She might've been born with a little sunshine on her eyes, and a solid steel in her heart. Sweet and tad. Gentle hurricane, playful storm. Everything about her is in between. She is hard to be loved, harder to be hated.
Kamis, 01 Desember 2016
A Girl Named Petal Rose
The Tale of Merah Jambu
This is a story. About a boy who wants to fly. And a girl who used to fall.
For Nayla, love starts at 40, when she least expect it. Having two children and a husband in her life, got to know Agus is a curse. He is like everything she'd ever wanted but never had. Love is such a late bloomer. And she is an old comer.
For Agus, love was never start, even when he wants it that bad. Having three elders and ten children on his care, got to know Nayla is a bless. She has everything he'd ever wanted but never had. Love is such a sly player. And he is a fool sinner.
This is a story. About a boy who'll soon fall. And a girl who won't ever fly.
Sabtu, 26 November 2016
Percakapan di Suatu Perjalanan
"Din, lo anaknya seni banget ya sekarang."
"Dari dulu gue suka teater sih, tapi baru sekarang aja di post."
"Engga, engga, kalo ini tuh, lo pasti pergi tiap minggu."
Dalam hati, tiba-tiba saya tersadar dan lalu berpikir lagi, kenapa sih pada awalnya saya meniatkan diri mencari kegiatan sampingan, entah kursus atau bersenang-senang.
"Dulu pas kuliah, lo tau sendiri kegiatan kita sangat sangat bervariasi. Sekarang waktu gue udah lulus, waktu kayaknya berlalu gitu aja."
Pada dasarnya saya menyukai kejutan dan hidup yang tidak stagnan.
Saat kuliah saya tergabung di organisasi yang memungkinkan saya melakukan wawancara di wilayah-wilayah kumuh Jakarta, lalu di hari berikutnya saya bisa mendapati diri saya ada di kawasan elit dan melakukan perbincangan dengan tokoh-tokoh penting ibukota. Organisasi yang membuat saya bisa ikut penelitian ke daerah-daerah, penjara, hingga sekadar diskusi santai atau membaca puisi di halaman kampus. Anak tadi teman satu organisasi saya. Ia paham.
Hal ini ditunjang dengan besarnya range acara di UI dan Jakarta. Kalau bosan, saya tinggal mampir ke fakultas lain: ikut kelas bahasa isyarat, sharing dari penyintas 65, ceramah seksualitas, atau kadang-kadang kajian agama Islam. Beberapa kali, ketika saya agak spontan, saya pergi ke luar kota bersama rombongan asing yang saya tahu di internet (tentu setelah melalui riset apakah mereka bisa dipercaya haha). Rasa-rasanya nyaris tidak ada hari yang hambar.
Memangnya teater, museum, atau pameran bisa bikin hidup tidak stagnan? Untuk sekarang, saya masih menganggap hal-hal itu adalah self-healing paling ampuh di tengah keterbatasan *apose din* Ada ide baru yang saya tangkap, konsep yang saya lihat, pengalaman yang saya rasakan.
Dan.
Belum lagi harapan orang-orang yang terlibat di dalamnya. Zaman sekarang, teater-museum-pameran, sulit menghasilkan kalau hanya menjadi biasa-biasa aja.
"Dari dulu gue suka teater sih, tapi baru sekarang aja di post."
"Engga, engga, kalo ini tuh, lo pasti pergi tiap minggu."
Dalam hati, tiba-tiba saya tersadar dan lalu berpikir lagi, kenapa sih pada awalnya saya meniatkan diri mencari kegiatan sampingan, entah kursus atau bersenang-senang.
"Dulu pas kuliah, lo tau sendiri kegiatan kita sangat sangat bervariasi. Sekarang waktu gue udah lulus, waktu kayaknya berlalu gitu aja."
Pada dasarnya saya menyukai kejutan dan hidup yang tidak stagnan.
Saat kuliah saya tergabung di organisasi yang memungkinkan saya melakukan wawancara di wilayah-wilayah kumuh Jakarta, lalu di hari berikutnya saya bisa mendapati diri saya ada di kawasan elit dan melakukan perbincangan dengan tokoh-tokoh penting ibukota. Organisasi yang membuat saya bisa ikut penelitian ke daerah-daerah, penjara, hingga sekadar diskusi santai atau membaca puisi di halaman kampus. Anak tadi teman satu organisasi saya. Ia paham.
Hal ini ditunjang dengan besarnya range acara di UI dan Jakarta. Kalau bosan, saya tinggal mampir ke fakultas lain: ikut kelas bahasa isyarat, sharing dari penyintas 65, ceramah seksualitas, atau kadang-kadang kajian agama Islam. Beberapa kali, ketika saya agak spontan, saya pergi ke luar kota bersama rombongan asing yang saya tahu di internet (tentu setelah melalui riset apakah mereka bisa dipercaya haha). Rasa-rasanya nyaris tidak ada hari yang hambar.
Memangnya teater, museum, atau pameran bisa bikin hidup tidak stagnan? Untuk sekarang, saya masih menganggap hal-hal itu adalah self-healing paling ampuh di tengah keterbatasan *apose din* Ada ide baru yang saya tangkap, konsep yang saya lihat, pengalaman yang saya rasakan.
Dan.
Belum lagi harapan orang-orang yang terlibat di dalamnya. Zaman sekarang, teater-museum-pameran, sulit menghasilkan kalau hanya menjadi biasa-biasa aja.
Jumat, 28 Oktober 2016
Target tahun depan: Traveling ke Aussie sendirian. Saya selalu ingin ke Australia, tapi sendiri saja. Menyusuri pantai Bondi, menunggu matahari terbenam, tersesat di jalan, menetap sebentar di penginapan murah, menyesap es krim Aqua S yang terkenal itu, dan kalau beruntung membawa pulang kue-kue Katherine Sabbath.
Kamis, 30 Juni 2016
Jakarta At Its Finest
Aku jatuh cinta dengan Jakarta, karena kamu juga ada disana.
Kerlap-kerlip lampunya, bising jalanannya walau saat malam,
patung-patung dan taman tidak terawatnya begitu menggoda untuk
dijelajahi, untuk disetubuhi.
Hingga pagi kita beredar, sekadar mencari sudut yang masih berpendar. Kita susuri tiap jengkal. Pengamen jalanan, pedagang sayuran, mereka kalah kalong! Jiwamu tentu lebih petualang. Ajaibnya kamu, kota yang selalu kucaci kau sulap jadi tempat yang takkan bisa kubenci.
Suatu ketika kau bilang, “Monas adalah api yang tak pernah menyala, tapi selalu membara.” Atau “Kau lihat pelacur itu? Ia adalah ibunya ibu kota.” Dan “Pria Pancoran mirip tahanan perang, asal menunjuk orang, dipaksa bertahan.”
Jakarta at its finest - You gave me the best and rarest view. And I think, that’s why I love you.
Hingga pagi kita beredar, sekadar mencari sudut yang masih berpendar. Kita susuri tiap jengkal. Pengamen jalanan, pedagang sayuran, mereka kalah kalong! Jiwamu tentu lebih petualang. Ajaibnya kamu, kota yang selalu kucaci kau sulap jadi tempat yang takkan bisa kubenci.
Suatu ketika kau bilang, “Monas adalah api yang tak pernah menyala, tapi selalu membara.” Atau “Kau lihat pelacur itu? Ia adalah ibunya ibu kota.” Dan “Pria Pancoran mirip tahanan perang, asal menunjuk orang, dipaksa bertahan.”
Jakarta at its finest - You gave me the best and rarest view. And I think, that’s why I love you.
Jumat, 20 Mei 2016
Mungkin bagimu ini bukanlah rindu, yang tak perlu aku rasakan.
Dan bagiku ini hanyalah rindu, yang tak perlu dibesar-besarkan.
Katamu gadis sepertiku terlalu banyak pertimbangan.
Dan bagiku lelaki sepertimu terlalu banyak alasan.
Dilihat darimana pun kita tak seharusnya bertemu.
Nyatanya bayangmu selalu bertamu.
Kepalaku penuh kenangan tentangmu.
Rasanya.... rindu.
(Pictures taken at Pameran Bersama Patung Kontemporer Kait Kelindan Salihara)
Dan bagiku lelaki sepertimu terlalu banyak alasan.
Dilihat darimana pun kita tak seharusnya bertemu.
Nyatanya bayangmu selalu bertamu.
Kepalaku penuh kenangan tentangmu.
Rasanya.... rindu.
(Pictures taken at Pameran Bersama Patung Kontemporer Kait Kelindan Salihara)
Kamis, 12 Mei 2016
Hari Kunjungan
"Time you enjoy wasting was not wasted." - Marthe Troly-Curtin
Basically I am your average shy and awkward girl, entah sama teman, entah sama keluarga. Tapi, akhir-akhir ini itu berubah: setidaknya saya mencoba berubah. Dari mama, saya diwariskan bakat alamiah untuk mengingat hidup dari yang baik-baik saja. Tapi, jika ada satu hal yang paling saya sesali, itu adalah tidak ada untuk kakek ketika kakek masih sehat, padahal saya tahu kondisi fisik kakek bisa memburuk kapan saja.
Saya gamau menyesal lebih jauh lagi.
Sebisa mungkin saya sering berkunjung ke rumah kakek, mengajaknya bercerita tentang apa saja, termasuk hal-hal paling sepele. Kakek sudah sulit untuk merespon. Tapi paling tidak saya tahu kakek masih mengerti. Paling tidak kakek sekarang mulai mengenali saya.
Saya gamau menyesal untuk alasan yang sama lagi, dengan orang lain.
Beberapa hari kemarin saya berkunjung ke teman-teman yang saya temui ketika umroh. Hal yang tidak akan dilakukan Dina yang dulu. Rasanya asing, tapi begitu menyenangkan. Banyak cerita, banyak pelajaran, juga banyak hadiah hahaha.
Kenapa saya tidak melakukannya dari dulu, ya?
Saya harap siapapun yang membaca ini tidak harus menunggu lama seperti saya. Karena jarum jam berputar ke kanan, bukan arah yang berlawanan. Yuk kita sama-sama mencoba lebih keras untuk mendekatkan diri sama orang-orang tersayang, mumpung masih bisa.
Sabtu, 30 April 2016
Bintang di Langit Kedelapan
Kata Tuhan, langit punya tujuh lapisan. Tapi Nyla, ingin hidup di lapisan kedelapan. Mustahil. Menurutnya masih muskil.Malam itu, seperti malam lainnya, bintang berpendar. Malam itu, seperti malam lainnya, Nyla nihil kabar. Gadis itu sering diumpamakan gerimis sederhana: menyembunyikan badai di dalamnya. Kau tak pernah tahu Nyla, bahkan jika kau pikir kau mengenalnya. Kau tak akan pernah paham Nyla, bahkan jika kau kira kau mengerti dirinya. Nyla penuh misteri. Nyla adalah rahasia itu sendiri.
Gadis-gadis berjejer di jalan. Ada satu yang ingin pulang. Ada satu yang tak bisa pulang. Nyla adalah keduanya. Nyla pertaruhkan segalanya. Lalu satu dan satu, perlahan dengan pasti, Nyla kehilangan semuanya. Dan seiring dengan doa-doa yang dikumandangkan dalam diam, juga dentang-dentang bel yang menentang kesunyian, seorang menunggu keajaiban datang. Hilang. Hilang.
Kamis, 28 April 2016
Portrait
"Memangnya tulisanku begitu mengharukan ya? Kenapa dia sampai menangis sesegukan?"
"Sssh gadis itu sedang patah hati. Lawakan paling lucu di dunia pun akan ditertawakannya dengan air mata sedih."
"Kenapa bisa?"
"Ia baru saja kehilangan sesuatu yang berharga."
"Dan apa itu?"
"Dirinya sendiri."
Sabtu, 23 April 2016
LOVE
You might miss the gold, seeking for glitter.
For boys only know how to say sweet words. And girls learn to believe it.
For boys learn to tease. And girls learn to please.
O dear fragile heart, why did you take chances and then getting crushed into pieces?
Selasa, 19 April 2016
Turkey - Medina - Mecca: Perjalanan Hati
It's been like forever *lebay* since I didn't do blogging, esp curhat colongan. But this one is truly worth posting.
---
Hidup ini baik sebagaimana adanya, kalau kita sebagaimana apanya. Funny how suddenly my path aligned with 160++ people. Di suatu hari kamu hanyalah kamu yang belum mengenal si A, B, dan C. Dan booom dalam hitungan detik kalian bertemu, dan kisah manis di perjalananmu bertambah.
Setelah semua trip random dan super menyesatkan *haha* bersama mama, untuk pertama kalinya saya ikut tour ke LN. Tinggal duduk anteng dalam bus diajak keliling-keliling, diurusin makan, dikasih tempat tinggal. Awalnya saya pikir itu akan menjadi perjalanan yang hambar. Ga disangka, it turned out to be supeeerrrr fuuuunnnn. Kebanyakan pesertanya adalah pengajar dan pendidik yang sampai sekarang masih saya anggap pekerjaan paling mulia di dunia. Orang-orangnya asik, teman-teman sekamar saya nyablak-nyablak yang bikin ketawa ga berenti bahkan sampe saya jatoh ke lantai *ini serius*. Kita bikin jemuran dadakan, nari, nyanyi, dan ehem nangis bareng.
Saya jadi mengenal lebih banyak ragam manusia. Saya jadi mengerti lebih banyak kisah: diajarkan untuk lebih peka dan ga judgmental, because you'll never know. Rasa-rasanya I want to freeze those moments forever. Tiap harinya membuat saya bersyukur. I'm thanking God for this life: untuk orangtua yang baiknya udah kayak malaikat, untuk adik-adik yang lucu, untuk mereka yang datang dan tinggal, untuk segala hal.
Well, saya ga pernah fasih kalo soal curhat-curhatan hahaha. Yang jelas semoga tersampaikan kalau perjalanan kali ini akan jadi salah satu pengalaman yang paling berkesan di hidup saya. Terima kasih mama dan papa atas kesempatannya ❤
---
Hidup ini baik sebagaimana adanya, kalau kita sebagaimana apanya. Funny how suddenly my path aligned with 160++ people. Di suatu hari kamu hanyalah kamu yang belum mengenal si A, B, dan C. Dan booom dalam hitungan detik kalian bertemu, dan kisah manis di perjalananmu bertambah.
Setelah semua trip random dan super menyesatkan *haha* bersama mama, untuk pertama kalinya saya ikut tour ke LN. Tinggal duduk anteng dalam bus diajak keliling-keliling, diurusin makan, dikasih tempat tinggal. Awalnya saya pikir itu akan menjadi perjalanan yang hambar. Ga disangka, it turned out to be supeeerrrr fuuuunnnn. Kebanyakan pesertanya adalah pengajar dan pendidik yang sampai sekarang masih saya anggap pekerjaan paling mulia di dunia. Orang-orangnya asik, teman-teman sekamar saya nyablak-nyablak yang bikin ketawa ga berenti bahkan sampe saya jatoh ke lantai *ini serius*. Kita bikin jemuran dadakan, nari, nyanyi, dan ehem nangis bareng.
Saya jadi mengenal lebih banyak ragam manusia. Saya jadi mengerti lebih banyak kisah: diajarkan untuk lebih peka dan ga judgmental, because you'll never know. Rasa-rasanya I want to freeze those moments forever. Tiap harinya membuat saya bersyukur. I'm thanking God for this life: untuk orangtua yang baiknya udah kayak malaikat, untuk adik-adik yang lucu, untuk mereka yang datang dan tinggal, untuk segala hal.
Well, saya ga pernah fasih kalo soal curhat-curhatan hahaha. Yang jelas semoga tersampaikan kalau perjalanan kali ini akan jadi salah satu pengalaman yang paling berkesan di hidup saya. Terima kasih mama dan papa atas kesempatannya ❤
Langganan:
Komentar (Atom)


