Minggu, 19 April 2015

Lusa Kami Pulang

Ibu, aku jatuh cinta. Sayang, tak seindah yang kukira.
Kakak, aku ingin membeli sayap. Yang paling putih, besar, dan lebar.
Adik, kau mau ikut terbang? Kutunjukkan padamu dunia dari langit.
Ayah, tangkap aku ketika lelah, ya?
Keluargaku seumpama cemara abadi, bertahan di empat musim, tangguh di empat iklim. Tak banyak yang mengerti kami pun tak banyak yang kami mengerti. Layaknya hidup. Layaknya mati. Tiap malam kami bercengkrama. Tiap pagi kami saling lupa. Kami berbaur, namun tak melebur. Kami berbeda. Kami sama. Saling silang. Saling menghilang.

Kau tahu, tidak mudah menjadi kami. Pun itu adalah hal termudah yang kami jalani. Tidak gampang menjadi diri sendiri, makin sulit tuk bersandiwara. Pernah kucoba sekali. Diberi jiwa tapi merasa tak punya. Hidup hanya untuk tidak mati. Mati hanya untuk tidak hidup. Gila! Hanya sekali itu orang menganggapku waras.

Saat pagi menjelang dan malam menghilang, senyap datang. Percakapan basa-basi di jalan. Basi! Ramai tapi sepi. Sepi nyatanya ramai. "Kau tahu, apa itu keluarga? Aku rasa mereka yang menerimamu apa adanya. Mereka yang membentukmu jadi sebagaimana adanya."

Basi! Sudah kubilang hanya basa-basi.

Tapi sepi.

Ramai tapi sepi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar