Kamis, 08 Agustus 2013

19000 Kupu Cahaya - Tulisan untuk Selamat Malam Indonesia



Menara itu selalu penuh, berkilau. Ketika bahkan Thomas Edison belum lahir, tempat itu selalu benderang saat gelap, kerlipan masiv, keindahan membutakan mata, dipenuhi 19748928395182887872282474 kupu cahaya.

Jika.

“Bakar banci sialan itu” teriakan massa membahana di langit yang kini masuk usia 2000. Separuh sayap kupu padam.
“Gantung saja dia. Kepalanya ikat di alun-alun kota. Biar semua orang tau, biar generasi muda tau. Terlahir laki tapi kemayu. Monyet!” Sepasang sayap kupu padam, luruh, mati.
“Bunuh. Potong anunya.” Dia yang kini tengah jadi bintang itu pasrah, ketakutan. Mulutnya disumpal, badannya diikat. Cuma airmata dan terkadang erangan ngrambul yang terdengar.
Sore itu genap 58 laki-laki mati digantung. Hari itu 15 kupu cahaya meregang nyawa.

Jika dan jika.

“Religion hanya dua. Yey sinting mau ganti jadi lima. Have you lost your mind?” bule Kanada itu mencampur bahasa Indonesia sekenanya.
“Tapi mister, kalau agama ditambah, jasa kita akan dipakai orang mister. Kaya, fund mengalir masuk.” pribumi itu mencoba menyakinkan misternya.
“You sure?” ia tampak menimbang-nimbang sesuatu.
“One hundred percent!” jawabnya mantap sambil mengacungkan kedua jempol kasar legamnya di udara.
Jadilah orang-orang mulai disebar dan minggu depan agama beranak jadi lima. Orang-orang punya Tuhan baru untuk diagungkan. Seperenam kupu cahaya redup.

Jika, jika, dan jika.

Restoran-restoran baru telah dibuka. Papan nama besar memenuhi tiap sudut kota. Walikota yang baru telah terpilih dan ini pidato pembukanya,
“Jadi karena saya cadel, maka seluruh kota dilarang menggunakan, melafalkan huruf ‘R’. Paham sodara-sodara?”
Sebagian menggerutu, sebagian mengangkat alis, sebagian tertawa bahak sekali, dan sisanya peduli setan situ siapa.
Tapi pernyataan itu serius.  menulis ‘R’ tangan dipotong.  Salah sebut ‘R’ lidah dibakar. Yang menggerutu bungkam, yang mengangkat alis sekarang pandai menjilat, yang tertawa pasang wajah asal bapak senang, dan yang awalnya apatis kini realistis. Situ adalah segalanya bagi keselamatan hidup saya.
5 tahun walikota itu menjabat, 276326 kupu cahaya menjadi gelap.

Jika, jika, jika, dan jika.

“Rorang suku apa?” tanya komandan biru tajam
“Biru pak.”
“Jangan bohong brengsek. Rambut rorang merah, kulit rorang ungu, baju rorang jingga. Jelas-jelas rorang orang hijau.”
“Tapi pak, saya benar-benar biru.” Suara lelaki yang diikat gemetar, ketakutan. Melihat tombak yang semakin dekat dengan matanya.
“Alasan. Bangsa rorang seenaknya masuk ke sini. Menguasai sumber daya kami, mengambil lahan kerja kami. Jadi kaya di negeri kami. Kami cuma jadi kacung. Mau bangsa rorang rajin, rorang pandai, saya tidak peduli. Kami yang harusnya hidup berlimpah.”
“Saya…….”
“Bunuh.” Komandan biru langsung memotong. Lenguhan pilu membahana di udara. Tawa serapah terdengar.
Selusin kupu cahaya berubah legam, meleleh jadi abu. Sepasang bola mata terinjak di tanah.

Jika dan lebih banyak jika.

Jika dan banyak sekali jika.

Jika dan belasan juta ribu jika.

Ratusan tahun berlalu sejak banyak penemuan hebat diciptakan. Kini peradaban telah maju. Malam seterang siang. Kelam seramai sepi. Tapi menara itu tidak pernah sama. Tidak ada kehidupan, hilang harapan. Genesis baru kupu cahaya lebih suka meringkuk nyaman diselimut kepompong, ogah mati muda.

Negeri penuh manipulasi, sistematis, menyebar. Maka ketika orang-orang berperang demi mencari kedamaian, ribuan orang disia-siakan nyawanya secara keji tidak beralasan, massa dibunuh serentak mengatasnamakan Tuhan. Perbedaan menjadi masalah, yang berbeda dianggap salah. Seringai dibalik senyum, mereka bahagia, mereka dipaksa bahagia, mereka yang tidak tahu bahagia itu siapa. Bangkai kupu cahaya bahkan bisa bunuh diri 19000 kali lagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar