Senin, 01 Desember 2014

Nyala Menyala Nyalang - Sayembara Menulis Cerpen UKM Belistra 2013


Oleh ibu, Nyala diberi nama Nyala. Nyala suka sekali namanya. Nyala juga suka sekali sama Ibu.

Nyala 5 tahun

Nyala sudah lama bisa berjalan, bahkan sangat bisa berlari. Apalagi ketika Nyala paham betapa sakitnya tamparan ibu di pipi. Nyala akan lari, lari secepat jemuran basah saat hujan. Tapi pada akhirnya Nyala akan selalu kalah. Ibu mengejar Nyala seperti kesetanan. Dan pipi Nyala akan menjadi merah, semerah matanya yang basah, sebasah bibir merahnya yang digigit kuat-kuat menahan tangis.

Nyala 7 tahun

Nyala dibilang anak haram. Di sekolah teman-temannya suka menatap benci. Ibu guru tidak peduli. Nyala manis ke semua orang, tapi orang-orang memperlakukan Nyala dengan kasar. Atau yang paling wajar, mereka seolah buta akan kehadiran Nyala. Suara Nyala tidak pernah didengar, kehadiran Nyala tidak diharapkan. Nyala tidak pernah kenal siapa itu haram, Nyala juga tidak pernah benar-benar kenal ibu guru dan mereka yang katanya teman.

Nyala 10 tahun

Kadang Nyala suka heran. Melihat ibu, melihat teman-teman ibu yang selalu berpoles gincu tebal dan baju kekecilan. Pernah Nyala iseng mencoba, tapi langsung dipukul ibu. Setelah itu ibu langsung menangis dan bilang, “Nyala jangan pernah jadi seperti ibu.” Nyala hanya diam, mengangguk pelan. Nyala tidak pernah tega melihat ibu menangis. Tapi tiap hari air mata ibu mengalir, seperti es kutub utara yang mengering.

Nyala 13 tahun

Nyala mengerti. Hidup tidak selalu baik dengan semua orang. Hidup tidak pernah baik dengan Nyala atau ibu. Maka Nyala mengerti, Nyala belajar. Isi buku di sekolah tidak pernah membuat Nyala mendapat solusi. Pelajaran kelas cuma sebatas welas. Orang-orang ketakutan seperti kucing dimarahi banci.

Nyala 15 tahun

Nyala bisa menjadi pendiam. Bisa juga memiliki segala hal untuk dikatakan. Tapi seringkali ia hanya bagian dari orang-orang aneh yang menangis ditikam sepi. Nyala kadang suka berandai. Kepedihan mereka akan ditampungnya di milyaran botol. Kemudian Nyala akan menjelma menjadi segitiga bermuda, melenyapkan botol-botol air mata. Menyesap asinnya seperti menyeruput sirup, menjilati kembang gula.

Nyala 17 tahun

“Berapa harga anakmu?”

“Apa?”

“Harga anakmu.”

Muka kenes ibu mendadak jadi dingin. Itu menjadi pelanggan pertama yang diusirnya dengan kasar. Setelah itu banyak sekali yang menawar Nyala. Seolah dia dagangan yang bisa digrosirkan. Sejak saat itu ibu menjadi lebih sering marah-marah. Nyala tidak boleh sampai keluar.

Hari itu Pak RT diam-diam datang, tengah malam. Tidak ada seorang pun yang tahu, bahkan Nyala sendiri. Ia tidak sengaja keluar, mata mereka bertemu. Pak RT menatapnya dengan aneh, seolah ia maling yang mencuri seluruh harta karun di dunia. Nyala langsung lari ke kamar, takut ibu tahu.

“Anjing! Pergi!”

“Setan kamu! Pelacur saja sombong.”

“Dasar bandot. Sadar umur!"

Teriakan-teriakan kasar terdengar. Makin lama makin kencang. Makin lama juga diwarnai suara barang dan kaca yang pecah.  Nyala meringkuk gemetaran. Belum pernah ia setakut itu. Ia sering mendengar teriakan ibu. Ia pernah mendengar tangisan ibu, Ia hafal suara tamparan, pukulan, dan riuh ketika barang dilempar. Tapi belum pernah ia merekamnya jadi satu.

Nyala mengintip ke kamar ibu. Pak RT keluar, wajahnya tergores darah. Kakek itu pergi meninggalkan sumpah serapah dan jejak kaki yang kotor dan basah. Lalu, Nyala melihat ibu. Ia belum pernah melihat ibu tampak selelah dan selemah itu.

Dua hari setelah kejadian itu, ibu tetap berdiam di kamarnya. Tidak mau keluar, bahkan untuk makan. Nyala yang mengantarkannya, tapi seringkali makanan buatan Nyala tidak tersentuh oleh ibu. Dua hari setelah kejadian itu, rumah mereka digedor warga. Ibu ditarik, Nyala meronta, tapi ibu tetap diam, matanya kosong, wajahnya pasrah.

Ibu dibakar, diarak keliling kampung. Berita esok yang beredar “Anak Perek Mengamuk Hanya Karena Ibunya Ditelanjangi”. Nyala marah, marah sekali. Persetan kalian. Persetan dengan hanya.

Nyala 18 tahun

Ulang tahun Nyala hanya berselang delapan hari dari kejadian tidak manusiawi itu. Nyala ingin meminta keadilan. Tapi dari kecil ia sadar, barang itu bukan untuk semua orang. Nyala mengutuk hujan yang tidak datang meredakan api. Nyala mengutuk Tuhan yang tidak pernah menolong Ibu dan Nyala.

Nyala kabur dari desa, menumpang truk sayur pertama yang berangkat ke kota. Tepat saat 6.570 hari Nyala ada di dunia, ia diselimuti sawi, ia duduk beralaskan besi becek. Tapi, dia tidak peduli. Nyala tidak pernah akan peduli. Hatinya beku, amarahnya seolah mampu melenyapkan dunia.

Nyala 56 tahun

Nyala menjadi presiden. Nama desa kelahirannya dihapuskan dari peta. Membuat Hari Gundik Sedunia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar