Senin, 20 April 2015

Jamuan Malam

Aku datang dalam bayang kunang-kunang. Kau hilang serupa pendar malam. 

Di anggur yang kau minum, telah kumasukkan racun. Mematikan tapi tak membuatmu binasa. Di roti yang kau makan, telah kumasukkan bisa. Tenang, hanya akan membuatmu gila.  Di sirup yang kau serup, telah kumasukkan sumpah. Pun kuludahi ranjangmu. Kukutuk jubah barumu. Kau ada. Tapi tak ada.

Di taman bungamu, kuternak hama. Di lemari kesayanganmu, kusimpan senjata, kalau-kalau kau tertarik mengakhiri hidupmu. Di langkahmu, kutenun kutukan. Entah kau dengar atau tidak, aku datang, kawan. Lawan! Oh, kau masih tak mampu.

Masihkah lidahmu tajam? Mulutmu lebar? Kau tak bisa sombong sekarang, bukan? Kenapa kau diam? Dulu suaramu paling lantang. Manusia lemah dan tanpa daya, apa yang kau cari? Manusia lemah dan penuh dengki, apa yang kau cari? Semua ada di sini. Semua hilang di sini. Rehat lah. Kau tampak lelah.

Dengar, ini kisah pilu diberi nyanyian rindu. Amboi. Gampang sekali menipu. Gampang sekali ditipu.

Tertipu!

Sudah kau diam saja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar