Jumat, 19 Oktober 2018

Happiness

Ketika sedang sibuk bimbel untuk tes kuliah PTN, seorang guru yang mungkin melihat saya cuma bisa cengengesan bertanya, "Mau jadi apa kamu nanti?"

Di kelas dengan lantang saya yang masih muda menjawab, "Saya ingin menjadi bahagia." Guru itu lantas mengrenyitkan dahi, lalu secara tipikal pertanyaan retorika muncul, "Nilai kamu disini kemarin berapa? Kemarin ambil jurusan apa?"

"Tata boga. Gatau berapa nilainya." Saya benar-benar memilih tata boga di try out pertama. Saya benar-benar tidak mengecek nilai saya. Guru tadi rasanya makin berpikir anak seperti saya hanya bisa main-main.

Padahal seharusnya saya cek saja, karena ternyata di try out try out selanjutnya saya tahu, nilai saya tertinggi di bimbel tersebut.

Ketika sudah lebih dewasa, dan memiliki pekerjaan, belum pernah ada lagi yang bertanya ingin jadi apa saya nanti. Apakah sekarang bahagia masih menjadi target utama saya?

Pada dasarnya saya adalah anak yang gampang bahagia. Saya ga pernah iri sama orang lain.  Saya belum pernah membenci siapa-siapa. Kamu mau nyakitin saya gimana juga, hingga sekarang saya bisa pastikan saya ga akan menyimpan dendam. Saya bebas dari penyakit hati seperti itu.

Tapi, saya juga anak yang gampang merasa sedih. Saya mudah merasa sepi, saya peka dengan hampa. Saya masih sering terperangkap di hal-hal seperti ini.

Ada saat-saat dimana semua hal penuh cela, tapi saya sangat bahagia tiap harinya. Saya bisa menggerakkan tangan dan kaki saya kesana-kemari, lalu tertawa sendiri. Pokoknya, hidup ini indah dan gembira di dada membuncah.

Ada saat-saat dimana semua tampak sempurna. Saya seharusnya bahagia, tapi tunggu dulu, ketika sendirian, saya akan menangis tanpa henti. Pokoknya semua terlihat salah, hati dan badan saya seluruhnya lelah.

Lalu dua tahun lalu, saya sepenuhnya tersadar, kebahagiaan bisa saya usahakan. Saya mulai mengerjakan apa yang menjadi keinginan saya, menyusunnya pelan-pelan. Dan ketika saya melakukannya, perasaan-perasaan buruk seketika sirna entah kemana.

Kemarin, iya benar-benar kemarin, saya yang nyaris lupa hal tadi, melakukannya lagi. Dan wow hari saya mengalami kebahagiaan yang gila. Bahkan di tengah omongan orang, pekerjaan yang datang, saya tak bisa menahan diri untuk menari atau tersenyum sendiri.

Hidup rasanya penuh harapan. Ketakutan-ketakutan tidak rasional menjadi tidak signifikan. Tiap orang punya cara untuk mengusahakan bahagia. Dan cara saya adalah mencari mimpi, apa yang benar-benar saya inginkan dalam hidup ini, lalu pelan-pelan membangun dari serpih dan kepingnya.

Kebahagiaan sering berubah. Jika saya menjadikan bahagia tujuan utama saya, maka berarti ketika saya tidak bahagia saya akan merasa gagal. Sehingga sekarang jika ditanya, apa keinginan saya, saya akan menjawab untuk memiliki hidup yang penuh arti. Karena dalam jalan mencapainya dan seharusnya di tujuan nanti, saya mendapatkan kebahagiaan.

2 komentar: