Rabu, 05 November 2014

Perjalanan Menemukan Cinta

Saya mencari-cari cinta ibu. Saya mencari cinta ibu di surat-surat yang tertinggal. Saya mencari cinta ibu di gambar-gambar lama. Saya mencari cinta ibu di cucian, juga di perapian. Nihil.

Saya tanya ke Bunda rupa ibu seperti apa. Bunda jawab tidak tahu. Bunda menjadi sedih, mungkin ia harap saya sudah lupa. Saya tak bisa, tepatnya menolak untuk lupa. Saya mencari kembali. Saya mencari kenangan tawa ibu. Saya mencari kenangan musik yang ibu suka. Saya mencari kenangan dongeng dari ibu. Saya mencari kenangan bahagia ibu saat saya lahir. Saya mencari semua kenangan, berharap menemukan cinta disana. Nihil. 

Saya putuskan melakukan perjalanan mencari cinta. Berbekal alamat dan foto lama saya susuri semua sudut kota. Saya mencari di lorong-lorong, kaki jembatan layang, gedung-gedung megah, hotel-hotel mewah, hotel-hotel murah, dan emperan toko. Saya datangi stasiun kereta, terminal bus, bandara, pesantren, dan gereja. Nihil.

Saya putus asa. Saya hampir putus asa. Di tengah gigil hujan dan gemetar tangan, sekelebat cerita muncul, cerita-cerita bermunculan. Di setiap cerita itu selalu ada wajah yang sama dan itu.... bukan wajah ibu. Tapi disana saya menemukan cinta yang paling besar. yang paling tulus, yang paling sabar.

Saya melakukan perjalanan mencari cinta padahal sudah lama saya menemukan cinta. Mungkin di setiap nafas ibu, ibu mendoakan saya. Mungkin karena doa-doa ibu saya tidak pernah kekurangan cinta, walau bukan darinya. Mungkin karena itu pula saya akhirnya juga menemukan rumah. 

Lalu saya, setelah berminggu-minggu, akhirnya tersenyum. Saya menatap langit dan mengangguk seolah di atas sana mata Tuhan tepat menatap saya. Saya melangkahkan kaki, rindu rumah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar