Jam dinding diam, sekelilingnya berputar. Tetes air
terdengar. Gadis itu ingin menutup mata, juga telinga, apa daya tangannya kaku.
Tangan lain menjamah. Hatinya beku. Seumur hidup ia kira manusia baik semua.
Ternyata ada maunya. Sepanjang usia ia kira tiap jiwa tanpa pamrih. Ia harus
membayar mahal. Harga dirinya murah.
Jam dinding berputar, sekelilingnya diam. Ia kembali ke masa
lalu. Saat roti enak dan selimut tebal ada untuknya tiap malam. Kini yang
datang mereka yang tak diharapkan. Ia teringat ibunya, mencoba melupakan
abangnya. Ia akan selalu merengek meminta disenandungkan nyanyian merdu ibunya.
Ia akan selalu merengek, hanya lagu pilu. Ia berkelana ke masa depan.
Terhempas. Ia di masa sekarang. Dingin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar