Ternyata hal kecil dan ga terduga itu malah bisa sangat
berguna ya. Jadi ceritanya FE lagi hectic banget sama UTS, dan ada satu cewek
yang gatau kemana aja berapa bulan ini. Pokoknya otaknya nyaris kosong gatau
apa yang dipelajarin. Jadilah semaleman dia harus begadang, nyaris ga tidur.
Tapi walaupun udah nyaris ga tidur gitu, masih aja ada buaanyaaaakkkkk banget
materi yang harus dilahap macem makanan yang harus dihabisin kalo gamau
dituntut sama nasi dan pak petani. Terus si cewek yang matanya udah gakuat
banget dan muak sama segala angka indeks itu mutusin buat istirahat bentar
secara waktu itu udah nyaris subuh dan ujiannya juga pagi. Jadilah alarm 10
lapis disetel dengan sound paling kuat. Si kakak juga diminta telfon buat
ngebangunin. Merasa itu semua udah cukup, si cewek meremehkan alarm di
handphone bututnya. Pokoknya ga diliat lagi settingannya. Besoknya si kakak
emang berhasil ngebangunin, alarm 10 lapis yang bunyi setiap 15 atau 20 menit
sekali juga dia denger. Tapi ya gimana, namanya manusia butuh tidur, ya bobo
lagi bobo lagi. Sampe akhirnya dia denger ada getaran, awalnya sih pelan, tapi
lama-lama menarik perhatian. Jadilah dia terbangun sigap, sadar pasti udah
pagi. Terus dia lirik meja asal suara itu, eh hp bututnya lagi aktif banget
geliat-geliat. Ternyata ada bekas alarm kemarin yang belum dihapus dan
untungnya hp nya masih disetel mode silent ga mute total. Masih setengah sadar
dan lemes banget gegara kurang tidur, si cewek nge recall gimana dia ngangkat
telfon, jawab, denger semua bunyi alarm, matiin setiap alarm yang dia denger,
dan balik tidur lagi. Sambil senyum disimpen karena gapunya tenaga, dia kepikiran gimana ada hal-hal yang
kita remehkan dan bahkan mungkin kita lupa itu ada, bisa sangat membantu kita.
Selasa, 22 Oktober 2013
Selasa, 15 Oktober 2013
Titik Titik
B : Kalau kamu matahari, kamu akan cepat terbenam
A : Sialan
B : Kenapa? Bukannya orang rela menunggu sunset yang cantik
A : Tapi matahari terbit akan lebih membuat orang bahagia
B : Tidak juga. Aku benci pagi waktu ujian susah, aku benci
waktu deadline yang sudah tiba, aku benci harus ngobrol palsu lagi
A : Bagiku matahari terbit mengantarkan harapan. Matahari
terbenam hanya tempat singgah
B : Manusia kan tidak selalu membutuhkan harapan, kadang yang diperlukan hanya jeda istirahat
Titik
A : Kalau kamu terlahir kembali, kamu memilih jadi apa?
B : Aku akan jadi matahari sehingga bisa mengusir gelap untukmu.
Kamu tidak perlu selalu ketakutan di balik selimut bayimu.
A : Gombal
B : Kalau kamu?
A : Tidak tahu. Mungkin aku akan tetap memilih terlahir jadi
diriku.
B : Loh kenapa? Katanya kamu benci dirimu sendiri.
A : Habis kalau aku tidak memilih jadi aku, aku yang sekarang akan
lebih kesepian.
B : Gendeng.
A : Memang.
What has (not) been found (yet)
Sebenernya kamu ga bakal pernah kehilangan kalau ga memiliki. Tapi kadang manusia itu merasa dia udah memiliki sehingga pas hilang ya sedih juga. Tapi kadang kamu tetap aja kehilangan walaupun sebenernya kamu ga memiliki dan ga merasa memiliki. Tapi yang paling ironis gimana kita bisa merasa ada yang hilang padahal gatau apa yang hilang atau bahkan tau hal yang hilang itu juga belum pernah ditemukan.
Selasa, 08 Oktober 2013
I simply love it whatever its form
I hate it dark. I hate it light. I hate it heavy. I hate it sweet. I hate it sour. I hate it spicy. I hate it plain. I hate it now. I hate it then. I simply hate it whatever its form.
I love it dark. I love it light. I love it heavy. I love it sweet. I love it sour. I love it spicy. I love it plain. I love it now. I love it then. I simply love it whatever its form.
Sabtu, 05 Oktober 2013
Selamat Malam, Altair dan Vega
Halo kepala yang mentok di jendela, kenapa ya ada orang-orang yang akhirnya muter-muter di orang yang sama. Udah coba bangun tembok, batanya lepas satu-satu. Udah sok-sokan bikin pertahanan diri, tapi akhirnya runtuh lagi. Padahal udah tau juga in the end, ini ga bakal jalan kemana-mana, dan (kemungkinan besar) ada yang sakit hati. Mungkin manusia itu sangking pengennya bahagia celah kecil juga diambil. Manusia itu segitu pengennya bahagia, buat sementara juga gapapa. Kalo katanya dosen akun, udah buat standar baru jangan balik lagi ke standar lama. Tapi, hati kan ya ga persis akuntansi.
P.S. Nyoba kali biar ga wondering what will happen or won't happen
P.P.S Good luck, then!
P.P.P.S Teruntuk orang-orang yang penulis kenal, sok kenal, belum kenal, ga bakal kenal, dan diri sendiri.
I mean it.
Mau lari yang kenceng. Mau nangis yang keras. Mau lompat yang tinggi. Mau ketawa yang bahagia. Mau marah ga jelas. Mau makan yang banyak. Mau terima kasih sama Tuhan. Mau kecewa sama dunia. Mau sayang sama diri sendiri.
Baru baca tentang aborsi dan serem sama diri sendiri,
spesifiknya badan sendiri. Ngeliat ke kaca pas cuma lagi pake kutang dan kancut
dan tiba-tiba mual sendiri. Tubuh wanita itu ternyata sesuatu yang lembut,
indah, tapi rapuh. Gimana kalo misalnya kamu berhubungan seks dan akhirnya
punya janin di waktu yang salah. I mean, seserem itu. Baca buku yang ceritanya
ceweknya dibius terus dihamilin sama cowoknya. Dia kaget banget. Ya jelas lah
kaget. Bayangin aja kamu ketiduran terus bangun-bangun udah dapet sesuatu yang
uhmmmm se-gak-diharapkan itu. Having baby di waktu yang tepat sure would be
really fine and fun. Tapi kasian banget ga sih cewek-cewek yang harus ngalamin
itu di momen yang harusnya bukan sekarang, terlebih mereka yang ga punya kuasa
buat mencegahnya.
Sabtu, 17 Agustus 2013
Hari Ini Kemerdekaan Negara Saya Berumur 68 Tahun
Kemarin pengurus inti organisasi saya, BOE, meminta kami semua anggotanya untuk mentwit pendapat 'apa sih arti kemerdekaan bagimu?' Yang muncul di otak saya cuma merdeka ya 17 Agustus. Tapi tentu saja tidak sesederhana itu.
Timeline saya mulai penuh dengan arti kemerdekaan karena ternyata baik BEM maupun BOE sama-sama mengundang partisipasi orang-orang dalam memaknai kemerdekaan. Saya baca satu persatu. Tersenyum dan miris. Ada yang menyakitkan, banyak pula yang membanggakan. Dan semuanya terasa benar sekali.
Saya cinta dengan Indonesia, tapi harus diakui mencintai Indonesia bagi sebagian besar orang masih dirasa sulit. Sejak kuliah dan tinggal sendiri, saya sering mengikuti berbagai kegiatan sosial atau travelling ala backpacker yang mengantarkan saya melihat dan merasakan kehidupan yang tidak selamanya nyaman.
"Coba aja setiap orang di negeri kita udah bisa makan cukup hidup layak setiap harinya. Selamat h-1 17 agustus Indonesia @boeconomica #68thRI"
Itulah isi twit lengkap saya kemarin. Saya tidak memberikan arti kemerdekaan karena apalah arti merdeka itu jika banyak rakyat kita yang masih seperti zaman penjajahan dulu. Yang saya tulis akhirnya hanya berupa pengandaian, harapan. Dan jujur saya benci sekali setiap bersikap pesimis terhadap Indonesia tanpa berusaha apa-apa. Cuma bisa mengeluh.
"Halo dina jadi apa yang membedakanmu dengan jutaan orang Indonesia lainnya??" Itulah kalimat yang seringkali saya ulang. Dan selalu membuat saya berjanji suatu hari nanti harus membawa perubahan. Apalagi dengan melihat betapa mengagumkannya orang-orang di sekitar saya. Inilah yang akhirnya selalu menjadi pemicu saya dan (saya rasa) harapan bagi Indonesia.
Tidakkah negeri kita akan mempunyai masa depan yang lebih baik di tangan generasi yang bersemangat ini? Dirgahayu RI. Kami menyayangimu :)
Tidakkah negeri kita akan mempunyai masa depan yang lebih baik di tangan generasi yang bersemangat ini? Dirgahayu RI. Kami menyayangimu :)
Senin, 12 Agustus 2013
Pintu Rumah
Pintu pertama
Ibu mati gantung diri
Adik tidak peduli
Sibuk dengan kotak besi
Pintu kedua
Kakak sakit jiwa
Teriak frustasi
Kadang tertawa sendiri
Pintu ketiga
Penuh dengan peti mati
Kosong berdebu
Mengrenyit minta diisi
Pintu keempat
Jangan masuk kesana
Karena ayah telah menunggu
Kedatanganmu untuk pintu sebelumnya
Ibu mati gantung diri
Adik tidak peduli
Sibuk dengan kotak besi
Pintu kedua
Kakak sakit jiwa
Teriak frustasi
Kadang tertawa sendiri
Pintu ketiga
Penuh dengan peti mati
Kosong berdebu
Mengrenyit minta diisi
Pintu keempat
Jangan masuk kesana
Karena ayah telah menunggu
Kedatanganmu untuk pintu sebelumnya
Sabtu, 10 Agustus 2013
Gindonesiay
Karena kamu api dan aku air
Maka kita saling melenyapkan
Tapi dia adalah minyak
Maka kalian saling menguatkan
Karena kamu adalah siang dan aku malam
Maka kita takkan pernah bertemu
Tapi dia adalah matahari
Maka kalian tak terpisahkan
Karena kita berdua menghunus pedang
Maka selamanya terus berperang
Tapi dia membawa kedamaian
Maka aku tahu diri dan mundur perlahan
Karena kamu dan aku adalah lelaki
Maka kita cuma berteman
Karena di hatimu hanya ada cinta
Untuk dia yang perempuan
Maka kita saling melenyapkan
Tapi dia adalah minyak
Maka kalian saling menguatkan
Karena kamu adalah siang dan aku malam
Maka kita takkan pernah bertemu
Tapi dia adalah matahari
Maka kalian tak terpisahkan
Karena kita berdua menghunus pedang
Maka selamanya terus berperang
Tapi dia membawa kedamaian
Maka aku tahu diri dan mundur perlahan
Karena kamu dan aku adalah lelaki
Maka kita cuma berteman
Karena di hatimu hanya ada cinta
Untuk dia yang perempuan
------
Yes, I am an ally.
Karena Manusia Cuma Kucing
Kucing kecil suka menari
Ia sangat bahagia
Tapi kata mama menari tidak bikin kaya
Jadi kucing kecil dikirim sekolah
Kucing kecil menurut saja
Toh disana ia bertemu banyak kucing kecil lainnya
Katanya kalau ia berusaha hidupnya akan bahagia
Kalau belajar giat maka akan sejahtera
Tapi sekarang ia sudah tua, ternyata bahkan nilai A tidak berguna
Duduk sendirian di kursi roda
Menatap sepatu balet kesayangannya
Membayangkan panggung impian yang tak pernah dijejakinya
Ia sangat bahagia
Tapi kata mama menari tidak bikin kaya
Jadi kucing kecil dikirim sekolah
Kucing kecil menurut saja
Toh disana ia bertemu banyak kucing kecil lainnya
Katanya kalau ia berusaha hidupnya akan bahagia
Kalau belajar giat maka akan sejahtera
Tapi sekarang ia sudah tua, ternyata bahkan nilai A tidak berguna
Duduk sendirian di kursi roda
Menatap sepatu balet kesayangannya
Membayangkan panggung impian yang tak pernah dijejakinya
Terima Kasih Tuhan Ada Aborsi - Tulisan untuk Rubrik Dialektika Economica Papers
Pil dikonsumsi tiga kali
sehari. Dua pil dengan cara diminum, satu lagi dimasukkan dari bawah, didorong
alat kelamin pria. Selama dua minggu akan terjadi pendarahan, yang keluar
adalah darah dan daging-daging janin.
Data yang dihimpun Komnas
Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menemukan dalam kurun waktu tiga tahun
(2008-2010) kasus aborsi terus meningkat. Namun, sebagian pihak meyakini bukan
jumlah aktualnya yang meningkat, tapi seiring dengan semakin modern dan
bebasnya pola pikir sekarang, total pengaduan dan kasus yang terungkap semakin
banyak. Data kasarnya yang dikeluarkan Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional
(BKKBN) memperkirakan setiap tahun jumlah aborsi di Indonesia mencapai 2,5 juta
jiwa dari 5 juta kelahiran per tahun.
Kenapa
Aborsi?
Di
Indonesia, menurut UU Kesehatan No 36 Tahun 2009, aborsi dinyatakan legal dalam
dua kasus. Pertama, jika calon ibu mengalami keguguran yang tidak disengaja.
Sisa janin di dalam rahim bisa dibersihkan dengan syarat persetujuan suami.
Kedua, anak yang dikandung adalah hasil perkosaan. Orangtua korban harus
memberi keterangan dan surat persetujuan ke rumah sakit bersangkutan.
Kenyataannya,
dalam prakteknya, kebanyakan aborsi dilakukan oleh kriteria kasus ketiga yang
tidak bisa dianggap legal, hamil karena seks bebas. Pelaku kebanyakan adalah
remaja yang baik dari segi fisik maupun psikis belum siap melahirkan dan
membesarkan anak. Jadilah aborsi menjadi pilihan.
Matahari
(nama samaran-red.), salah satu mahasiswi universitas swasta ternama di
Jakarta, mengaku melakukan aborsi karena masih banyak yang ingin ia capai.
Hidupnya dirasa terlalu muda untuk dihabiskan mengurus anak. Berasal dari
keluarga Muslim taat dan lingkungan yang memegang teguh budaya Timur,
membuatnya takut jika perbuatannya sampai diketahui orang lain.
Ia
tahu risiko perbuatannya, ia tahu aborsi berbahaya, tapi itulah langkah yang
akhirnya dia ambil. Matahari merasa sedikit bersalah, namun saat itu baginya
aborsi bukanlah pilihan, tapi satu-satunya jalan. Lagipula, saat itu umur
kandungannya belum mencapai empat bulan, masih belum memiliki nyawa, dianggap
belum hidup. Sekarang yang penting baginya adalah ia sehat dan bisa melanjutkan
semuanya tanpa harus malu karena hamil.
Fitri
Fausiah, M.Psi., M. Phil., seorang psikolog klinis menyatakan bahwa proses
kehidupan bermula saat sperma bertemu ovum. “Jauh di dalam hati, semua pelaku
aborsi itu tahu mereka salah. Namun, sengaja mencari pembenaran-pembenaran
untuk membuat diri mereka nyaman dan seolah-olah yang mereka lakukan adalah
pilihan paling benar.”
Fitri
menyayangkan tidak banyak remaja yang berani jujur kepada orangtuanya atau
pihak lain yang dapat memberi masukan. Menurutnya, jarang sekali orangtua akan
menyarankan aborsi, itu adalah pilihan wanita dan pasangannya. Aborsi merupakan
langkah besar yang perlu kemauan dan keberanian. Keputusan seperti ini
disarankan tidak diambil sendiri, karena ketika sudah dilakukan tidak bisa
diulang. Paling tidak lakukan konseling terlebih dahulu dengan lembaga khusus
atau psikolog. Di Indonesia, lembaga yang menangani hal seperti ini adalah
Pusat Keluarga Berencana Indonesia (PKBI).
Jasa
Aborsi Ilegal : Aksesnya Mudah, Dampaknya Bahaya
Ada
dua cara aborsi illegal yang umum dilakukan, yaitu dengan kuret dan pil peluruh
janin. Menurut Erna, mantan bidan di Bengkulu, proses kuret dimulai dari
pembiusan total pasien, lalu isi rahim ditarik dengan menggunakan alat seperti
sendok sampai bersih. “Prosesnya tidak sakit dan cepat, sekitar 10 menitan.
Abis itu, paling mens satu mingguan.”
Akses
melakukan aborsi ilegal dengan cara kuret tergolong mudah, khususnya di ibu
kota. Di daerah Radio Dalam dan Cikini, pria dan wanita yang berjalan
berpasangan sering ditawari jasa aborsi, terlepas mereka sekadar lewat atau
memang membutuhkan. Namun, jika tidak ditangani orang yang tepat, kuret bisa
berbahaya. Mulai dari peralatan yang tidak steril sampai tidak tuntasnya
pembersihan rahim menjadi resiko yang bisa berdampak buruk bahkan dalam jangka
panjang.
“Orang
sering bilang itu karma, abis aborsi nanti udah nikah susah hamil lagi. Padahal
itu bisa saja karena dulu saat aborsi alat yang digunakan tidak steril dan
masih ada sisa janin. Itu bisa menyebabkan rusaknya rahim.”
Cara
kedua adalah dengan meminum pil peluruh janin sebelum janin berusia tiga bulan.
Pil ini dijual bebas di dunia maya dan juga disediakan di beberapa apotek. Tim
Dialektika melakukan investigasi ke Pasar Pramuka untuk mengetahui cara
mendapatkan pil aborsi merk Cytotec. Tidak seperti kuret yang lebih bebas
ditawarkan, pembeli harus membawa resep dokter atau lewat jalur belakang saat
ingin membeli pil ini.
Cytotec
dulunya adalah obat maag yang memberi kontraksi di bagian-bagian tubuh terentu.
Namun sekarang banyak digunakan sebagai pil aborsi. Harganya berkisar antara
ratusan ribu sampai jutaan tergantung merk lokal atau impor. Pil impor diyakini
bekerja lebih cepat dan berefek samping lebih ringan.
Penjaga
apotek-apotek di Pasar Pramuka memang mengetahui adanya Cytotec, namun mengaku
tidak menjualnya. Tapi ada cara lain, pembeli bisa mendekati dan bertanya pada
pedagang makanan disana. Mereka akan memperkenalkan ke temannya yang membawa
pembeli ke temannya yang lain sampai akhirnya bertemu langsung dengan
penjualnya ketika yakin calon pembeli ini bukanlah polisi.
Zikri,
pegawai apotek yang menjual ilegal pil aborsi, mengemukakan bahwa di Pasar
Pramuka banyak polisi yang menyamar sebagai calon pembeli. Penjual harus lebih
berhati-hati dalam memasarkan pil aborsi karena sudah banyak rekannya yang
tertangkap saat melakukan transaksi. Saat ingin berbincang pun, Tim Economica
dibawa menjauh dari apotek-apotek disana.
“Kalau
kayak mas tadi nyari langsung ke apotek bahaya sebenernya, suka ada polisi
nyamar. Kalau orang nanya Cytotec di apotek diikutin, pas mau beli ditangkep.
Nah dua minggu lalu tuh kayak gitu, sengaja ditunggu sampe ngelakuin transaksi
ama temen saya. Tapi ya dilepas juga, main duit aja mas sama polisinya. Ribet
kalo udah dibawa ke kantornya.”
Kebanyakan
pembeli pil aborsi di Pasar Pramuka adalah anak muda. Rata-rata yang mencari
adalah pihak pria, kadang berpasangan. Jarang sekali pihak wanita datang kesana
sendirian.
Pil
peluruh janin dikonsumsi tiga kali sehari. Dua pil dengan cara ditelan biasa
dan satu lagi dimasukkan dari bawah, didorong alat kelamin pria. Selama satu
sampai dua minggu perut akan terasa melilit dan terjadi pendarahan seperti saat
menstruasi, bedanya yang keluar adalah darah dan daging-daging berlendir.
Wanita biasanya bisa beraktivitas seperti biasa selama dan setelah periode pengkonsumsian
pil.
Kebanyakan
remaja pelaku aborsi lebih memilih mengkonsumsi pil. Hal ini dikarenakan lebih
praktis dan tidak terkesan menyeramkan seperti kuret. Belum lagi, untuk daerah-daerah di luar ibu kota, lebih
mudah mendapatkan pil daripada jasa kuret. Akses internet yang luas dan tidak
terbatas serta maraknya penjualan pil aborsi secara online membuat siapapun bisa memperolehnya.
Legalisasi
Aborsi di Indonesia : Pro dan Kontra
Di
beberapa negara aborsi telah dilegalkan dengan berbagai macam alasan antara lain
untuk menekan angka kelahiran dan angka kematian akibat aborsi. Indonesia tidak
termasuk di antaranya. Bahkan, di Indonesia kejelasan hukum mengenai aborsi
masih diperdebatkan.
“Ini
mengenai masalah pro life atau pro choice. Gerakan pro life menyatakan
bahwa pemerintah harus melindungi semua bentuk kehidupan manusia. Dibantah oleh
pro choie yang menyatakan semua individu memiliki pilihan tidak terbatas
terkait organ reproduksinya, wanita bebas memilih untuk melanjutkan kehamilannya
atau tidak.”. terang Fauziah.
UU no 1 tahun
1946 tentang KUHP menyatakan dengan alasan apapun melakukan tidakan aborsi
adalah melanggar hukum, sedangkan pada UU Kesehatan 23 tahun 1992 aborsi diperbolehkan
dengan alasan medis. Kedua isi undang-undang ini dirasa bertolak belakang. Belum
lagi, jika memang alasan medis, melahirkan akan sangat berbahaya bagi fisik
remaja, terlepas apapun yang mendasari terbentuknya janin. Tapi, remaja putri
yang ingin melakukan aborsi secara legal di rumah sakit harus berdasarkan
persetujuan orangtua dan dengan alasan hasil perkosaan.
Peminat
aborsi jelas masih banyak sekali. Dengan belum legalnya aborsi seperti
sekarang, membuat para pelaku yang rata-rata remaja jelas memilih untuk
menempuh cara ilegal. Ketika suatu hal adalah ilegal, tidak ada kepastian hukum
yang jelas dan tegas baik dalam segi kualitas dan jaminan keselamatan. Mulai
dari ditangani oleh tenaga tidak profesional sampai alat-alat aborsi yang tidak
steril menjadi masalah klise.
Banyak
kasus aborsi yang akhirnya berujung pada kematian atau dampak jangka panjang
yang berbahaya. Ketika ini terjadi, korban atau keluarganya tidak bisa
menuntut, karena dari awal hal yang mereka lakukan juga melanggar hukum.
Di
sisi lain, kita tahu bagaimana pun juga aborsi bukanlah hal yang benar. Ada bakal
nyawa lain yang kita bicarakan. Inilah yang membuat pelegalan aborsi tidak
hanya soal kesehatan lagi, tapi sudah menembus lingkup agama dan budaya yang
akhirnya menjadi sangat kontroversial.
Kalau
kata pepatah, mencegah lebih baik daripada mengobati. Pria harus lebih cerdas,
wanita harus lebih bijak. Jika memang ingin melakukan seks sebelum nikah,
paling tidak gunakanlah pengaman. Jangan ketika sudah kejadian, baru kelabakan
karena sejauh ini pelegalan aborsi tidak akan menjadi bagian dari masa depan
Indonesia.
--------
(observasi investigatif oleh Ivan Indrawan; wawancara oleh penulis, Astana Yuana, Andreas Aditya Mahendra; tulisan oleh penulis)
Pemberdayaan atau Pemberangusan? - Tulisan untuk Rubrik Polhum Majalah Economica 49
Biarlah
kepentingan nasional menjadi kepentingan mereka yang berkepentingan selama
tidak mengorbankan mereka yang tidak berkepentingan.
Hukum adalah seperangkat aturan yang dibuat
manusia, bersifat memaksa, dan diberlakukan sanksi jika melanggarnya. Adat
berasal dari bahasa Arab yang berarti kebiasaan. Jadi secara garis besar, hukum
adat adalah seperangkat aturan tegas dan ada sanksi jelas yang mengatur
kehidupan manusia yang bersumber dari kebiasaan-kebiasaan manusia itu sendiri. Kebiasaan/adat
setiap daerah berbeda. Hal itu tergantung kondisi alam, kelakuan masyarakat
berkaitan geografis. Prof. Mr. Cornelis van Vollenhoven membagi Indonesia menjadi 19 lingkungan hukum adat (rechtsringen) yang terdiri dari Aceh, Tanah Gayo Alas dan
Batak, Minangkabau, Mentawai, Sumatera Selatan, Tanah Melayu, Bangka dan
Belitung, Kalimantan, Gorontalo, Tanah Toraja, Sulawesi Selatan, Kepulauan
Ternate, Maluku Ambon, Irian, Timor, Bali dan Lombok, Jawa Pusat dan Madura,
Daerah Kerajaan (Surakarta, Yogyakarta), dan Jawa Barat
Awalnya hanya berupa anjuran perbuatan yang
menurut masyarakat bersangkutan baik yang tersebar dari mulut ke mulut lalu
berproses, akhirnya sampai di titik dimana seluruh masyarakat, termasuk
pemuka-pemukanya menetapkan anjuran tadi sebagai keharusan karena sudah
dianggap sangat baik beserta sanksi tegas jika terjadi pelanggaran. Kebiasaan
ini bisa berubah sesuai perkembangan zaman seiring pergeseran pola pikir dari
waktu ke waktu. Ketika kebiasaan ini berubah, yang menyesuaikan adalah
sanksi-sanksi di dalam hukum adat tersebut.
Hukum adat menjamin hak-hak di dalam masyarakat
adat. Namun, sayangnya sifatnya tidak tertulis karena secara alami lahir dan
berkembang di masyarakat itu sendiri. Akibatnya kekuatan hukum adat lemah jika
cakupannya sudah keluar dari masyarakat adat bersangkutan.
Hal inilah yang menyebabkan sering terjadi konflik jika sudah
menyangkut kasus adat dengan pihak luar, khususnya mengenai tanah adat. Di
Indonesia masalah pertanahan diatur dalam Undang-Undang
Nomor 5 Tahun 1960 atau Undang-Undang Pokok Agraria atau yang dikenal dengan
hukum tanah nasional. Nasional
berarti mencakup seluruh Indonesia. Padahal, sebelumnya telah ada hukum tanah
adat. Hukum tanah adat tidak tertulis, sedangkan hukum agraria tertulis.
Prinsipnya jika terjadi perkara, hukum tertulis mengalahkan yang tidak
tertulis.
Hukum agraria sebenarnya berpedoman dari hukum
adat, tapi hanya memakai prinsip-prinsip dasarnya. Dalam 19 wilayah hukum tadi,
ada 4 hal yang berpengaruh. Antara lain kebersamaan. Setiap orang tidak
terlepas dari ikatan kemasyarakatan dimana dia hidup, menyangkut hak dan
kewajiban.
“Kalau menyangkut tanah, hak bangsa itu menguasai
tanah dari Sabang sampai Merauke. Wilayah Indonesia adalah hak dari bangsa
Indonesia. Wilayah Indonesia dari Sabang sampai Merauke adalah hak 240.000.000
orang. Kalau seseorang punya hak milik, yang kelihatan memang hak milik dia.
Tapi dibalik itu ada hak milik 240.000.000 rakyat Indonesia.” ujar Bakti, dosen
hukum adat kebendaan Universitas Indonesia.
Kebersamaan ada di dalam konsep masyarakat hukum
adat. Sembilan belas wilayah hukum saling terikat dengan masyarakat hukum adat.
Tapi di dalam Undang-Undang Agraria berbeda, hak masyarakat hukum adat adalah
kelompok kesatuan yang paling kecil di dalam sistem ketatanegaraan Indonesa.
Masyarakat hukum adat kekuasaannya paling bawah, dibawah camat.
“Karena berbeda apa yang diatur dalam prinsip tadi
saling bertentangan. Contohnya, di dalam hukum adat orang berbeda desa dilarang
melakukan transaksi jual beli tanah. Tapi tidak mungkin diterapkan untuk
cakupan negara. Di Indonesia yang tidak boleh adalah berjual beli dengan warga
negara yang bukan berkebangsaan Indonesia. Prinsipnya sama, tapi ruang lingkup
berlakunya beda,” tambahnya.
Hal inilah yang menjadi salah satu akar permasalah
dari banyaknya sengketa tanah, lebih spesifiknya tanah adat, di Indonesia. Di
masyarakat hukum adat, terdapat istilah hak ulayat. Hal ulayat adalah hak dari
masyarakat hukum adat. Wilayah desa adalah hak ulayat orang desa tersebut.
Menurut hukumnya yang boleh disana hanyalah orang desa tersebut. Dalam pasal 6
UU Agraria, hak ulayat diakui sepanjang masih ada dan tidak boleh bertentangan
dengan kepentingan nasional dan undang-undang. Namun kadangkala dalam
prakteknya kepentingan nasional mengorbankan kepentingan minoritas, untuk
kebanyakan kasus, kepentingan masyarakat adat yang bersangkutan dan akhirnya
menimbulkan sengketa.
Sengketa berlarut sebenarnya dapat dihindari jika
dalam prakteknya tidak ada provokator dan perusahaan bersama negara telah
menerapkan etika dasar sebaik-baiknya. Ada beberapa cara yang dapat ditempuh.
Pertama, pemberdayaan masyarakat. Berdayakanlah masyarakat adat di daerah
bersangkutan, bangun infrastruktur seperti sekolah, tempat ibadah, dan
prasarana lain yang menunjang keselarasan masyarakat disana. Tidak perlu menyulap desa menjadi kota
kecil, cukup sarana dan prasarana yang berguna. Kedua, ganti rugi. Berikan jumlah
ganti rugi yang sesuai dan telah disepakati sebaik-baiknya antara kedua belah
pihak. Jika memang tempat tinggal masyarakat harus dipindahkan, gantilah dengan
wilayah tinggal baru yang paling tidak sama nyamannya. Jangan sampai salah
objek, pastikan dengan cermat batas-batas desa. Jika tidak ada, perjelaslah
terlebih dahulu dengan pihak-pihak terlibat. Ketiga, sertakan peta. Peta disini
sebagai pertanda daerah-daerah yang mutlak tidak boleh terjamah perusahaan,
contohnya saja yang wilayah yang dipercaya mengandung unsur magis bagi
masyarakat sekitar. Berikan batas-batas dan luas yang jelas.
Gulalilala
Permen kapas itu pahit sekali
Tapi ibu bilang aku berbohong
Mana mungkin pahit, pasti manis
Lalu kujilat lagi, kugigit, kukulum
Tetap saja rasanya sama
Aku bilang pahit
Bodoh kamu, itu manis
Makan saja sana, jangan banyak tingkah
Lalu aku percaya
Kulihat anak lainnya makan dengan bahagia
Tersenyum sumringah
Sambil menjilati jari-jari mereka
Jadi aku pikir itu manis
Dan jadi bahagia
Tidak lagi menganggap itu salah
Walau kapas yang kumakan rasa sianida
Kamis, 08 Agustus 2013
19000 Kupu Cahaya - Tulisan untuk Selamat Malam Indonesia
Menara itu selalu penuh, berkilau. Ketika
bahkan Thomas Edison belum lahir, tempat itu selalu benderang saat gelap,
kerlipan masiv, keindahan membutakan mata, dipenuhi 19748928395182887872282474 kupu
cahaya.
Jika.
“Bakar banci sialan itu” teriakan massa
membahana di langit yang kini masuk usia 2000. Separuh sayap kupu padam.
“Gantung saja dia. Kepalanya ikat di
alun-alun kota. Biar semua orang tau, biar generasi muda tau. Terlahir laki
tapi kemayu. Monyet!” Sepasang sayap kupu padam, luruh, mati.
“Bunuh. Potong anunya.” Dia yang kini
tengah jadi bintang itu pasrah, ketakutan. Mulutnya disumpal, badannya diikat.
Cuma airmata dan terkadang erangan ngrambul yang terdengar.
Sore itu genap 58 laki-laki mati
digantung. Hari itu 15 kupu cahaya meregang nyawa.
Jika dan jika.
“Religion hanya dua. Yey sinting mau
ganti jadi lima. Have you lost your mind?” bule Kanada itu mencampur bahasa
Indonesia sekenanya.
“Tapi mister, kalau agama ditambah, jasa
kita akan dipakai orang mister. Kaya, fund mengalir masuk.” pribumi itu mencoba
menyakinkan misternya.
“You sure?” ia tampak menimbang-nimbang
sesuatu.
“One hundred percent!” jawabnya mantap
sambil mengacungkan kedua jempol kasar legamnya di udara.
Jadilah orang-orang mulai disebar dan
minggu depan agama beranak jadi lima. Orang-orang punya Tuhan baru untuk
diagungkan. Seperenam kupu cahaya redup.
Jika, jika, dan jika.
Restoran-restoran baru telah dibuka.
Papan nama besar memenuhi tiap sudut kota. Walikota yang baru telah terpilih
dan ini pidato pembukanya,
“Jadi karena saya cadel, maka seluruh
kota dilarang menggunakan, melafalkan huruf ‘R’. Paham sodara-sodara?”
Sebagian menggerutu, sebagian mengangkat
alis, sebagian tertawa bahak sekali, dan sisanya peduli setan situ siapa.
Tapi pernyataan itu serius. menulis ‘R’ tangan dipotong. Salah sebut ‘R’ lidah dibakar. Yang
menggerutu bungkam, yang mengangkat alis sekarang pandai menjilat, yang tertawa
pasang wajah asal bapak senang, dan yang awalnya apatis kini realistis. Situ
adalah segalanya bagi keselamatan hidup saya.
5 tahun walikota itu menjabat, 276326 kupu
cahaya menjadi gelap.
Jika, jika, jika, dan jika.
“Rorang suku apa?” tanya
komandan biru tajam
“Biru pak.”
“Jangan bohong brengsek. Rambut rorang
merah, kulit rorang ungu, baju rorang jingga. Jelas-jelas rorang orang hijau.”
“Tapi pak, saya benar-benar biru.” Suara
lelaki yang diikat gemetar, ketakutan. Melihat tombak yang semakin dekat dengan
matanya.
“Alasan. Bangsa rorang seenaknya masuk ke
sini. Menguasai sumber daya kami, mengambil lahan kerja kami. Jadi kaya di
negeri kami. Kami cuma jadi kacung. Mau bangsa rorang rajin, rorang pandai,
saya tidak peduli. Kami yang harusnya hidup berlimpah.”
“Saya…….”
“Bunuh.” Komandan biru langsung memotong.
Lenguhan pilu membahana di udara. Tawa serapah terdengar.
Selusin kupu cahaya berubah legam,
meleleh jadi abu. Sepasang bola mata terinjak di tanah.
Jika dan lebih banyak jika.
Jika dan banyak sekali jika.
Jika dan belasan juta ribu jika.
Ratusan tahun berlalu sejak banyak
penemuan hebat diciptakan. Kini peradaban telah maju. Malam seterang siang.
Kelam seramai sepi. Tapi menara itu tidak pernah sama. Tidak ada kehidupan,
hilang harapan. Genesis baru kupu cahaya lebih suka meringkuk nyaman diselimut
kepompong, ogah mati muda.
Negeri penuh manipulasi, sistematis,
menyebar. Maka ketika orang-orang berperang demi mencari kedamaian, ribuan
orang disia-siakan nyawanya secara keji tidak beralasan, massa dibunuh serentak
mengatasnamakan Tuhan. Perbedaan menjadi masalah, yang berbeda dianggap salah.
Seringai dibalik senyum, mereka bahagia, mereka dipaksa bahagia, mereka yang tidak
tahu bahagia itu siapa. Bangkai kupu cahaya bahkan bisa bunuh diri 19000 kali
lagi.
Lagi
#1
Lagi-lagi pertahananku bobol
Kubangun benteng yang tinggi
Kupikir akan membuatmu menyerah
Tapi kamu datang dan aku kalah
Lagi-lagi aku berharap waktu berhenti
Dan kamu tidak akan pernah pergi
Kita akan mengobrol santai
Ataupun sunyi dalam diam yang membahagiakan
Lagi-lagi aku berharap tidak ada dia
Atau mereka atau dia dan mereka
Yang ada hanya kita berdua
Dan semua tawa yang mebuatku jatuh cinta
Tapi pertahananku kubangun lagi
Waktu tetap berjalan
Memang ada dia dan mereka
Dan kita tidak pernah menjadi kita
Lagi-lagi pertahananku bobol
Kubangun benteng yang tinggi
Kupikir akan membuatmu menyerah
Tapi kamu datang dan aku kalah
Lagi-lagi aku berharap waktu berhenti
Dan kamu tidak akan pernah pergi
Kita akan mengobrol santai
Ataupun sunyi dalam diam yang membahagiakan
Lagi-lagi aku berharap tidak ada dia
Atau mereka atau dia dan mereka
Yang ada hanya kita berdua
Dan semua tawa yang mebuatku jatuh cinta
Tapi pertahananku kubangun lagi
Waktu tetap berjalan
Memang ada dia dan mereka
Dan kita tidak pernah menjadi kita
Selasa, 06 Agustus 2013
Another Project to Forget
Oh society
Where they make you think
Being pretty is super necessary
And you must have that much money
And have great personality
Hey society
When they tell you
Sugar is sweet and cant be spicy
Hard to be loved
When you are awkward and ugly
Holy society
When religious people judge people
And non, judge the others too
And they think they are great
For what so called kindness and justice
Screw society
They tell you not to overthink
And doing thing just for this moment
When all you need is time
For you, your sad thought, and busy brain
Senin, 05 Agustus 2013
Project to Forget
Kid we are all this kind of type
Thinking about love and this stupid youth
While other may worry about
Tomorrow, their life and death
Kid most of us are this kind of type
Judge someone for who they really are
While we cant be ourselves
And keep complaining about what life might be
Kid some of us are this kind of type
Doing things that not make us happy
But still too afraid to start something
That we like the most, our secret belonging
Kid are you this kind of type?
Start thinking to yourself
Feel the glimpse in your heart
Kind of familiar ache because this reminds you of you
And your average coward life
Tempo, Kita, dan Jurnalisme Investigasi - Tulisan untuk Bali Journalist Week 2013
Tempo, Kita, dan Jurnalisme Investigasi
Dina Amalia Puspa (BOE FE UI)
Besyukurlah
wartawan yang memiliki instansi pendukung besar ketika melakukan jurnalisme
investigasi. Bagi yang tidak, jangan berkecil hati. Memang ada harga yang harus
dibayar ketika mengungkap kebenaran, tapi mudah-mudahan itu sepadan dengan hasil
yang didapat dan manfaat yang kita berikan.
Bentuk awal jurnalisme investigasi
pertama kali diperkenalkan pada 1620 oleh Benjamin Harris. Kala itu istilah
yang populer adalah crusading,
semangat perjuangan melawan kebobrokan pemerintah. Inilah yang diyakini menjadi
cikal bakal lahirnya jurnalisme investigasi dengan cakupan yang lebih luas.
Harian Indonesia Raya adalah media
pertama yang mulai menekuni jurnalisme investigasi secara serius pada masa Orde
Lama. Salah satu artikel yang terkenal adalah tulisan yang memuat laporan korupsi
besar-besaran yang dilakukan Pertamina. Tentu saja itu berujung pada
dibredelnya media tersebut oleh pemerintah. Memasuki Orde Baru, datang angin
segar bagi wartawan, kebebasan pers dijamin dalam UU nomor 40 tahun 1999. Walaupun banyak yang beropini ini
tidak diikuti oleh perkembangan jurnalisme investigasi yang signifikan.
Kenapa Jurnalisme Investigasi Kita Mandek?
Indonesia sebenarnya merupakan tempat
yang potensial untuk berkembangnya jurnalisme investigasi, apalagi terkait
korupsi. Sudah menjadi rahasia umum budaya korupsi telah mengakar di negeri
ini, sistematis dan menggurita. Namun sayangnya dalam membela kebenaran, masyarakat
belum bisa melakukan gotong royong sehebat para koruptor. Inilah salah satu
dari sekian banyak alasan mengapa jurnalisme investigasi mandek.
Beruntunglah wartawan yang memiliki
dukungan instansi besar di belakangnya. Paling tidak ketika melakukan suatu
investigasi, mereka akan diberi bantuan dana, akses, dan perlindungan setelah
berita diterbitkan karena jurnalisme investigasi yang sesungguhnya memang mahal
dan berisiko.
Bondan Winarno adalah salah satu dari
langkanya penulis investigatif yang justru merasakan pahitnya sistem peradilan
di Indonesia. Bukunya “Bre X : Sebongkah Emas di Kaki Pelangi” yang memuat
detail skandal tambang di
Kalimantan oleh Kanada dan dugaan pemalsuan kematian De Guzman, ahli geologisnya, mendapat kecaman karena turut
menyeret nama pejabat Indonesia yang disinyalir mendukung praktek tersebut.
Ia kalah di peradilan atas tuduhan
pencemaran nama baik dan harus mengganti biaya ganti rugi yang tidak sedikit.
Bukunya ditarik dari pasaran. Kala itu tidak ada media yang maju membantunya.
Padahal, untuk menghasilkan karya tersebut ia merogoh kocek sendiri dan
berpergian di beberapa bagian dunia untuk mengumpulkan bukti. Ia juga telah
melakukan verifikasi dengan badan internasional. Usaha kuat untuk mengungkap
kebenaran tidak mendapat dukungan. Siapa yang tidak sakit hati diperlakukan
seperti itu. Masyarakat bisa membedakan mana yang benar, tapi seringkali tidak
peduli.
Peran Wartawan dalam Kasus Korupsi di Indonesia
Tempo untuk sekarang ini kiranya adalah
media cetak yang paling bersinar dan mendekati dalam perihal jurnalisme investigasi di Indonesia,
meninggalkan media massa lain. Kita ambil contoh bagaimana media ‘bandel’ ini
menantang Polri terkait dugaan kasus korupsi pada 2010 dan 2012 lalu. Tempo
edisi 28 Juni-04 Juli 2010 memuat laporan investigasi “Rekening Gendut Perwira
Polisi” sebagai tulisan utama. Laporan ini memuat enam nama petinggi Polri
dengan jumlah saldo mencapai puluhan miliar rupiah yang dirasa tidak wajar untuk
dimiliki polisi jujur di akunnya.
Tempo memaparkan secara detail rincian
nominal dalam rupiah dan dollar yang sejauh itu berhasil ditelusuri. Tentu saja
ini mengejutkan khayalak ramai dan kepolisian sendiri, walau mungkin dalam arti
berbeda. Tindakan segera diambil. Beredar kabar 3000 eksemplar edisi tersebut
diborong habis di pagi hari pendistribusiannya. Bahkan Tempo sampai harus melakukan
cetak ulang.
Polri juga membentuk tim investigasi
internal untuk menyelidiki kasus tersebut dalam rangka perbaikan citra polisi
untuk pertanggung jawaban publik. Polri berupaya mengungkap kasus korupsi Polri?
Ironis. Hasilnya kiranya sudah sesuai dugaan, kesimpulan penyelidikan tertutup
itu menyatakan tidak ditemukan pelanggaran hukum dalam akun-akun tersebut.
Namun, Polri tidak merespon ketika diminta rincian laporannya, Pemborongan yang
tentu saja menghabiskan dana yang tidak sedikit dan keengganan Polri mengungkap
hasil penyelidikan internal mereka sudah cukup menjawab apakah laporan
ivestigasi Tempo tersebut bisa diyakini keabsahannya.
Selang dua tahun, Tempo kembali mencari
masalah dengan kepolisian. Dalam “Sim Salabim Simulator Sim” edisi April 2012.
Tajuk utama tersebut mengungkap dugaan kasus korupsi dalam proyek pengadaan
simulator kemudi sepeda motor dan mobil ratusan miliar rupiah oleh Korps Lalu
Lintas Kepolisian RI. Seminggu setelah terbit, Polri melayangkan hak jawab
melalui surat yang ditulis oleh Kadiv Humas saat itu. Surat tersebut menyatakan
bahwa tidak ada bukti telah terjadi tindak pidana korupsi di Korps Lalu Lintas Polri
berdasarkan hasil audit investigasi.
Tidak seperti kasus sebelumnya dimana Polri
sempat bisa lolos dengan hanya menyatakan kesimpulan hasil investigasi internal,
kali ini KPK langsung ambil bagian dengan membawa hasil penyelidikan yang bertolak
belakang. Dua jenderal aktif Polri,
Djoko Susilo dan Didik Purnomo, ditetapkan sebagai tersangka.
Dari sini terlihat bagaimana besarnya
andil jurnalis dalam mengungkap kasus korupsi di Indonesia. Walau sejauh ini
kebanyakan perannya sebatas dalam membawa suatu berita, melaporkan hasil
investigasi lanjut ketimbang menginisiasi untuk melakukan investigasi sendiri
dari awal. Tapi hal ini rasanya sudah cukup baik dimana kebenaran perlahan
mulai diungkap berkat peran wartawan.
Media menjadi sarana populer bagi para whistleblower untuk membocorkan
infomasi. Tentu saja informasi ini nantinya akan diolah lebih lanjut dan
diselidiki kebenarannya oleh para wartawan sehingga bisa menghasilkan tulisan
investigatif yang dapat dipertanggung jawabkan. Tidak berhenti sampai disitu,
ketika satu berita fenomenal dimunculkan, ini akan menjadi pemicu media lain
untuk memberitakan hal yang sama, entah itu perkembangan atau fakta baru sampai
akhirnya membangun kesadaran publik bahwa telah terjadi sesuatu yang salah di
negeri ini.
Mahasiswa
Jangan Takut
Bagaimana jika nasib saya seperti Bondan
tadi? Jalan untuk mengungkap kebenaran, apalagi yang krusial, memang tidak
pernah mudah. Namun, jika semangat mahasiswa calon wartawan masa depan sudah
melempem dari sekarang, nasib jurnalisme Indonesia ke depannya kiranya sudah
dapat diprediksi. Paling tidak untuk Bondan, namanya telah menjadi bagian yang
tak terpisahkan dari sejarah jurnalisme investigasi di Indonesia.
Ada pula mahasiswa yang sangat berapi-api
ingin menciptakan sesuatu yang besar, untuk jurnalis katakanlah berita yang fenomenal.
Seringkali mereka lupa bahwa hal besar berawal dari serangkaian hal kecil. Dalam
seminar jurnalisme investigasi yang pernah saya ikuti, Dandhy Dwi Laksono,
penulis buku “Jurnalisme Investigasi” yang kala itu menjadi pembicara,
mengadakan lomba dimana semua peserta dibagi menjadi kelompok-kelompok kecil. Akhirnya
terbentuk lima belas kelompok kecil yang diberi nomor.
Semua kelompok maju satu per satu secara
terpisah dan diberi tugas dengan syarat jangan sampai peserta kelompok lain
tugas yang diberikan. Tapi namanya juga anak-anak kepo, selesai acara terungkaplah bahwa tugas untuk semua kelompok
sama. Kami harus mencari informasi sebanyak-banyaknya terkait setiap anggota
kelompok target. Cukup unik bukan? Jadilah dalam rentang waktu satu hari (dalam
hal ini beberapa jam sebelum menjelang pagi) semua orang menjadi curiga ketika
ada peserta lain yang mengajak berkenalan.
Saya ingat betul pemenang pertama adalah
kelompok yang berhasil menyajikan rekap nilai kuliah, fotokopi SIM, dan jalur
pulang dari tempat kuliah ke rumah. Sedikit menyeramkan memang, bahkan target
pun merasa heran darimana lawan bisa mendapatkan data-data tersebut. Tapi saya
suka sekali pesan yang coba disampaikan oleh Dandhy. Tentu saja kita tidak
diajarkan menjadi penguntit, tapi disuguhkan bukti nyata bahwa siapa pun bisa
mulai melakukan observasi sebagai langkah awal untuk menciptakan karya investigasi.
Mengutip ucapan Bondan, “Setiap wartawan Indonesia bisa menghasilkan karya
investigatif. Kuncinya dedikasi, dedikasi, dan dedikasi.”
Langganan:
Komentar (Atom)
