Aku datang dalam bayang kunang-kunang. Kau hilang serupa pendar malam.
Di anggur yang kau minum, telah kumasukkan racun. Mematikan tapi tak membuatmu binasa. Di roti yang kau makan, telah kumasukkan bisa. Tenang, hanya akan membuatmu gila. Di sirup yang kau serup, telah kumasukkan sumpah. Pun kuludahi ranjangmu. Kukutuk jubah barumu. Kau ada. Tapi tak ada.
Di taman bungamu, kuternak hama. Di lemari kesayanganmu, kusimpan senjata, kalau-kalau kau tertarik mengakhiri hidupmu. Di langkahmu, kutenun kutukan. Entah kau dengar atau tidak, aku datang, kawan. Lawan! Oh, kau masih tak mampu.
Masihkah lidahmu tajam? Mulutmu lebar? Kau tak bisa sombong sekarang, bukan? Kenapa kau diam? Dulu suaramu paling lantang. Manusia lemah dan tanpa daya, apa yang kau cari? Manusia lemah dan penuh dengki, apa yang kau cari? Semua ada di sini. Semua hilang di sini. Rehat lah. Kau tampak lelah.
Dengar, ini kisah pilu diberi nyanyian rindu. Amboi. Gampang sekali menipu. Gampang sekali ditipu.
Tertipu!
Sudah kau diam saja.
Senin, 20 April 2015
Minggu, 19 April 2015
Lusa Kami Pulang
Ibu, aku jatuh cinta. Sayang, tak seindah yang kukira.Keluargaku seumpama cemara abadi, bertahan di empat musim, tangguh di empat iklim. Tak banyak yang mengerti kami pun tak banyak yang kami mengerti. Layaknya hidup. Layaknya mati. Tiap malam kami bercengkrama. Tiap pagi kami saling lupa. Kami berbaur, namun tak melebur. Kami berbeda. Kami sama. Saling silang. Saling menghilang.
Kakak, aku ingin membeli sayap. Yang paling putih, besar, dan lebar.
Adik, kau mau ikut terbang? Kutunjukkan padamu dunia dari langit.
Ayah, tangkap aku ketika lelah, ya?
Kau tahu, tidak mudah menjadi kami. Pun itu adalah hal termudah yang kami jalani. Tidak gampang menjadi diri sendiri, makin sulit tuk bersandiwara. Pernah kucoba sekali. Diberi jiwa tapi merasa tak punya. Hidup hanya untuk tidak mati. Mati hanya untuk tidak hidup. Gila! Hanya sekali itu orang menganggapku waras.
Saat pagi menjelang dan malam menghilang, senyap datang. Percakapan basa-basi di jalan. Basi! Ramai tapi sepi. Sepi nyatanya ramai. "Kau tahu, apa itu keluarga? Aku rasa mereka yang menerimamu apa adanya. Mereka yang membentukmu jadi sebagaimana adanya."
Basi! Sudah kubilang hanya basa-basi.
Tapi sepi.
Ramai tapi sepi.
Sabtu, 18 April 2015
-Ti-Tik-
Dalam sepenggal lirik pagi, embun berpuisi, "Matahari yang indah, bersinar secerah yang kau bisa. Di sini aku menantimu, walau kau kan buatku binasa. Manusia yang angkuh, kau bebas mengagumiku."
Wajah lelah. Mata penuh luka. Nona, kau lupa tidak semua manusia punya hidup yang sama. Buatmu, hidup itu mudah. Buatku, lain lagi adanya. Nona, kau lupa, cerita tidak hanya seputar cinta pun kehilangan. Kisahku tentang bertahan. Kisahmu tentang tak dipermalukan. Nona, kau punya pilihan. Beribu banyaknya semau yang kau mau. Kenapa kau masih disini?
Tuan, bisakah kau hentikan waktu? Sekejap. Sebentar. Tuan, apa kau bisa mendongeng? Aku sedang ingin terlelap. Tuan, apa manusia diberi hati berbeda satu dan lainnya? Mengapa punyaku begitu lemah, sedang engkau segagah baja. Jiwa lelah. Senyap penuh luka. Kenapa aku tetap disini?
Jumat, 17 April 2015
Biya.
Biya. Namamu sederhana. Mudah dilafalkan. Enak didengar.
Biya. Aku datang. Kini telah pulang. Apakah kau masih disana?
Biya. Masihkah kau ingat padaku? Apakah bagimu aku ada?
Biya. Bagaimana kabarmu? Oh ya, kau makin pandai bicara?
Biya. Aku rindu tingkah lucumu. Jangan takut padaku, ya?
Biya. Maaf.
Biya, ini ayah.
Biya. Aku datang. Kini telah pulang. Apakah kau masih disana?
Biya. Masihkah kau ingat padaku? Apakah bagimu aku ada?
Biya. Bagaimana kabarmu? Oh ya, kau makin pandai bicara?
Biya. Aku rindu tingkah lucumu. Jangan takut padaku, ya?
Biya. Maaf.
Biya, ini ayah.
Alun-Alun Waktu
Jam dinding diam, sekelilingnya berputar. Tetes air
terdengar. Gadis itu ingin menutup mata, juga telinga, apa daya tangannya kaku.
Tangan lain menjamah. Hatinya beku. Seumur hidup ia kira manusia baik semua.
Ternyata ada maunya. Sepanjang usia ia kira tiap jiwa tanpa pamrih. Ia harus
membayar mahal. Harga dirinya murah.
Jam dinding berputar, sekelilingnya diam. Ia kembali ke masa
lalu. Saat roti enak dan selimut tebal ada untuknya tiap malam. Kini yang
datang mereka yang tak diharapkan. Ia teringat ibunya, mencoba melupakan
abangnya. Ia akan selalu merengek meminta disenandungkan nyanyian merdu ibunya.
Ia akan selalu merengek, hanya lagu pilu. Ia berkelana ke masa depan.
Terhempas. Ia di masa sekarang. Dingin.
Langganan:
Komentar (Atom)