Hai namaku Wo Ca Li. Kata kakek artinya keberuntungan dalam
bahasa Tagalog. Waktu kecil aku percaya saja dan suka memamerkan arti namaku ke
orang-orang. Apalagi, saat sedang mendapat keberuntungan. Baru setelah sedikit
dewasa aku tahu kakek bohong. Entah diambil darimana Wo Ca Li itu. Apa mungkin
jika ditanya orang Cina tinggal bilang Wo Ca Li saja ya, yang berarti saya Ca
Li. Tapi namaku bukan hanya Ca Li. Entahlah. Semakin kupikiran semakin terasa
janggal.
Aku tinggal di Houtan, wilayah bagian selatan Viet. Dulu
kata ibuku, kota Viet tidaklah seperti sekarang. Banyak sekali pepohonan, itu loh sesuatu dengan kayu yang punya daun
dan bisa hidup! Bayangkan, kayu hidup! Ah
aneh sekali bukan. Awalnya aku tidak percaya. Yang kutahu kayu hanya bahan
untuk membuat rumah. Seperti rumah kami yang terbuat dari kayu, seperti rumah
kakek Ca di seberang, rumah Ni, temanku, serta rumah semua orang di sekitarku. Dan
rumah kami semua tidak hidup. Tidak pernah suatu pagi aku menemukan rumahku
bertambah besar. Padahal akan menyenangkan jika rumahku bisa tumbuh setiap
hari.
Kata ibu juga, dulu semua orang bisa tinggal di daratan,
tidak perlu tidur di perahu seperti sekarang. Hebat sekali! Di zamanku, hanya
orang-orang kaya dan bangsawan yang boleh membangun rumah di darat. Sebenarnya
orang di desa kami bisa saja, asal sanggup membayar pajak yang tinggi serta mau
dikenakan pajak tambahan, “rakyat jelata tinggal di tanah”, begitu orang
daratan menyebutnya. Tapi 12 tahun aku hidup, belum pernah mendengar cerita
orang desa air yang hijrah ke darat, kecuali gadis-gadis cantik yang dijadikan
pelayan di rumah raja.
Pernah suatu hari, aku membuka buku yang dibawa Ayah pulang
dari desa seberang, ada gambar anak laki dengan sesuatu yang bisa terbang.
Ketika kutanya itu binatang apa, Ayah tertawa terbahak, dan menjawab layangan.
Ayahnya ayah suka memainkan itu waktu masih muda. Layangan, ah indah sekali
layangan ini. Berhari-hari aku menatap gambar di buku itu. Tapi sayang, aku
tidak akan pernah bisa memainkannya, butuh tanah luas.
Hidup di desaku cukup menyenangkan. Semua orang ramah. Di
pagi hari, akan terdengar suara berisik orang-orang yang mulai menjual-belikan
dagangan, entah ikan, atau sayur yang diantar seminggu sekali dari darat. Tapi,
aku tidak suka sayur. Jadi kubilang ibu jangan pernah membeli sayur lagi.
Rasanya aneh. Kata kakakku yang kerja di pabrik, sayur-sayur kaleng itu dibuat
dengan teknologi tinggi. Huh tidak peduli, rasanya tetap tidak enak, seperti
serbuk kapur yang hari itu tidak sengaja masuk ke mulutku.
Tiap pagi juga, di rumahku, akan terdengar suara gemerisik
penyaringan air ibu. Ibu harus bangun pagi-pagi sekali, untuk memastikan kami
semua bisa mendapatkan air bersih. Kata ibu air sungai sudah tercemar pipis-pipis
ikan. Hih! Aku suka ikan, tapi tidak sampai suka air pipisnya.
Januari minggu kedua, aku mendayung sampan ke sekolah, tidak
sengaja kulihat ada orang berpakaian rapi sekali. Dan itu loh, alas kakinya mengkilat! Oh Tuhan ternyata itu yang namanya
sepatu! Girang sekali aku dibuatnya, pasti dia adalah orang darat, baru kali
ini aku melihat langsung rupa mereka. Kata ibu Ni, orang darat harus memakai
pijakan kemana-mana, karena kaki mereka selembut bolu. Berbeda dari kaki kami
yang terbiasa kena karang.
Bodohnya aku, beberapa hari kemudian, aku tahu kedatangan
orang darat waktu itu membawa kabar buruk. Dari bisik-bisik yang kudengar,
mereka, orang darat akan hijrah ke air, dan sedang mengamati daerah-daerah yang
jarang terjadi pasang surut. Katanya desaku salah satunya. Kedalaman air kami
pas, kecepatan angin kami pas, semuanya pas. Aku tidak mengerti, tapi yang
kutahu kami memang tidak pernah terkena bahaya apa-apa. Saat hujan, perahu kami
tetap di tempat. Baru kutahu ternyata itu hal yang cukup langka.
Katanya orang darat telah kekurangan lahan membangun pabrik
baru. Dunia semakin berkembang, kota Viet harus ikut maju. Orang darat belum
mampu untuk membangun pabrik di air. Jadilah, mereka akan mengorbankan tanah
mereka untuk dijadikan pabrik baru. Dan itu berarti orang air harus ikut
mengorbankan sesuatu. Kudengar mereka yang mengorbankan rumahnya di darat, bisa
langsung mendapat setengah hak kepemilikan pabrik dan diberikan bagi hasil tiap
tahunnya. Kesal mendengarnya. Bagaimana dengan kami? Orang-orang air yang harus
mengorbankan tempat untuk orang-orang darat itu.
Ada juga yang bilang pabrik-pabrik di darat menyebabkan
polusi yang tidak baik untuk para bangsawan. Sekarang mereka sering jatuh sakit.
Kata dokter, orang darat harus mencari tempat tinggal baru, dengan udara yang
masih bersih dan alami. Asap tidak baik untuk pernapasan. Mungkin untuk
kesehatan lebih terdengar mulia, tapi tetap saja tidak sudi rumahku dirampas.
Nenek Ong yang sudah sangat tua pernah kudengar menggerutu
dengan ibu, “Dulu mereka ambil rumahku di kota. Sekarang, setelah pindah ke air
mau diambil juga. Ha mungkin liang
lahatku juga nanti akan digusur.”
Aku geli mendengarnya. Tapi kemudian menjadi sedih. Benarkah
itu? Apa nanti ketika Nenek Ong mati, kuburannya akan dibongkar karena orang
darat kekurangan tempat menyimpan jenazah keluarga mereka? Menyeramkan sekali.
Aku bergidik membayangkannya.
Jadilah aku semangat sekali membantu membuatkan bekal untuk
ayah yang akan pergi ke darat bersama lelaki-lelaki kami yang lain. Ayah dan yang
lain akan coba berunding. Aku berdoa semoga orang darat pintar sedikit. Mungkin
tidak hanya kakinya yang seperti bolu, tapi otaknya juga. Darimana mereka berpikir
kami bisa dengan mudahnya mencari tempat tinggal baru di atas air.
Ayah pergi lama sekali. Tapi ayah memang selalu pergi lama.
Hanya saja baru kali ini aku berdebar-debar menunggu kedatangannya. Ni juga.
Kakek Ca, Nenek Ong, serta orang air yang lain, tentu penasaran mendengar kabar
yang dibawa.
Menjelang petang ayah dan teman-temannya kembali, satu desa
gempita. Katanya kami tetap boleh tinggal disana. Langsung kukecup kening ayah
bahagia. Semua orang tampak lega. Ni sampai menangis menjerit.
Hanya saja, dua hari kemudian, ‘kepintaran’ orang darat
mulai terlihat. Dibawa pengumuman dari raja. Ditempel di balai desa. Isinya
mulai bulan depan, pajak desa kami dinaikkan menjadi R* 200.000 per tahun. Jantungku
hampir copot. Penghasilan ayahku saja hanya R* 2 per bulan, itupun kalau penjualan
ikan sedang bagus. Bagaimana kami bisa mendapatkan uang sebanyak itu?
Ibuku menangis semalaman. Ibu-ibu
yang lain juga.
-Dalam perjalanan kereta menuju Sa Pa, 01/14/14-
-Dalam perjalanan kereta menuju Sa Pa, 01/14/14-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar