Apakah ini
karena saya atau ras saya? Lagi-lagi tentang ras dan perspektif yang berbeda. Kita
seharusnya tidak pernah perlu mempertanyakan hal ini. Namun pada kenyataannya, ketika
orang-orang ras tertentu gagal bersaing dimana mayoritas lawannya adalah ras
lain, pemikiran-pemikiran negatif mulai bermunculan. Pernahkah Anda mengalami
hal itu? Saya pernah. Teman-teman saya pernah.
Perbedaan Itu Ada
Saya Islam dan pribumi tapi dari SMP hingga SMA saya disekolahkan di
sekolah Katolik dengan rata-rata siswa Chinese.
Mengapa? Karena di daerah saya belum banyak sekolah negeri dengan mutu
pendidikan yang berkualitas. Jadilah, saya dibesarkan di lingkungan yang tentu
saja menghargai perbedaan. Bahkan dulu hingga tamat SMA saya tidak lah sadar
bahwa saya dan mayoritas teman saya ‘berbeda’.
Kepolosan atau lebih tepatnya ketidaktahuan saya berlanjut sampai akan
mendaftar perguruan tinggi negeri. Di formulir pendaftaran SNMPTN Tulis
(namanya kala itu, red.-) peserta diwajibkan mengisi suku dan rasnya. Saya
tidak pernah berpikir buruk tentang itu, mungkin juga awalnya tidak dengan
teman-teman Chinese saya yang juga
ikut mendaftar. Namun, ketika hasil pengumuman keluar dan hanya segelitir siswa
yang diterima, apalagi di universitas negeri ternama, pendapat-pendapat negatif
mulai keluar.
Beberapa teman Chinese saya yang
tidak lolos dalam tes mulai menyalahkan pemerintah dan Indonesia, menganggap
dimana-mana sama saja, ras mereka masih di nomor duakan, bahkan dalam hal pendidikan.
Mereka mulai mengungkit fakta bahwa bahkan anak-anak olimpiade yang pasti
terbukti pintar tidak tembus universitas negeri yang dituju. Miris dan malu mendengarnya. Memangnya
kami si pribumi ini begitu jahatnya?
Tapi lama-lama ucapan-ucapan menjadi pikiran dan hampir saja menjadi ide
yang ditanamkan. Bagaimana jika itu memang benar? Saya mulai mempertanyakan hal
yang mereka bilang ketidakadilan. Kenapa di dalam formulir harus disertakan
suku dan ras, belum lagi saya mendapati fakta bahwa di beberapa instansi
pemerintah dan swasta data itu juga diminta.
Saya menanyakan hal ini kepada orangtua saya yang menjawab dengan
keheranan dan tidak tahu, saya mencari data di internet, tidak juga kunjung
ketemu, ingin menanyakan ke pejabat negeri ini langsung, tidak punya kenalan. Jadilah
sampai sekarang saya terima saja dan mencoba menyediakan jawaban positif untuk
diri sendiri seadanya.
Chinese
Juga Rasis
Pertengahan 2011 lalu, saya mengikuti tes untuk menjadi salah satu mentor
holiday camp di Lembang. Acara ini bertujuan untuk memotivasi
anak-anak sampai remaja dengan panitia penyelenggara rata-rata adalah remaja
juga dengan dibawahi langsung oleh motivator terkemuka di Indonesia, Ernest
Wong dan Tung Desem Waringin. Saya pernah menjadi peserta dan ingin sekali
bergabung kembali sebagai panitia.
Saya mengikuti rangkaian tes
yang diadakan hingga sampai pada saat harus melakukan psikotes dan wawancara.
Panitia yang mengawasi dan melakukan seleksi rata-rata berumur 20 tahun dan
semuanya adalah Chinese. Saya optimis
sekali akan diterima, rasanya semua tes sudah dilewati dengan baik. Namun,
sampai pada saat camp berlangsung
saya tidak mendapat kabar apa-apa yang mengindikasikan bahwa saya gagal.
Tentu saya kecewa, belum lagi karena sudah merasa yakin sekali akan diterima.
Pikiran-pikiran negatif mulai bermunculan. Bagaimana jika ini semua karena saya
pribumi? Bagaimana jika ini salah satu bentuk balas dendam orang-orang Chinese kepada ras yang telah memperlakukan
mereka secara tidak adil? Camp itu
memang bagus sekali namun bisa saja panitia yang notabene masih muda itu
berpihak dalam proses seleksi tanpa diketahui atasannya.
Saya lalu mulai mengingat percakapan teman-teman akuntansi saya bahwa di
salah satu Kantor Akuntan Publik Big Four
rata-rata hanyalah orang Chinese yang
diterima. Saya mengingat bahwa di salah satu kepanitiaan di fakultas saya konon
katanya ras itu yang diutamakan. Bisa saja orang-orang ini karena minoritas
saling bahu-membahu dan membantu ‘sesamanya’.
Lalu gagasan yang paling sederhana namun mendasar muncul, atau bisa saja
ini karena saya tidak kompeten. Saya mungkin memang bisa melewati tes-tes yang
diberikan dengan baik, tapi belum tentu saya yang paling baik. Saya bukan orang
dengan kepribadian yang mereka rasa cocok, saya bukanlah orang dengan pemikiran
yang kiranya bisa dibawa di camp tersebut.
Hal-hal itu mereka dapatkan di peserta-peserta lain yang kebetulan adalah Chinese. Tapi saya telah menstereotip
mereka sebagaimana kebanyakan Chinese
pesimis terhadap Indonesia dan keadilannya.
Adik saya bersekolah di tempat yang mayoritas siswanya adalah Chinese juga. Ketika akan melanjutkan ke
perguruan tinggi, rata-rata orangtua Chinese
yang mampu tidak mau menyekolahkan anak-anak mereka di perguruan tinggi negeri,
seberapa besarpun prestisenya. Mereka beranggapan bahwa anak-anaknya akan
diperlakukan berbeda.
Namun, ada juga siswa yang tetap mencoba perguruan tinggi negeri. Kejadian
saya saat SMA dulu terulang. Ada satu siswa Chinese yang mencoba dan gagal mulai menyalahkan Indonesia dan
sistem pemerintahannya dengan marah yang serius. Ia mencaci maki Indonesia dan
semua pribumi tanpa henti selama beberapa hari melalui media sosial. Jika yang
tidak kenal dia mungkin akan percaya bahwa telah terjadi ketidakadilan. Tapi,
berdasarkan cerita adik saya, temannya memang biasa saja. Lumayan pintar tapi
tidak spesial.
Jangan Bangun Stereotip
Ketika manusia gagal, apalagi saat sudah merasa yakin pada diri sendiri,
manusia cenderung mencari pembelaan diri. Mencari kesalahan faktor X diluar
kontrolnya yang dirasa menyebabkan terjadinya perlakuan berbeda. Tidak bisa
disalahkan sepenuhnya karena ini adalah bentuk perlindungan, membentuk kenyamanan
pribadi.
Sayang sekali di Indonesia, inkompetensi masih bisa dihubungkan dengan
identitas diri, dalam konteks yang saya bahas, ras. Ketika Anda mendaftar
perguruan tinggi, melamar pekerjaan, bergabung di instansi, dan lain-lain, Anda
tidak selamanya berhasil. Lalu ketika teman, keluarga, orang-orang terdekat
menanyakan alasannya, cukup dengan menjawab ras saya berbeda, mereka akan
mengerti, seolah itu wajar sekali terjadi. Umur kemerdekaan kita sudah 68
tahun, tapi keadilan bukan konsumsi publik seakan dipahami semua orang.
‘Karena mereka lebih memilih pribumi,’ ‘Saya bukan orang Chinese,’ dan
beragam alasan lainnya yang intinya mengarah ke hal yang sama, ‘Saya ditolak
karena ras saya.’ Mungkin Anda memang ditolak karena mata Anda sipit, mungkin juga
karena kulit Anda cokelat. Tapi, tidakkah kita selalu dan terlalu melebihkan?
Bisa saja semata-mata alasannya karena Anda tidak punya kompetensi.
Inilah masalah kita, dari generasi ke generasi ditanamkan pemikiran yang
salah. Orangtua saya rasis, orangtua teman-teman saya yang Chinese rasis karena diperlakukan dengan rasis, anak-anak mereka,
baik pribumi maupun Chinese,
kebanyakan jadi rasis, meperlakukan satu sama lain dengan rasis. Lingkaran
setan yang sesegera mungkin harus dihentikan.
Kita harus menerima bahwa perbedaan ras itu ada dan mengertilah bahwa tidak
ada yang salah dengan hal ini, tidak ada yang perlu diubah, tidak ada yang
harus diperlakukan berbeda, Kemampuan seseorang tidak ditentukan oleh rasnya. Jangan
bangun stereotip, bahkan yang positif sekalipun. Jangan mengait-ngaitkan sifat
seseorang dengan jati diri yang dibawanya sejak lahir.
“Orang Chinese itu ulet.” Memangnya tidak ada pribumi yang ulet?
“Kenapa Anda
memilih saya untuk projek ini? Karena klien kita juga Cina?” Bukan. Anda
dipilih karena Anda memiliki kompetensi. Cukup.
“Jangan mencontoh pribumi, mereka malas.” Memangnya semua orang Chinese itu rajin?
Dan banyak sekali kalimat-kalimat lain yang sering kita dengar di
masyarakat kita atau bahkan kita lontarkan begitu saja. Hentikan kebiasaan ini.
Pujian tidak selamanya adalah pujian. Mulai tanamkan pikiran kegagalan Anda
tidak ada hubungannya dengan ras Anda, begitu pula keberhasilan Anda. Jikapun ternyata hal itu berhubungan,
jangan pernah biarkan gagasan ini menguasai Anda. Jaga diri Anda, ingatkan
lingkungan Anda, beri inspirasi kepada generasi di bawah Anda. Kita selalu
punya harapan. Indonesia selalu
punya harapan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar