Minggu, 30 November 2014

Tuan, Nona ingin pulang ke istana masa depan yang Tuan janjikan. Tapi apa Tuan akan ada disana?

Jika dan Hanya Jika

Jika kau tak memiliki suara, apa kau akan tetap mencoba bicara?
Jika kau tak punya sepasang mata, apa kau masih menganggap dunia ini indah? Atau sebaliknya mungkin....
Jika kau tak lengkap tangan dan kaki, kau tentu sulit untuk pongah.
Jika dan hanya jika kau punya hati, tentu kau akan mengerti.
Jika dan hanya jika pikiranmu melesat, tentu kita tak perlu tersesat.

Manusia dikaruniai hati yang (seharusnya) lapang. Hati yang bisa jatuh cinta seribu kali. Hati yang bisa hancur lalu (di)bangun lagi. Hati yang tergugah. Hati yang setangguh besi. Manusia juga diberkahi pikiran yang (seharusnya) luas. Pikiran yang menuntun jalan. Pikiran yang membuat manusia berkembang, syukur-syukur jadi paham empati. Pikiran membantu hati paham, hati membantu pikiran merasa, meraba apa yang benar dan salah.

Pikiran dan hati satu nadi. Tapi mereka sering berkelahi. Hati lapang dan pikiran luas senang saling mendebat. Toh manusia punya andil tuk menengahi.
Falling in love with me is one thing, staying in love with me is another thing.

Sabtu, 29 November 2014

Bubur Rasa Rindu

Aku menyesapnya, panas, hangat.
Mataku meleleh.
Teringat rumah, teringat pulang.
Ibu, teringat bubur buatanmu, ini bubur rasa rindu.

Pernah kan saat kamu mengunyah sesuatu, mengecap, menyesap, dan menelannya, tiba-tiba kamu teringat kenangan yang jauh, yang bahkan kamu pikir kamu sudah lupa. Dulu, saat kecil saya sering sekali sakit. Setiap bulan selalu bolak-balik ke dokter. Hampir tiap waktu saya mengonsumsi obat. Jika sudah sembuh, tak lama kemudian akan sakit lagi, dan seterusnya. Saat-saat seperti itu, hidup saya terpusat di mama. Mama yang mengantar saya ke dokter, menemani saya mengantri, mengambil obat di apotek, memastikan saya minum obat walau sering mengomel karena saya bandel, memberi saya makanan enak (walau kadang tidak menyehatkan haha). Dan tiap saya sakit disini, saya selalu teringat mama, kompres es, dan bubur ayam tepi jalan.

Minggu, 16 November 2014

#MenolakLupa


Bagai masa lalu ia memburu. Tidak ada perbandingan, tapi ada yang merasa dikalahkan. Tidak ada tuntutan, tapi ada yang harus dipertanggungjawabkan. Cinta yang hilang tak mungkin lagi datang. Sama. Dendam di hati sulit untuk pergi. Seperti waktu yang angkuh, ia membisu. Menuai tanda tanya. Menunggu jawaban. Lagi, ia hanya membisu. Walau kutukan bak angin ribut.

Senin, 10 November 2014

Saya lapar, tapi tidak mungkin saya bilang ke ibu. Kita sama-sama keroncongan.

Tik.

Tik tok tik tok tik tok. 

Waktu itu saya hampir menyerah, tapi tidak terima untuk kalah. Siapa sangka di tik tok berikutnya saya lapang dada dan menemukan keluarga.

Tik tok tik tok tik tok.

Waktu itu kita masih bersama, penuh cerita dan bahagia. Siapa sangka di tik tok berikutnya kita berpisah, kau lelah, saya pun sama.

Tik tok tik tok tik tok.

Waktu itu kita berteman, sangat akrab walau tidak dekat. Siapa sangka di tik tok berikutnya kau bahkan segan menyapa, menganggap saya muka dua.

Tik tok tik tok tik tok.

Waktu itu kau bukan siapa-siapa, kita hanya bercakap sambil lalu yang tidak berarti apa-apa. Siapa sangka di tik tok berikutnya kau adalah orang terbaik di hidup saya.

Tik tok tik tok tik tok.

Waktu itu saya jatuh cinta dengan rumah tempat kita berada, saya lakukan semuanya sepenuh hati. Siapa sangka di tik tok berikutnya saya tidak masalah untuk pergi.

Tik tok tik tok tik tok.

Waktu itu saya menganggap saya tidak punya apa-apa. Siapa sangka di tik tok berikutnya saya salah, saya memiliki segalanya dan harus bahagia.

Tik tok tik tok tik tok.

Saya hanyalah saya. Kau bisa siapa saja. Kata bisa saja nyata.

Tik.

Rabu, 05 November 2014

Perjalanan Menemukan Cinta

Saya mencari-cari cinta ibu. Saya mencari cinta ibu di surat-surat yang tertinggal. Saya mencari cinta ibu di gambar-gambar lama. Saya mencari cinta ibu di cucian, juga di perapian. Nihil.

Saya tanya ke Bunda rupa ibu seperti apa. Bunda jawab tidak tahu. Bunda menjadi sedih, mungkin ia harap saya sudah lupa. Saya tak bisa, tepatnya menolak untuk lupa. Saya mencari kembali. Saya mencari kenangan tawa ibu. Saya mencari kenangan musik yang ibu suka. Saya mencari kenangan dongeng dari ibu. Saya mencari kenangan bahagia ibu saat saya lahir. Saya mencari semua kenangan, berharap menemukan cinta disana. Nihil. 

Saya putuskan melakukan perjalanan mencari cinta. Berbekal alamat dan foto lama saya susuri semua sudut kota. Saya mencari di lorong-lorong, kaki jembatan layang, gedung-gedung megah, hotel-hotel mewah, hotel-hotel murah, dan emperan toko. Saya datangi stasiun kereta, terminal bus, bandara, pesantren, dan gereja. Nihil.

Saya putus asa. Saya hampir putus asa. Di tengah gigil hujan dan gemetar tangan, sekelebat cerita muncul, cerita-cerita bermunculan. Di setiap cerita itu selalu ada wajah yang sama dan itu.... bukan wajah ibu. Tapi disana saya menemukan cinta yang paling besar. yang paling tulus, yang paling sabar.

Saya melakukan perjalanan mencari cinta padahal sudah lama saya menemukan cinta. Mungkin di setiap nafas ibu, ibu mendoakan saya. Mungkin karena doa-doa ibu saya tidak pernah kekurangan cinta, walau bukan darinya. Mungkin karena itu pula saya akhirnya juga menemukan rumah. 

Lalu saya, setelah berminggu-minggu, akhirnya tersenyum. Saya menatap langit dan mengangguk seolah di atas sana mata Tuhan tepat menatap saya. Saya melangkahkan kaki, rindu rumah.

Selasa, 04 November 2014

The way you holding on is by clinging onto memories instead of cherishing present moments.
Saya ingin disayangi setiap hari. Dengan egois. Dengan sepenuh hati.

Alkisah Sekotak Cokelat

Ada yang salah, ada yang harus diubah, ada yang harus berubah.

Contohnya, ada orang diperlakukan semena-mena, tapi tetap memberi cinta yang sempurna. Nona, kau sebut itu buta atau bodoh?

Misalnya, ada orang yang kau tolak mentah-mentah, tapi tetap tergila-gila padamu. Nona, kau sebut itu cinta atau ambisi?

Katanya, ada orang yang sama-sama cinta, tapi saling menyakiti tiada henti. Nona, lagi-lagi kau sebut ini apa?

Kadang manusia begitu naif, terlalu terobsesi dengan kenangan yang pernah mereka miliki atau kenangan yang mereka harap mereka miliki. Manusia bertahan dengan ingatan indah, tanpa mau melihat bahwa yang mereka jalani menyakiti mereka pun ketika berakhir. Kamu dan aku seharusnya menghargai diri sendiri lebih tinggi daripada dia yang tidak menyadari kamu berharga, aku berharga.

Senin, 03 November 2014

Dikata Kata-Kata


Hari hari mata hari. Mata mata mata hari. Mata hari mata hari. Hari mati mata hari.
Malam malam malam lama. Malam malam lama malam. Malam lama malam malam. Lama lama malam malam.
Malam hari mata hati. Malam hari mata mati. Hari malam mata mata. Lama lama mata mati.

Lagi lagi lagi gila. Lagi lagi lagi ku gila. Lagi lagi lagi ku bisa gila.
Marah marah marah ramah. Marah marah marah tak ramah. Marah marah marah kau tak ramah.
Lama lama lama malah. Lama lama lama malah gila. Lama lama lama malah marah.

Hati hati hati hati. Hati hati hati sakit hati. Hati hati hati kita sakit hati.
Seduh seduh seduh sedu. Seduh seduh seduh tersedu. Seduh seduh seduh tak tersedu.
Hati sakit hati sakit. Seduh sedu seduh sedu. Seduh sedu sedu sedan.

Kata kata kata dikata. Kata kata kata dikatai. Kata kata kata mengatai. Kata kata kata tak berkata.
Kaca mata kaca mata. Mata mata mata kaca. Mata kaca kaca mata. Kaca kaca kaca mata.
Kata mata kaca kaca. Kata kaca mata mata. Kata kaca kaca mata. Mata kaca kaca mata.

Butuh butuh butuh tubuh. Butuh butuh butuh tubuhmu. Butuh butuh tak butuh tubuhmu.
Cinta cinta cinta mencintai. Cinta cinta cinta dicintai. Cinta cinta cinta tai. 
Butuh cinta butuh tubuh. Butuh cinta atau tubuh? Butuh cinta tak butuh tubuh. Butuh tubuh tak butuh cinta.

Langit. Kilat. Hujan. Redam. Kilat. Badai. Banjir.