Sabtu, 27 Desember 2014

Senin, 22 Desember 2014

Bsshhhhzzz

Dukun-dukun di sawah. Melafal mantra. Tapi mereka tak mau pergi. Setan! Disembur air tak mati-mati. Mereka sudah mati. Diberi bunga. Kegirangan. Wangiiiii! Dasar norak. Tapi sudah jadi setan mana peduli lagi. Manusia ketakutan. Mereka makin girang. Om dukun lelah. Anak istri di rumah. Menunggu diberi makan. Setan harus punah. Agar mendapat uang. Demi sebakul nasi dan biaya listrik bulan ini.

Kue bertingkat

Saya masih menyimpan goresan tangannya. Yang hurufnya sangat nyastra. Yang selalu membuat saya jatuh cinta.

Hujan dan Kematian

Setiap hujan selalu ada yang mati.

Bapak tergelincir ke sungai di hujan bulan Februari. Emak menyusul tiga tahun lima bulan kemudian. Di hujan bulan Juli, digigit ular saat mencari kayu di hutan. Akak sakit-sakitan, kekurangan gizi dan tertekan bapak emak dijemput maut. Tiap hujan datang, aku ketakutan. Tidak rela kehilangan lagi sekarang.

Minggu, 27 Juni

Awan mendadak kelabu. Petir menyambar. Hujan datang dengan sambutan. Gerimis. Badai. Aku segera berlari pulang, ingin memastikan akak masih bernapas. Tanah licin. Beberapa kali aku hampir terjatuh. Kukencangkan lariku, tak acuh.

Tapi, kurasakan ada bayang-bayang. Di pohon sebelah, berpindah ke pohon seberang, berpindah ke pohon di sudut kiri, lalu kanan. Cerita leluhur kala seperti ini, peri hutan berkeliaran. Mencari mangsa, mencari anak nakal. Aku bukan anak nakal maka aku berani. Akak ku lebih penting, ku tantang peri hutan!

Hujan makin deras. Lariku makin kencang. Jarak pandangku makin dekat. Tapi, itu rumah. Aku telah pulang. Kuberlari ke kamar, kusambar gagang pintu. Kulihat akak, ia lemah, tapi belum jadi mayat.

Minggu, 27 Juni. Malam hari.

Hujan lagi. Takut kembali.

Senin, 28 Juni. Dini hari.

Aku terbangun. Oleh ketukan di pintu, di jendela, di atap. Semua terasa bergemuruh. Ada badai. Ada gempa. Aku coba berlari, tapi kaki ku kaku. Ngilu. Bengkak. Kemarin di hutan terinjak sesuatu. Langit kamarku mulai roboh. Akak ku ada di pintu, tertatih ingin menyambarku.

Telambat. Di hujan bulan Juli maut datang. Bapak, Emak, kini aku pulang, ke kalian. Semesta sangat berkilauan.

Bintang-bintang ada jutaan. Langit gelap. Terang. Aku rindu.

Rabu, 17 Desember 2014

Menolak Pagi


“Hidup saya menyedihkan. Kamu seharusnya tidak ada disini. Kamu seharusnya tidak pernah terlibat dengan saya dari awal. “

“Dengar, saya punya kisah.”

“Saya sudah tidak ada waktu untuk dongeng.”

“Tolong dengarkan. Saya janji ini akan menjadi dongeng terakhir yang saya ceritakan.” 

Ia diam, saya mulai berbicara. Kalimat saya lancar, tapi hati saya tak karuan. Saya rasa ini adalah kesempatan terakhir saya.

“Alam dan seluruh isinya saling berkaitan. Seperti benang, kadang menjadi kusut. Hari ini ada yang kehilangan. Tapi di hari yang sama, ada yang menemukan. Ada mereka yang hampir menyerah, tapi ada mereka lain yang kembali berusaha. Hari ini ada yang dihianati. Hari ini ada yang disakiti. Ada yang tersadar. Ada yang bersedih. Ada yang kecewa. Ada yang marah. Ada yang akhirnya bisa menerima. Tolong sambung cerita saya.”

“Kamu gila.”

“Saya mohon. Ini terakhir kalinya. Tidakkah kamu kasihan melihat saya?”

Ia tidak mengiyakan, tapi langsung menyambung celoteh saya, seperti yang biasa kami lakukan. “Hari ini ada rasa terima kasih yang disimpan dalam hati. Ada yang meyakinkan diri untuk bangkit kembali. Manusia punya cerita. Manusia penuh kisah. Mereka bersembunyi. Mereka bewarna. Kadang merah, kadang jingga. Mungkin juga hitam.”

“Tapi, ia berbeda. Ia tidak sama dengan manusia lainnya. Ia hanya diam, suka memandang hujan, memandang kosong. Saya tidak tahu warna apa ia. Yang saya tahu ia adalah warna paling meriah di kisah saya.”

Ia menghela napas, hampir terbata. “Warna darinya hanya berbeda, maka kamu terkesima. Hidupmu penuh warna berkilauan, sedang ia membawa abu-abu kusam. Kamu kaget, tapi lambat laun kamu akan sadar, jelaga bisa dengan mudah ditemukan. Tamat. Sekarang saya mau pergi. Hari ini ada yang memutuskan untuk tidak kembali.”

“Dan di hari yang sama, ada yang memutuskan untuk bertahan. Awalnya ia adalah cara saya mencapai bahagia. Tapi, kini ia adalah kebahagiaan itu sendiri. Ia bilang warna di hidup saya berkilauan, sedang ia hanya kusam. Tidak masuk akal. Saya telah menemukannya dan bagi saya ia adalah warna paling menyilaukan di semesta. Jika saya menurutinya, saya akan kehilangan warna saya. “

Ia berkaca-kaca. Tapi, hanya diam. Tidak mau mengingat kisah. Menolak. Saya disini. Mencoba mendekat, ditolak. Mencoba mengerti, disuruh pergi. Tapi saya terpaku. Jika saya pergi, saya akan tersesat. Karena bagi saya kini ia adalah dunia. Dan ia tahu itu.

Sabtu, 13 Desember 2014

Tidak Masalah Toh

"Jika kamu berghibah, maka pahala dari timbanganmu akan dipindahkan ke timbangan orang yang kamu ghibah kan di hisab nanti." Kalau manusia menjaga lisan dari bergunjing karena tidak ingin orang lain mengambil pahala mereka, apa bukan berarti manusia tetap bersifat tamak sampai hari kiamat?

Jumat, 12 Desember 2014

Asphalt

Kisah dan persinggahan. Ingin mengejar yang tidak bisa dikejar. Ingin datang ke ia yang pergi. Ingin pulang ke ia yang tak kembali. Seperti remah-remah roti, akan ada bagian yang (tidak sengaja) tertinggal. Kasihan. Remah-remah roti sendirian. Bagian yang enak sudah disantap, sisa-sisa terbuang. #ngomongoposihdin

Jumat, 05 Desember 2014

Trapped

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al Baqarah: 216)

Hari ini saya (rasanya) paham. Din, dari SMA sampe kuliah kok sama aja sih.....

Kamis, 04 Desember 2014

Koin 500 rupiah

Saya berandai, andai hidup ini koin 500 rupiah. Ada dua sisi, bunga dan garuda. Satu tinggal di tanah, satu berkeliaran di langit. Bunga dan garuda adalah satu, tapi mereka tak pernah bertemu. Saat bunga melihat kiri dunia, garuda memandang kanan, pun berkebalikan. Apa yang mereka lihat tidak pernah sama. Karena tak sama, bunga dan garuda bersikeras apa yang masing-masing lihat lah yang benar, walau sebenarnya tidak ada yang salah. Hanya saja masing sisi tak mampu paham apa yang sisi lain mengerti. Andai saja ada percaya. Oh, mungkin lebih tepatnya memaklumi. Maklum dua sisi tak memandang di waktu yang satu.

Rabu, 03 Desember 2014

Saya punya seribu kata-kata indah. Tapi, ia punya sejuta.

Lampau dan Lalu

Hanya tersisa lalu dan lewat menjadi lampau. Dulu dan sekarang tentu tak sama. Saya tak berhak meminta dulu, jika sekarang saya tak berubah. Sayangnya, saya masih orang yang sama. Tapi, sayang kamu berbeda. Kita mulai bertanya. Saya pun berandai, mungkinkah dulu dan sekarang saya paksa setara? Tenang, saya pun telah paham nyatanya.

Duh, Gusti!



Duh Semar, kamu tidak lihat ya. 


Rahwana, Raja Rakshasa dari Kerajaan Alengka siapa tak kenal ia
Rahwana, makhluk agung raja tiga dunia, kuasai dedemit surgawi dan dunia
Berwatak setengah iblis akibat orgasme salah waktu Kaikesi dan Wisrawa
Kelahirannya tak diinginkan, tapi baktinya tak diragukan

Berkatnya, rumah paling miskin memiliki kendaraan emas di Alengka.
Tapi apakah kita harus dipimpin iblis agar sejahtera?
Pemimpin kita memang manusia, mungkin itu kelemahannya
Karena ia manusia serakah dan kita tak cukup berdaya

Ssshh... Namun, apa kamu tahu arti Rahwana?
Asal namanya dari tangis, "Ia yang Raungannya Dahsyat"
Konon bumi berguncang hebat saat kelahirannya
Sungguh sesuatu yang kuat disebut dari hal yang lemah.

Sayang ia gila wanita.

Sepuluh kepala Rahwana mencumbu sepuluh gadis berbeda sekaligus!
Keduapuluh tangannya sibuk menjamah sana sini
Menimbulkan erangan nikmat para bidadari
Untung kemaluannya hanya satu.

Loh kata siapa?

Ia tetap memuliakan Sita (Rama yang agung saja kalah)

Kenapa pula Rama mempertanyakan kesucian Sita
Bila ia tidak suci lantas kenapa, tega Rama membakar istrinya?
Tau begitu lebih baik ia serahkan diri ke Rahwana yang mencintainya
Tidak pernah Sita dihina, selalu dipuji dan diperlakukan mulia

Rama memang manusia sejati
Kupingnya tajam, matanya buta
Karena bisik-bisik rakyatnya
Sita yang bunting putranya, disuruh lari ke hutan seorang diri

Sungguh apa yang tampak belum tentu sebagaimana adanya
Sejarah selalu berulang, tak sama namun serupa
Kisah serakah, wanita, dan siapa yang sebenarnya (tidak) mulia
Rahwana kalah oleh manusia. Manusia kalah oleh manusia.

Loh, saya tidak menyudutkan siapa-siapa.

Tapi, Semar, apa lantas kamu percaya?

Senin, 01 Desember 2014

Nyala Menyala Nyalang - Sayembara Menulis Cerpen UKM Belistra 2013


Oleh ibu, Nyala diberi nama Nyala. Nyala suka sekali namanya. Nyala juga suka sekali sama Ibu.

Nyala 5 tahun

Nyala sudah lama bisa berjalan, bahkan sangat bisa berlari. Apalagi ketika Nyala paham betapa sakitnya tamparan ibu di pipi. Nyala akan lari, lari secepat jemuran basah saat hujan. Tapi pada akhirnya Nyala akan selalu kalah. Ibu mengejar Nyala seperti kesetanan. Dan pipi Nyala akan menjadi merah, semerah matanya yang basah, sebasah bibir merahnya yang digigit kuat-kuat menahan tangis.

Nyala 7 tahun

Nyala dibilang anak haram. Di sekolah teman-temannya suka menatap benci. Ibu guru tidak peduli. Nyala manis ke semua orang, tapi orang-orang memperlakukan Nyala dengan kasar. Atau yang paling wajar, mereka seolah buta akan kehadiran Nyala. Suara Nyala tidak pernah didengar, kehadiran Nyala tidak diharapkan. Nyala tidak pernah kenal siapa itu haram, Nyala juga tidak pernah benar-benar kenal ibu guru dan mereka yang katanya teman.

Nyala 10 tahun

Kadang Nyala suka heran. Melihat ibu, melihat teman-teman ibu yang selalu berpoles gincu tebal dan baju kekecilan. Pernah Nyala iseng mencoba, tapi langsung dipukul ibu. Setelah itu ibu langsung menangis dan bilang, “Nyala jangan pernah jadi seperti ibu.” Nyala hanya diam, mengangguk pelan. Nyala tidak pernah tega melihat ibu menangis. Tapi tiap hari air mata ibu mengalir, seperti es kutub utara yang mengering.

Nyala 13 tahun

Nyala mengerti. Hidup tidak selalu baik dengan semua orang. Hidup tidak pernah baik dengan Nyala atau ibu. Maka Nyala mengerti, Nyala belajar. Isi buku di sekolah tidak pernah membuat Nyala mendapat solusi. Pelajaran kelas cuma sebatas welas. Orang-orang ketakutan seperti kucing dimarahi banci.

Nyala 15 tahun

Nyala bisa menjadi pendiam. Bisa juga memiliki segala hal untuk dikatakan. Tapi seringkali ia hanya bagian dari orang-orang aneh yang menangis ditikam sepi. Nyala kadang suka berandai. Kepedihan mereka akan ditampungnya di milyaran botol. Kemudian Nyala akan menjelma menjadi segitiga bermuda, melenyapkan botol-botol air mata. Menyesap asinnya seperti menyeruput sirup, menjilati kembang gula.

Nyala 17 tahun

“Berapa harga anakmu?”

“Apa?”

“Harga anakmu.”

Muka kenes ibu mendadak jadi dingin. Itu menjadi pelanggan pertama yang diusirnya dengan kasar. Setelah itu banyak sekali yang menawar Nyala. Seolah dia dagangan yang bisa digrosirkan. Sejak saat itu ibu menjadi lebih sering marah-marah. Nyala tidak boleh sampai keluar.

Hari itu Pak RT diam-diam datang, tengah malam. Tidak ada seorang pun yang tahu, bahkan Nyala sendiri. Ia tidak sengaja keluar, mata mereka bertemu. Pak RT menatapnya dengan aneh, seolah ia maling yang mencuri seluruh harta karun di dunia. Nyala langsung lari ke kamar, takut ibu tahu.

“Anjing! Pergi!”

“Setan kamu! Pelacur saja sombong.”

“Dasar bandot. Sadar umur!"

Teriakan-teriakan kasar terdengar. Makin lama makin kencang. Makin lama juga diwarnai suara barang dan kaca yang pecah.  Nyala meringkuk gemetaran. Belum pernah ia setakut itu. Ia sering mendengar teriakan ibu. Ia pernah mendengar tangisan ibu, Ia hafal suara tamparan, pukulan, dan riuh ketika barang dilempar. Tapi belum pernah ia merekamnya jadi satu.

Nyala mengintip ke kamar ibu. Pak RT keluar, wajahnya tergores darah. Kakek itu pergi meninggalkan sumpah serapah dan jejak kaki yang kotor dan basah. Lalu, Nyala melihat ibu. Ia belum pernah melihat ibu tampak selelah dan selemah itu.

Dua hari setelah kejadian itu, ibu tetap berdiam di kamarnya. Tidak mau keluar, bahkan untuk makan. Nyala yang mengantarkannya, tapi seringkali makanan buatan Nyala tidak tersentuh oleh ibu. Dua hari setelah kejadian itu, rumah mereka digedor warga. Ibu ditarik, Nyala meronta, tapi ibu tetap diam, matanya kosong, wajahnya pasrah.

Ibu dibakar, diarak keliling kampung. Berita esok yang beredar “Anak Perek Mengamuk Hanya Karena Ibunya Ditelanjangi”. Nyala marah, marah sekali. Persetan kalian. Persetan dengan hanya.

Nyala 18 tahun

Ulang tahun Nyala hanya berselang delapan hari dari kejadian tidak manusiawi itu. Nyala ingin meminta keadilan. Tapi dari kecil ia sadar, barang itu bukan untuk semua orang. Nyala mengutuk hujan yang tidak datang meredakan api. Nyala mengutuk Tuhan yang tidak pernah menolong Ibu dan Nyala.

Nyala kabur dari desa, menumpang truk sayur pertama yang berangkat ke kota. Tepat saat 6.570 hari Nyala ada di dunia, ia diselimuti sawi, ia duduk beralaskan besi becek. Tapi, dia tidak peduli. Nyala tidak pernah akan peduli. Hatinya beku, amarahnya seolah mampu melenyapkan dunia.

Nyala 56 tahun

Nyala menjadi presiden. Nama desa kelahirannya dihapuskan dari peta. Membuat Hari Gundik Sedunia.

Petak Umpet

"Sshhh tenang, saya sedang sembunyi."
"Sembunyi dari apa?"
"Lari dari lara."
"Kamu sembunyi atau lari?"
"Saya sembunyi agar bisa lari."

Ruang yang berantakan. Hati yang tak karuan. Tetap, kebahagiaan akhirnya selalu datang, dengan pelan, dengan malu-malu (walau sering terang-terangan).