Rabu, 17 Desember 2014

Menolak Pagi


“Hidup saya menyedihkan. Kamu seharusnya tidak ada disini. Kamu seharusnya tidak pernah terlibat dengan saya dari awal. “

“Dengar, saya punya kisah.”

“Saya sudah tidak ada waktu untuk dongeng.”

“Tolong dengarkan. Saya janji ini akan menjadi dongeng terakhir yang saya ceritakan.” 

Ia diam, saya mulai berbicara. Kalimat saya lancar, tapi hati saya tak karuan. Saya rasa ini adalah kesempatan terakhir saya.

“Alam dan seluruh isinya saling berkaitan. Seperti benang, kadang menjadi kusut. Hari ini ada yang kehilangan. Tapi di hari yang sama, ada yang menemukan. Ada mereka yang hampir menyerah, tapi ada mereka lain yang kembali berusaha. Hari ini ada yang dihianati. Hari ini ada yang disakiti. Ada yang tersadar. Ada yang bersedih. Ada yang kecewa. Ada yang marah. Ada yang akhirnya bisa menerima. Tolong sambung cerita saya.”

“Kamu gila.”

“Saya mohon. Ini terakhir kalinya. Tidakkah kamu kasihan melihat saya?”

Ia tidak mengiyakan, tapi langsung menyambung celoteh saya, seperti yang biasa kami lakukan. “Hari ini ada rasa terima kasih yang disimpan dalam hati. Ada yang meyakinkan diri untuk bangkit kembali. Manusia punya cerita. Manusia penuh kisah. Mereka bersembunyi. Mereka bewarna. Kadang merah, kadang jingga. Mungkin juga hitam.”

“Tapi, ia berbeda. Ia tidak sama dengan manusia lainnya. Ia hanya diam, suka memandang hujan, memandang kosong. Saya tidak tahu warna apa ia. Yang saya tahu ia adalah warna paling meriah di kisah saya.”

Ia menghela napas, hampir terbata. “Warna darinya hanya berbeda, maka kamu terkesima. Hidupmu penuh warna berkilauan, sedang ia membawa abu-abu kusam. Kamu kaget, tapi lambat laun kamu akan sadar, jelaga bisa dengan mudah ditemukan. Tamat. Sekarang saya mau pergi. Hari ini ada yang memutuskan untuk tidak kembali.”

“Dan di hari yang sama, ada yang memutuskan untuk bertahan. Awalnya ia adalah cara saya mencapai bahagia. Tapi, kini ia adalah kebahagiaan itu sendiri. Ia bilang warna di hidup saya berkilauan, sedang ia hanya kusam. Tidak masuk akal. Saya telah menemukannya dan bagi saya ia adalah warna paling menyilaukan di semesta. Jika saya menurutinya, saya akan kehilangan warna saya. “

Ia berkaca-kaca. Tapi, hanya diam. Tidak mau mengingat kisah. Menolak. Saya disini. Mencoba mendekat, ditolak. Mencoba mengerti, disuruh pergi. Tapi saya terpaku. Jika saya pergi, saya akan tersesat. Karena bagi saya kini ia adalah dunia. Dan ia tahu itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar