Sabtu, 22 Maret 2014

Pajak Desa Air - Tulisan untuk Hitam Putih Merah Putih


Hai namaku Wo Ca Li. Kata kakek artinya keberuntungan dalam bahasa Tagalog. Waktu kecil aku percaya saja dan suka memamerkan arti namaku ke orang-orang. Apalagi, saat sedang mendapat keberuntungan. Baru setelah sedikit dewasa aku tahu kakek bohong. Entah diambil darimana Wo Ca Li itu. Apa mungkin jika ditanya orang Cina tinggal bilang Wo Ca Li saja ya, yang berarti saya Ca Li. Tapi namaku bukan hanya Ca Li. Entahlah. Semakin kupikiran semakin terasa janggal.

Aku tinggal di Houtan, wilayah bagian selatan Viet. Dulu kata ibuku, kota Viet tidaklah seperti sekarang. Banyak sekali pepohonan, itu loh sesuatu dengan kayu yang punya daun dan bisa hidup! Bayangkan, kayu hidup! Ah aneh sekali bukan. Awalnya aku tidak percaya. Yang kutahu kayu hanya bahan untuk membuat rumah. Seperti rumah kami yang terbuat dari kayu, seperti rumah kakek Ca di seberang, rumah Ni, temanku, serta rumah semua orang di sekitarku. Dan rumah kami semua tidak hidup. Tidak pernah suatu pagi aku menemukan rumahku bertambah besar. Padahal akan menyenangkan jika rumahku bisa tumbuh setiap hari.

Kata ibu juga, dulu semua orang bisa tinggal di daratan, tidak perlu tidur di perahu seperti sekarang. Hebat sekali! Di zamanku, hanya orang-orang kaya dan bangsawan yang boleh membangun rumah di darat. Sebenarnya orang di desa kami bisa saja, asal sanggup membayar pajak yang tinggi serta mau dikenakan pajak tambahan, “rakyat jelata tinggal di tanah”, begitu orang daratan menyebutnya. Tapi 12 tahun aku hidup, belum pernah mendengar cerita orang desa air yang hijrah ke darat, kecuali gadis-gadis cantik yang dijadikan pelayan di rumah raja.

Pernah suatu hari, aku membuka buku yang dibawa Ayah pulang dari desa seberang, ada gambar anak laki dengan sesuatu yang bisa terbang. Ketika kutanya itu binatang apa, Ayah tertawa terbahak, dan menjawab layangan. Ayahnya ayah suka memainkan itu waktu masih muda. Layangan, ah indah sekali layangan ini. Berhari-hari aku menatap gambar di buku itu. Tapi sayang, aku tidak akan pernah bisa memainkannya, butuh tanah luas.

Hidup di desaku cukup menyenangkan. Semua orang ramah. Di pagi hari, akan terdengar suara berisik orang-orang yang mulai menjual-belikan dagangan, entah ikan, atau sayur yang diantar seminggu sekali dari darat. Tapi, aku tidak suka sayur. Jadi kubilang ibu jangan pernah membeli sayur lagi. Rasanya aneh. Kata kakakku yang kerja di pabrik, sayur-sayur kaleng itu dibuat dengan teknologi tinggi. Huh tidak peduli, rasanya tetap tidak enak, seperti serbuk kapur yang hari itu tidak sengaja masuk ke mulutku.

Tiap pagi juga, di rumahku, akan terdengar suara gemerisik penyaringan air ibu. Ibu harus bangun pagi-pagi sekali, untuk memastikan kami semua bisa mendapatkan air bersih. Kata ibu air sungai sudah tercemar pipis-pipis ikan. Hih! Aku suka ikan, tapi tidak sampai suka air pipisnya.

Januari minggu kedua, aku mendayung sampan ke sekolah, tidak sengaja kulihat ada orang berpakaian rapi sekali. Dan itu loh, alas kakinya mengkilat! Oh Tuhan ternyata itu yang namanya sepatu! Girang sekali aku dibuatnya, pasti dia adalah orang darat, baru kali ini aku melihat langsung rupa mereka. Kata ibu Ni, orang darat harus memakai pijakan kemana-mana, karena kaki mereka selembut bolu. Berbeda dari kaki kami yang terbiasa kena karang.

Bodohnya aku, beberapa hari kemudian, aku tahu kedatangan orang darat waktu itu membawa kabar buruk. Dari bisik-bisik yang kudengar, mereka, orang darat akan hijrah ke air, dan sedang mengamati daerah-daerah yang jarang terjadi pasang surut. Katanya desaku salah satunya. Kedalaman air kami pas, kecepatan angin kami pas, semuanya pas. Aku tidak mengerti, tapi yang kutahu kami memang tidak pernah terkena bahaya apa-apa. Saat hujan, perahu kami tetap di tempat. Baru kutahu ternyata itu hal yang cukup langka.

Katanya orang darat telah kekurangan lahan membangun pabrik baru. Dunia semakin berkembang, kota Viet harus ikut maju. Orang darat belum mampu untuk membangun pabrik di air. Jadilah, mereka akan mengorbankan tanah mereka untuk dijadikan pabrik baru. Dan itu berarti orang air harus ikut mengorbankan sesuatu. Kudengar mereka yang mengorbankan rumahnya di darat, bisa langsung mendapat setengah hak kepemilikan pabrik dan diberikan bagi hasil tiap tahunnya. Kesal mendengarnya. Bagaimana dengan kami? Orang-orang air yang harus mengorbankan tempat untuk orang-orang darat itu.

Ada juga yang bilang pabrik-pabrik di darat menyebabkan polusi yang tidak baik untuk para bangsawan. Sekarang mereka sering jatuh sakit. Kata dokter, orang darat harus mencari tempat tinggal baru, dengan udara yang masih bersih dan alami. Asap tidak baik untuk pernapasan. Mungkin untuk kesehatan lebih terdengar mulia, tapi tetap saja tidak sudi rumahku dirampas.

Nenek Ong yang sudah sangat tua pernah kudengar menggerutu dengan ibu, “Dulu mereka ambil rumahku di kota. Sekarang, setelah pindah ke air mau diambil juga. Ha mungkin liang lahatku juga nanti akan digusur.”

Aku geli mendengarnya. Tapi kemudian menjadi sedih. Benarkah itu? Apa nanti ketika Nenek Ong mati, kuburannya akan dibongkar karena orang darat kekurangan tempat menyimpan jenazah keluarga mereka? Menyeramkan sekali. Aku bergidik membayangkannya.

Jadilah aku semangat sekali membantu membuatkan bekal untuk ayah yang akan pergi ke darat bersama lelaki-lelaki kami yang lain. Ayah dan yang lain akan coba berunding. Aku berdoa semoga orang darat pintar sedikit. Mungkin tidak hanya kakinya yang seperti bolu, tapi otaknya juga. Darimana mereka berpikir kami bisa dengan mudahnya mencari tempat tinggal baru di atas air.

Ayah pergi lama sekali. Tapi ayah memang selalu pergi lama. Hanya saja baru kali ini aku berdebar-debar menunggu kedatangannya. Ni juga. Kakek Ca, Nenek Ong, serta orang air yang lain, tentu penasaran mendengar kabar yang dibawa.

Menjelang petang ayah dan teman-temannya kembali, satu desa gempita. Katanya kami tetap boleh tinggal disana. Langsung kukecup kening ayah bahagia. Semua orang tampak lega. Ni sampai menangis menjerit.

Hanya saja, dua hari kemudian, ‘kepintaran’ orang darat mulai terlihat. Dibawa pengumuman dari raja. Ditempel di balai desa. Isinya mulai bulan depan, pajak desa kami dinaikkan menjadi R* 200.000 per tahun. Jantungku hampir copot. Penghasilan ayahku saja hanya R* 2 per bulan, itupun kalau penjualan ikan sedang bagus. Bagaimana kami bisa mendapatkan uang sebanyak itu?

Ibuku menangis semalaman. Ibu-ibu yang lain juga.


-Dalam perjalanan kereta menuju Sa Pa, 01/14/14-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar