korea, terutama di industri kreatif. Banyak drama series Korea yang menjiplak sinetron Indonesia. Bahkan, pernah ada drama series yang meniru plek plek, hingga menyebabkan perwakilan dari pihak SinemArt Production beradu dengan HB Entertainment. Tentu saja HB Entertainment mundur sebelum kasus dibawa ke pengadilan.
Reality show Indonesia menjadi panutan. Termehek-mehek, Jika Aku Menjadi, Jejak Petualang, Salah Sambung, Pulang Kampung, dan Dunia Lain dimodifikasi oleh Korea dan langsung mendapat cercaan. Remaja Korea marah, mengumpat-umpat di media sosial. Mereka menyebut negara mereka sebagai negara plagiat. Walau, ada beberapa nasionalis Korea yang membela dengan alasan biarkan negara mereka berkembang sampai bisa menemukan jati dirinya.
Hal serupa juga terjadi di industri musik. Para girl band maupun boy band Korea yang memasukkan genre dangdut dalam musik mereka langsung mendapat cercaan sok ke-Indonesia-an sekali, Indonesia yang gagal. Para penggemar tidak suka idola mereka ditiru, maksa kata mereka. Fanatisme tidak berhenti sampai disitu. Remaja Korea juga menjadi konsumtif. Apapun yang berhubungan dengan idola mereka dibeli, walau nominalnya mencapai ratusan ribu won. Miris mengingat masih banyak rakyat Korea yang hidup tidak layak, untuk makan pun susah.
Restoran Indonesia semakin menjamur. Katanya rasanya juara, bumbunya gurih dan kaya. Rumah makan Padang buka cabang dimana-mana, pun restoran Sunda, Manado, dan lain-lain. Tteokbokki kalah pamor. Sekarang remaja menggandrungi Cilok, apalagi jika ditambah kecap sambal dan bumbu kacang. Walaupun harga Cilok jauh lebih mahal, yang menurut orang tua Korea rasanya hampir sama. Tteokbokki yang dijajakan di pinggir-pinggir jalan sudah sepi pembeli.
Di antara semua rumah makan Padang yang menjamur di Korea, yang terkenal adalah RM Sederhanah. Alasannya, pengunjung yang datang bisa berfoto mengenakan baju adat Sumatera Barat. Strategi pemasaran ini akhirnya dicontoh restoran Indonesia lainnya. Tentu yang paling menarik adalah Bali dengan Reog-nya. Beberapa restoran Korea mencoba mencotohnya. Mereka menyediakan hanbok di restoran-restorannya. Tapi, tetap saja tidak berhasil menarik pengunjung.
Sari Ayu dan Martha Tilaar sangat terkenal di Korea. Kedua merk kosmetik asal Indonesia ini mulai dilirik remaja Korea. Banyak online shop yang membuka pre order untuk kosmetik Indonesia karena harga kosmetik Indonesia di outlet Korea menjadi sangat mahal. Kemasan yang menarik dan kulit orang Indonesia yang terkenal apik membuat penjualan kosmetik laris manis bagai kacang goreng, istilah yang kerap digunakan orang Indonesia.
Gadget Indonesia menjamur di Korea, bahkan sebenarnya dunia. Penjualannya menyaingi Apel, merk fenomenal asal Amerika. Tidak heran mengingat fitur yang modern dan metode pemasaran yang tepat menyasar target pasar. Menyikapi hal ini, Korea mulai mencoba membuat perangkat elektronik mereka sendiri. Namun, apa daya, akibat anggaran Research and Development yang kecil di Korea dan kurangnya apresiasi dari pemerintah maupun penduduk lokal, karya anak bangsa akhirnya hanya numpang lewat, sekali-kali muncul di media lokal tapi setelah itu tidak terdengar lagi gaungnya.
Menteri Kebudayaan Korea sudah satu periode ini berpikir keras bagaimana Indonesian Wave bisa ditiru oleh Korea agar nantinya dunia juga mengenal Korean Wave, walau ia sadar betul belum tentu ini akan sesukses demam Indonesia di Asia. Alasannya, nasionalisme remaja semakin mati. Banyak budaya Korea yang akhirnya diklaim negara tetangga, Jepang. Kalau sudah seperti itu rakyat baru heboh, remaja semangat sekali berkoar-koar, walau kebanyakan hanya melalui media sosial. Maklum, sebelumnya mereka masih sibuk mencari tahu style terbaru artis Indonesia idola mereka dan sinetron yang mereka bintangi.
Indonesia tentu sadar betul hype nya di Korea. Kabar terakhir, Januari lalu, pusat kebudayaan Indonesia dibangun di Korea. Alasannya Korea merupakan salah satu negara dengan penggemar Indonesia paling banyak. Bahkan, menurut pengakuan Kepala Pusat Kajian Industri Indonesia di salah satu media lokal, band-band Indonesia dijadwalkan paling sering tampil di Korea. Misalnya saja pada akhir tahun ini ada Setia Band, tahun depan sudah mengantri Noah, Gigi, Armada, Garasi, dan Trio Macan.
Pusat kebudayaan ini disambut sangat baik oleh fans Indonesia, apalagi acara yang ditawarkan sangat Indonesia sekali. Pusat kebudayaan Indonesia bekerja sama dengan pemerintah Korea mengadakan Pekan Indonesia yang dijadwalkan tiap satu tahun sekali di distrik Gangnam. Alasannya kawasan Gangnam berpopulasi padat dengan perumahan paling makmur di Korea, demi gengsi.
Dalam Pekan Indonesia, masyarakat Korea bisa menikmati jajanan Indonesia seperti lemper, getuk, onde-onde, klepon, kue lapis, combro, dan lain-lain. Walau harga yang dipatok relatif tinggi, tetap saja jajanan ini laris-manis dan hampir selalu ludes. Selain itu, diadakan juga lomba dan kursus memasak masakan Indonesia. Tahun ini temanya nasi tumpeng.
Namun, acara yang paling menarik perhatian pengunjung adalah lomba tarian tradisional Indonesia, selain pentas band Indonesia sendiri tentunya. Tiap tahun pesertanya semakin membludak. Biasanya, yang menjadi favorit pilihan peserta adalah tarian Bali, Padang, atau Jawa. Ada-ada saja variasi para remaja Korea ini, misalnya saja tahun ini ada yang menggunakan angklung saat melakukan sinden.
Kebetulan hari itu saya datang, iseng-iseng diajak teman. Perasaan kagum dan kecewa bercampur jadi satu. Kagum dengan negara orang, kecewa dengan orang negara sendiri. “Sakitnya tuh disini di dalam hatiku. Sakitt…. Sakittt…..” Lagu dangdut Cita Citata berkumandang seolah ingin membuat saya lebih galau, seolah mencemooh fanatisme orang Korea yang menganaktirikan tanah airnya sendiri. Kepala saya pening.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar