Rabu, 29 Oktober 2014

KK


Malam itu saya dan beberapa teman pulang bareng, lewat jalan teknik ke kutek. Tiba-tiba kita menjerit di waktu yang hampir bersamaan, alasannya di tengah jalan ada bangkai kucing, baru saja tertabrak. 

Saya lalu kembali ke BOE, mengambil koran untuk memindahkan bangkainya dan sekalian menutupinya sampai besok dikubur sama pak satpam. Saat memindahkannya berdua Lita, rasa-rasanya saya mau menangis. It’s so soft…. yet so cold. It reminds me how fragile life could be.

Besoknya, kucing itu masih disana. Masih terbungkus koran, hanya saja sudah dikerubuni lalat. Apa pak satpam belum melihatnya ya?

Besoknya lagi, saat saya sedang terburu-buru mengejar kelas Mejik dan pusing memikirkan tugas Forensik, saya terhenti di jalan sambungan itu dan hampir menangis, lagi. Belum ada juga yang mengubur kucing ini. And that reminds me how ignorant men can be.

Alhasil, sesaat setelah kelas Mejik selesai, saya langsung mencari Fahmy dan minta tolong mengubur kucing itu. Oleh Fahmy, saya diajak ke tempat bapak-bapak  audit nongkrong. Disitu saya dan Intan akhirnya meminta bantuan Pak Martha.

Saya jadi teringat manusia dan novel Gone With The Wind. Ada kisah seorang ibu yang selalu menguburkan mayat-mayat tentara musuh, dengan harapan jika nanti anaknya mati di medang perang yang antah berantah, ada seorang baik yang mau mengurus mayat anaknya. Lalu saya jadi berandai, bagaimana ya jika saya atau keluarga saya mati di tempat jauh yang asing, apakah ada yang peduli atau mayat saya, seperti kucing tadi, hanya dibiarkan di jalan berhari-hari?

Minggu, 26 Oktober 2014

Percakapan Toko Kelontong

"Kamu tinggal di kardus berapa?"
"Oh di kardus nomor 3."

Ucap sebungkus camilan ke teman barunya.

Teater Papan

Jika langit tak mencintai matahari, maka bulan tak akan iri.
Dan bumi tak akan memiliki pagi yang lebih lama, lebih indah. 

Waktu selalu berputar, hidup cuma sebentar.
Apakah kau akan tetap tinggal? Tidakkah mereka mendengarkan?
Hatiku makin lapang, tanahku makin gersang.
Tuhan, apakah ini benar?

Anak menangis diseberang jalan.
Wanita mengaduh kesakitan.
Para ayah lalu kehilangan.
Ada dunia yang dipermainkan, keadilan lantas digadaikan.

Cinta ditulis, sedih dilukis.
Ada tokoh yang ditunggu, ada sosok yang menganggu.
Teman, apakah nyaman tetap temanmu?
Karena di kisahku, ia menghilang.

Gelas kaca berdentingan, silau kelap-kelip lampu kristal.
Ada pesta dansa, ada tarian penuh luka.
Nyanyian pilu ibu-ibu membahana, kalahkan seriosa gereja.
Hawa ketakutan, Adam lantas diam.

Hujan tak turun juga, perih singgah selamanya.
Harpa dibakar, suara dibungkam.
Lihat, disana mereka! Para wajah ketakutan.
Tuhan, tidakkah Kau punya kebenaran?

Bumi bergidik, langit menggeleng pelan.

Untuk Tuan Disana, dari Nona yang Sama

Tuan, apakah kita telah selesai? Atau memang tak pernah benar-benar memulai? Membingungkan bagaimana kisah yang berawal dengan indah bisa ditutup dengan pilu, atau setidaknya bagi diriku.

Siapa sangka sebuah pilihan yang ditentukan kata "ya" dan "tidak" bisa sangat menentukan jalan bagi kita semua, bahkan setelah bertahun-tahun kemudian. Tidak ada yang terjadi akibat kebetulan. Awalnya kupikir kalimat itu bercanda, tapi kini makin kutahu kebenaran tak kenal main-main.

Apa kabar dirimu disana? Apakah kamu tetap baik-baik saja? Misalnya kamu bertanya, aku disini sudah tidak apa-apa. Siapa sangka, awalnya yang kupikir hidup tidak akan pernah sama, memang ternyata menjadi lebih indah.

Kupikir hati dan jiwaku telah mati rasa, kupikir caraku memandang dunia akan berubah. Ternyata tuan, di sepanjang jalan, aku bertemu teman-teman baru, walau kuakui tidak ada yang se enerjik dirimu. Namun tuan, berkat mereka, aku punya kisah kemenanganku. Aku kini bahagia, jauh lebih bahagia daripada saat kita bersama.

Apakah kamu sedikit lebih lega mendengarnya? Atau seperti dulu, kekecewaanku kau tanggapi sambil lalu. Tidak masalah, entah orang seperti apa tuan sekarang, aku tetap nona yang sama. Jika bertemu, aku akan tetap menyapamu, aku akan tetap bersikap sebaik yang aku mampu. Namun kali ini, hatiku telah bebas. Rasaku telah lepas.

Jumat, 24 Oktober 2014

Kamis, 23 Oktober 2014

Cerita Senja

Sore di saat daun-daun berguguran dan musim semi tidak segera datang, kita bercerita.

"Apa sih yang kamu suka dari aku?"

"Hmmm.... apa ya? Kok pertanyaanmu sulit," ujarmu tertawa. Tinggal aku yang misuh-misuh.

"Jangan lekas marah. Kamu kan memang tidak bisa-bisa apa." Makin sebal aku mendengarnya.

"Ini ya sayang. Aku paling suka kalau kamu menginjak bagian belakang sepatumu."

"Ha?"

"Iya, saat kamu terburu-buru dan bahkan tidak sempat memakai seluruh bagian sepatu."

"Huh masa itu sih."

"Ini ada lagi. Aku suka kamu yang selalu memotong kuku kependekan dan meratapi kukumu yang baru."

"Iiihhh kok yang itu sih."

"Aku suka nyanyianmu yang tidak pernah berirama. Aku suka saat kamu berpoles lipstik cantik. Aku suka saat kamu serampangan. Aku suka idemu yang sembarangan. Aku suka seleramu yang sebenarnya kampung. Aku suka caramu marah. Aku suka caramu tertawa. Ya intinya aku suka kamu apa adanya."

"Gombal!!!" Tapi, lantas aku diam.

Senin, 20 Oktober 2014

Nebula

Ada keyakinan yang diragukan. Ada percaya yang dipertaruhkan. Ada cinta yang pelan-pelan enyah. Ada cinta yang pelan-pelan kembali. Ada benci yang mulai layu. Ada benci yang mulai tumbuh. Selalu ada bidadari yang paling sabar. Selalu ada pangeran yang tidak sadar.

Ada rasa yang diam-diam sembunyi disana. Ada kenangan yang menunggu untuk dikenang. Ada kenangan yang harus dilupakan. Ada sesal yang tak sempat diutarakan. Ada memori yang menjadi pelajaran. Selalu ada orang kesepian. Selalu ada niatan nakal.

Ada kisah yang tidak adil. Ada angan yang tidak selesai. Ada impian yang berganti haluan. Ada hati yang rela menunggu tiada pamrih. Ada hati yang pergi tanpa ingin kembali. Selalu ada hati yang kelelahan, lelah menunggu dan lelah pergi.

Ada angin yang kesakitan. Ada awan yang selalu hitam. Ada bunga yang tetap disimpan. Ada hadiah yang lantas dibuang. Ada manis yang berasa hambar. Ada sakit yang menjadi candu. Selalu ada tatapan paling kejam. Selalu ada tangan yang menghangatkan.

Ada pagi yang tidak ramah. Ada malam yang menguji jiwa. Ada garis yang selalu berputar. Ada senyum yang mendebarkan. Ada rasa yang samar. Ada amarah yang sendirian. Selalu ada kesedihan. Selalu ada mereka yang membuat tenang.

Ada langit yang menyebalkan. Ada hujan yang tak pernah datang. Ada melodi yang disenandungkan. Ada janji yang kini tak bertuan. Ada tangis yang mulai hilang. Ada bahagia yang tak bisa diam.

Dan kita, selalu ada diantara semua ada.

Jika Kata

Lebih hebat mana, kisah yang timbul karena magisnya jatuh cinta atau menawannya patah hati?

Minggu, 19 Oktober 2014

17


Sering aku terhenti di persimpangan, tergelitik untuk melihat ke belakang. Kadang aku diam di ambang jalan, menolak melihat masa sekarang. Sayup bisik-bisik menghajar telinga, menusuk mata, menghantam hati. Ngilu. Perih. Lalu aku terselimuti hangat. Jiwanya melindungi, tak tega lihat aku hampir gila. Mungkin ini yang mereka sebut percaya. Tertatih-tatih aku mulai pulih, kembali berjalan walau tidak sebentar. Mungkin ini yang namanya usaha.

Jumat, 17 Oktober 2014

Tentang


Lalu kau pelan-pelan datang. Mengubah sudut pandang ia yang mulai sinis kepada dunia. Lalu kau ajari ia bahagia, sering membuatnya tertawa. Lalu pelan-pelan ia belajar cinta. Lalu ia menerima, mencari cara pula agar selalu diterima. Kadang membuat kesal, tapi diam-diam ingin cari perhatian, ingin selalu disayang. Sayang, sampai kapan kau akan maklum? Kalau menangis ingin selalu dikejar, kalau salah selalu kau yang ia salahkan. Pacarmu kekanakkan, untung kau orang yang sabar :-)

Kamis, 02 Oktober 2014

Twitted

Aneh ga sih baru di (menjelang) semester akhir ini punya sedikit rasa sama akuntansi. Anehnya lagi suka itu dateng dari kelas yang paling dibenci. Belum pernah selama kuliah ada kelas yang jadi momok banget. H-2 udah galau ga jelas. Tiap minggu kayak gitu.

Aneh ga sih dulu takut banget sama sesuatu, sekarang itu bukan apa-apa. Aneh juga gimana kamu pernah care banget sama sesuatu, sekarang itu juga bukan menjadi apa-apa. Cukup aneh dulu pernah muak banget sama sesuatu, sekarang bahkan merasa itu lucu.

Tapi dasarnya hidup dan kehidupan itu punya jalannya sendiri. Dan mungkin, jalan yang dirajut bagi kamu memang (bukan) yang teraneh.