Senin, 22 Desember 2014

Hujan dan Kematian

Setiap hujan selalu ada yang mati.

Bapak tergelincir ke sungai di hujan bulan Februari. Emak menyusul tiga tahun lima bulan kemudian. Di hujan bulan Juli, digigit ular saat mencari kayu di hutan. Akak sakit-sakitan, kekurangan gizi dan tertekan bapak emak dijemput maut. Tiap hujan datang, aku ketakutan. Tidak rela kehilangan lagi sekarang.

Minggu, 27 Juni

Awan mendadak kelabu. Petir menyambar. Hujan datang dengan sambutan. Gerimis. Badai. Aku segera berlari pulang, ingin memastikan akak masih bernapas. Tanah licin. Beberapa kali aku hampir terjatuh. Kukencangkan lariku, tak acuh.

Tapi, kurasakan ada bayang-bayang. Di pohon sebelah, berpindah ke pohon seberang, berpindah ke pohon di sudut kiri, lalu kanan. Cerita leluhur kala seperti ini, peri hutan berkeliaran. Mencari mangsa, mencari anak nakal. Aku bukan anak nakal maka aku berani. Akak ku lebih penting, ku tantang peri hutan!

Hujan makin deras. Lariku makin kencang. Jarak pandangku makin dekat. Tapi, itu rumah. Aku telah pulang. Kuberlari ke kamar, kusambar gagang pintu. Kulihat akak, ia lemah, tapi belum jadi mayat.

Minggu, 27 Juni. Malam hari.

Hujan lagi. Takut kembali.

Senin, 28 Juni. Dini hari.

Aku terbangun. Oleh ketukan di pintu, di jendela, di atap. Semua terasa bergemuruh. Ada badai. Ada gempa. Aku coba berlari, tapi kaki ku kaku. Ngilu. Bengkak. Kemarin di hutan terinjak sesuatu. Langit kamarku mulai roboh. Akak ku ada di pintu, tertatih ingin menyambarku.

Telambat. Di hujan bulan Juli maut datang. Bapak, Emak, kini aku pulang, ke kalian. Semesta sangat berkilauan.

Bintang-bintang ada jutaan. Langit gelap. Terang. Aku rindu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar