Oleh ibu, Nyala diberi nama
Nyala. Nyala suka sekali namanya. Nyala juga suka sekali sama Ibu.
Nyala 5 tahun
Nyala sudah lama bisa berjalan,
bahkan sangat bisa berlari. Apalagi ketika Nyala paham betapa sakitnya tamparan
ibu di pipi. Nyala akan lari, lari secepat jemuran basah saat hujan. Tapi pada
akhirnya Nyala akan selalu kalah. Ibu mengejar Nyala seperti kesetanan. Dan
pipi Nyala akan menjadi merah, semerah matanya yang basah, sebasah bibir
merahnya yang digigit kuat-kuat menahan tangis.
Nyala 7 tahun
Nyala dibilang anak haram. Di
sekolah teman-temannya suka menatap benci. Ibu guru tidak peduli. Nyala manis
ke semua orang, tapi orang-orang memperlakukan Nyala dengan kasar. Atau yang
paling wajar, mereka seolah buta akan kehadiran Nyala. Suara Nyala tidak pernah
didengar, kehadiran Nyala tidak diharapkan. Nyala tidak pernah kenal siapa itu
haram, Nyala juga tidak pernah benar-benar kenal ibu guru dan mereka yang
katanya teman.
Nyala 10 tahun
Kadang Nyala suka heran. Melihat
ibu, melihat teman-teman ibu yang selalu berpoles gincu tebal dan baju
kekecilan. Pernah Nyala iseng mencoba, tapi langsung dipukul ibu. Setelah itu
ibu langsung menangis dan bilang, “Nyala jangan pernah jadi seperti ibu.” Nyala
hanya diam, mengangguk pelan. Nyala tidak pernah tega melihat ibu menangis.
Tapi tiap hari air mata ibu mengalir, seperti es kutub utara yang mengering.
Nyala 13 tahun
Nyala mengerti. Hidup tidak
selalu baik dengan semua orang. Hidup tidak pernah baik dengan Nyala atau ibu.
Maka Nyala mengerti, Nyala belajar. Isi buku di sekolah tidak pernah membuat
Nyala mendapat solusi. Pelajaran kelas cuma sebatas welas. Orang-orang
ketakutan seperti kucing dimarahi banci.
Nyala 15 tahun
Nyala bisa menjadi pendiam. Bisa
juga memiliki segala hal untuk dikatakan. Tapi seringkali ia hanya bagian dari
orang-orang aneh yang menangis ditikam sepi. Nyala kadang suka berandai.
Kepedihan mereka akan ditampungnya di milyaran botol. Kemudian Nyala akan
menjelma menjadi segitiga bermuda, melenyapkan botol-botol air mata. Menyesap
asinnya seperti menyeruput sirup, menjilati kembang gula.
Nyala 17 tahun
“Berapa harga anakmu?”
“Apa?”
“Harga anakmu.”
Muka kenes ibu mendadak jadi
dingin. Itu menjadi pelanggan pertama yang diusirnya dengan kasar. Setelah itu
banyak sekali yang menawar Nyala. Seolah dia dagangan yang bisa digrosirkan.
Sejak saat itu ibu menjadi lebih sering marah-marah. Nyala tidak boleh sampai
keluar.
Hari itu Pak RT diam-diam
datang, tengah malam. Tidak ada seorang pun yang tahu, bahkan Nyala sendiri. Ia
tidak sengaja keluar, mata mereka bertemu. Pak RT menatapnya dengan aneh,
seolah ia maling yang mencuri seluruh harta karun di dunia. Nyala langsung lari
ke kamar, takut ibu tahu.
“Anjing! Pergi!”
“Setan kamu! Pelacur saja
sombong.”
“Dasar bandot. Sadar umur!"
Teriakan-teriakan kasar
terdengar. Makin lama makin kencang. Makin lama juga diwarnai suara barang dan
kaca yang pecah. Nyala meringkuk
gemetaran. Belum pernah ia setakut itu. Ia sering mendengar teriakan ibu. Ia
pernah mendengar tangisan ibu, Ia hafal suara tamparan, pukulan, dan riuh
ketika barang dilempar. Tapi belum pernah ia merekamnya jadi satu.
Nyala mengintip ke kamar ibu.
Pak RT keluar, wajahnya tergores darah. Kakek itu pergi meninggalkan sumpah
serapah dan jejak kaki yang kotor dan basah. Lalu, Nyala melihat ibu. Ia belum
pernah melihat ibu tampak selelah dan selemah itu.
Dua hari setelah kejadian itu,
ibu tetap berdiam di kamarnya. Tidak mau keluar, bahkan untuk makan. Nyala yang
mengantarkannya, tapi seringkali makanan buatan Nyala tidak tersentuh oleh ibu.
Dua hari setelah kejadian itu, rumah mereka digedor warga. Ibu ditarik, Nyala meronta, tapi ibu tetap
diam, matanya kosong, wajahnya pasrah.
Ibu dibakar, diarak keliling
kampung. Berita esok yang beredar “Anak
Perek Mengamuk Hanya Karena Ibunya Ditelanjangi”. Nyala marah, marah sekali.
Persetan kalian. Persetan dengan hanya.
Nyala 18 tahun
Ulang tahun Nyala hanya
berselang delapan hari dari kejadian tidak manusiawi itu. Nyala ingin meminta
keadilan. Tapi dari kecil ia sadar, barang itu bukan untuk semua orang. Nyala
mengutuk hujan yang tidak datang meredakan api. Nyala mengutuk Tuhan yang tidak
pernah menolong Ibu dan Nyala.
Nyala kabur dari desa, menumpang
truk sayur pertama yang berangkat ke kota. Tepat saat 6.570 hari Nyala ada di
dunia, ia diselimuti sawi, ia duduk beralaskan besi becek. Tapi, dia tidak
peduli. Nyala tidak pernah akan peduli. Hatinya beku, amarahnya seolah mampu
melenyapkan dunia.
Nyala 56 tahun
Nyala menjadi presiden. Nama
desa kelahirannya dihapuskan dari peta. Membuat Hari Gundik Sedunia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar