Malam itu saya dan beberapa teman pulang bareng, lewat jalan teknik ke kutek. Tiba-tiba kita menjerit di waktu yang hampir bersamaan, alasannya di
tengah jalan ada bangkai kucing, baru saja tertabrak.
Saya lalu kembali ke BOE, mengambil koran untuk memindahkan
bangkainya dan sekalian menutupinya sampai besok dikubur sama pak satpam.
Saat memindahkannya berdua Lita, rasa-rasanya saya mau menangis. It’s so soft….
yet so cold. It reminds me how fragile life could be.
Besoknya, kucing itu masih disana. Masih terbungkus koran,
hanya saja sudah dikerubuni lalat. Apa pak satpam belum melihatnya ya?
Besoknya lagi, saat saya sedang terburu-buru mengejar kelas
Mejik dan pusing memikirkan tugas Forensik, saya terhenti di jalan sambungan
itu dan hampir menangis, lagi. Belum ada juga yang mengubur kucing ini. And
that reminds me how ignorant men can be.
Alhasil, sesaat setelah kelas Mejik selesai, saya
langsung mencari Fahmy dan minta tolong mengubur kucing itu. Oleh Fahmy, saya
diajak ke tempat bapak-bapak audit
nongkrong. Disitu saya dan Intan akhirnya meminta bantuan Pak Martha.
Saya jadi teringat manusia dan novel Gone With The Wind. Ada
kisah seorang ibu yang selalu menguburkan mayat-mayat tentara musuh, dengan
harapan jika nanti anaknya mati di medang perang yang antah berantah, ada
seorang baik yang mau mengurus mayat anaknya. Lalu saya jadi berandai,
bagaimana ya jika saya atau keluarga saya mati di tempat jauh yang asing,
apakah ada yang peduli atau mayat saya, seperti kucing tadi, hanya dibiarkan di
jalan berhari-hari?