Senin, 31 Agustus 2015

Hujan di Mata Arina

Tiba-tiba semua hal terjadi di luar rencana. Hujan di mata Arina tak pernah padam, pun bara api yang tak kunjung redam. Tak ada yang bisa disalahkan. Tak ada yang dapat dilakukan. Jalan yang ditempuh Arina mulai berputar. Peluh berganti keluh. 

Arina, bagaiama rasanya? Untuk pernah percaya kamu mampu lalu seolah semesta memojokanmu. Kehilangan harapan.

Arina, bagaimana rasanya? Berada di persimpangan namun semua terlihat seperti jalan buntu. Kehilangan tujuan.

Arina, bagaimana rasanya? Masih bertahan walau kamu tidak lagi memiliki pegangan. Kehilangan segalanya.

Arina, bagaimana rasanya?

Diremehkan.

Dosamu dibongkar.

Jumat, 19 Juni 2015

Nilai Perempuan

Ada seorang perempuan berpikir bahwa nilainya adalah dari tubuhnya. Maka ia terima saja ketika kekasihnya mulai nakal menjamah, walau tak rela.

Ada seorang perempuan berpikir bahwa nilainya adalah dari wajahnya. Maka ia terima saja ketika cantiknya dijual, walau ia pun mulai lelah.

Ada seorang perempuan berpikir bahwa nilainya adalah dari otaknya. Lalu ia sangka semua yang datang padanya hanya mau memanfaatkannya.

Ada seorang perempuan berpikir bahwa nilainya adalah dari hatinya. Maka ia yang awalnya tulus kemudian bersusah payah mempertahankan kebaikannya.

Ada seorang perempuan berpikir bahwa nilainya adalah dari imannya. Perlahan ego datang, lalu tanpa sadar ia menganggap perempuan lain tak lebih baik darinya.

Kamis, 04 Juni 2015

Tentang Bunga di Kulkas

Pemberianmu selalu ingin kusimpan. Mungkin untuk menjadi pengingat kau sempat mampir. Mungkin pula untuk meyakinkan diriku kau pernah hadir. Bunga itu, mawar, genap sepuluh, sedikit layu. Kelopaknya tidak merekah pun tidak benar-benar merah. Bunga tak laku.

Kau membawanya di saat hujan, dengan senyum polos dan rambut basahmu. Meminta maaf datang terlambat, beralasan cuaca sedang tak bersahabat. Aku cemberut, pura-pura saja cemberut. Semata ingin cari perhatianmu. Semata sudah tak sabar menunggu. Lalu kau berikan aku itu. Walau tak rela, aku tertawa. Kau kesayanganku, pantas saja begitu.

Setahun telah berlalu sejak hujan dan mawar malam itu. Katamu buang saja. Kataku ingin kusimpan selamanya. Kau kesayanganku, selalu saja begitu. Walau kesal, kau tertawa, berjanji akan ada sejuta mawar setelahnya. Aku pura-pura marah, tak rela ada sejuta maaf lainnya.

Siapa sangka ada sejuta maaf setelahnya. Tanpa mawar.

Siapa sangka tak ada sejuta maaf setelahnya. Hanya ada mawar, genap sepuluh, tersimpan di kulkas. Sudah lama layu.

Kau kesayanganku, tetap saja begitu.

Kau kesayanganku, mungkin saja begitu.

Kau kesayanganku, dulu pernah begitu.

Sabtu, 30 Mei 2015

K-POP! - Tulisan untuk Sebuah Lentera

“Omo omo… Gimana ini Noah mau tampil minggu depan. Pokoknya kita harus dapet tiketnya. Pasti antriannya panjang banget.”
Benar saja, bahkan setahun sebelum Noah akan tampil di distrik Gangnam, tiketnya sudah terjual habis. Para remaja yang didominasi putri itu rela mengantri tiket bahkan dari malam sebelumnya. Mereka bermalam di booth. Esoknya, semakin siang antrian semakin mengular, walau matahari saat itu sedang tidak bersahabat. Maklum saja, waktu itu memasuki bulan Juni, awal musim panas di Korea.
Sejumlah media lokal pun datang meliput fenomena Indonesian Pop di kalangan para remaja Korea.
“Annyeonghaseyo, boleh kita wawancara sebentar. Kenapa sih kamu suka sekali sama Noah?”
“Personelnya ganteng-ganteng, lagunya asik-asik. Ariel oppa we love youuu!!!” jerit remaja putri itu histeris dibarengi teman-temannya. Wartawan itu mengangguk-angguk.
Kejadian di atas umum terjadi. Hampir satu dekade ini demam Indonesia melanda Korea. Indonesia berkembang menjadi negara maju dengan pendapatan per kapita yang menggembirakan per tahunnya. Semua berkat hidupnya industri kreatif dan kemajuan teknologi disana. Padahal, berpuluh tahun sebelumnya kedudukan Indonesia dan Korea sama, bahkan Indonesia lebih miris. Namun kini, Korea jauh tertinggal.
Indonesia menjadi kiblat fashion, kecantikan, budaya, dan gaya hidup. Demam Indonesia terjadi di seluruh penjuru Korea. Tentu saja ini semua berkat sinetron Indonesia yang terkenal memiliki plot cerita kuat dengan aktor yang rupawan.
“Wah lihat deh, noona itu cantik sekali, seperti gadis Indonesia.” Kini, gadis Indonesia menjadi standar baru kecantikan di Korea.
“Nona Suzy, Anda kerap dipuji mirip gadis Indonesia. Bagaimana tanggapan Anda?” tanya seorang wartawan saat jumpa pers. Suzy Miss A menjawab dengan sumringah.
Sinetron Ganteng-Ganteng Serigala menjadi sinetron yang banyak diunduh per 2014. Di tahun-tahun sebelumnya, Tukang Bubur Naik Haji. Cintra Fitri, dan Para Pencari Tuhan menjadi favorit. Fenomena Indonesian Wave juga mengangkat karya lama yang sebelumnya telah sukses di Indonesia. Sebut saja Tersanjung, Jinny Oh Jinny, Tuyul dan Mbak Yul, Gerhana, Bawang Merah Bawang Putih, Pernikahan Dini, Si Dul Anak Betawi, Keluarga Cemara, Saras 008 namanya terdengar kembali dan mendapat apresiasi luar biasa dari rakyat Korea. Film-film Indonesia lama pun menggaung lagi. Misalnya, Petualangan Sherina dan Ada Apa Dengan Cinta. Bahkan, hutan tempat Sherina diculik menjadi tempat wisata wajib dikunjungi rakyat Korea saat berlibur ke Indonesia.
Setiap hal pasti memiliki sisi positif dan negatif. Contohnya saja, Indonesian Wave dinilai membunuh identitas Korea, terutama di industri kreatif. Banyak drama series Korea yang menjiplak sinetron Indonesia. Bahkan, pernah ada drama series yang meniru plek plek, hingga menyebabkan perwakilan dari pihak SinemArt Production beradu dengan HB Entertainment. Tentu saja HB Entertainment mundur sebelum kasus dibawa ke pengadilan.
Reality show Indonesia menjadi panutan. Termehek-mehek, Jika Aku Menjadi, Jejak Petualang, Salah Sambung, Pulang Kampung, dan Dunia Lain dimodifikasi oleh Korea dan langsung mendapat cercaan. Remaja Korea marah, mengumpat-umpat di media sosial. Mereka menyebut negara mereka sebagai negara plagiat. Walau, ada beberapa nasionalis Korea yang membela dengan alasan biarkan negara mereka berkembang sampai bisa menemukan jati dirinya.
Hal serupa juga terjadi di industri musik. Para girl band maupun boy band Korea yang memasukkan genre dangdut dalam musik mereka langsung mendapat cercaan sok ke-Indonesia-an sekali, Indonesia yang gagal. Para penggemar tidak suka idola mereka ditiru, maksa kata mereka. Fanatisme tidak berhenti sampai disitu. Remaja Korea juga menjadi konsumtif. Apapun yang berhubungan dengan idola mereka dibeli, walau nominalnya mencapai ratusan ribu won. Miris mengingat masih banyak rakyat Korea yang hidup tidak layak, untuk makan pun susah.
Restoran Indonesia semakin menjamur. Katanya rasanya juara, bumbunya gurih dan kaya. Rumah makan Padang buka cabang dimana-mana, pun restoran Sunda, Manado, dan lain-lain. Tteokbokki kalah pamor. Sekarang remaja menggandrungi Cilok, apalagi jika ditambah kecap sambal dan bumbu kacang. Walaupun harga Cilok jauh lebih mahal, yang menurut orang tua Korea rasanya hampir sama. Tteokbokki yang dijajakan di pinggir-pinggir jalan sudah sepi pembeli.
Di antara semua rumah makan Padang yang menjamur di Korea, yang terkenal adalah RM Sederhanah. Alasannya, pengunjung yang datang bisa berfoto mengenakan baju adat Sumatera Barat. Strategi pemasaran ini akhirnya dicontoh restoran Indonesia lainnya. Tentu yang paling menarik adalah Bali dengan Reog-nya. Beberapa restoran Korea mencoba mencotohnya. Mereka menyediakan hanbok di restoran-restorannya. Tapi, tetap saja tidak berhasil menarik pengunjung.
Sari Ayu dan Martha Tilaar sangat terkenal di Korea. Kedua merk kosmetik asal Indonesia ini mulai dilirik remaja Korea. Banyak online shop yang membuka pre order untuk kosmetik Indonesia karena harga kosmetik Indonesia di outlet Korea menjadi sangat mahal. Kemasan yang menarik dan kulit orang Indonesia yang terkenal apik membuat penjualan kosmetik laris manis bagai kacang goreng, istilah yang kerap digunakan orang Indonesia.
Gadget Indonesia menjamur di Korea, bahkan sebenarnya dunia. Penjualannya menyaingi Apel, merk fenomenal asal Amerika. Tidak heran mengingat fitur yang modern dan metode pemasaran yang tepat menyasar target pasar. Menyikapi hal ini, Korea mulai mencoba membuat perangkat elektronik mereka sendiri. Namun, apa daya, akibat anggaran Research and Development yang kecil di Korea dan kurangnya apresiasi dari pemerintah maupun penduduk lokal, karya anak bangsa akhirnya hanya numpang lewat, sekali-kali muncul di media lokal tapi setelah itu tidak terdengar lagi gaungnya.
Menteri Kebudayaan Korea sudah satu periode ini berpikir keras bagaimana Indonesian Wave bisa ditiru oleh Korea agar nantinya dunia juga mengenal Korean Wave, walau ia sadar betul belum tentu ini akan sesukses demam Indonesia di Asia. Alasannya, nasionalisme remaja semakin mati. Banyak budaya Korea yang akhirnya diklaim negara tetangga, Jepang. Kalau sudah seperti itu rakyat baru heboh, remaja semangat sekali berkoar-koar, walau kebanyakan hanya melalui media sosial. Maklum, sebelumnya mereka masih sibuk mencari tahu style terbaru artis Indonesia idola mereka dan sinetron yang mereka bintangi.
Indonesia tentu sadar betul hype nya di Korea. Kabar terakhir, Januari lalu, pusat kebudayaan Indonesia dibangun di Korea. Alasannya Korea merupakan salah satu negara dengan penggemar Indonesia paling banyak. Bahkan, menurut pengakuan Kepala Pusat Kajian Industri Indonesia di salah satu media lokal, band-band Indonesia dijadwalkan paling sering tampil di Korea. Misalnya saja pada akhir tahun ini ada Setia Band, tahun depan sudah mengantri Noah, Gigi, Armada, Garasi, dan Trio Macan.
Pusat kebudayaan ini disambut sangat baik oleh fans Indonesia, apalagi acara yang ditawarkan sangat Indonesia sekali. Pusat kebudayaan Indonesia bekerja sama dengan pemerintah Korea mengadakan Pekan Indonesia yang dijadwalkan tiap satu tahun sekali di distrik Gangnam. Alasannya kawasan Gangnam berpopulasi padat dengan perumahan paling makmur di Korea, demi gengsi.
Dalam Pekan Indonesia, masyarakat Korea bisa menikmati jajanan Indonesia seperti lemper, getuk, onde-onde, klepon, kue lapis, combro, dan lain-lain. Walau harga yang dipatok relatif tinggi, tetap saja jajanan ini laris-manis dan hampir selalu ludes. Selain itu, diadakan juga lomba dan kursus memasak masakan Indonesia. Tahun ini temanya nasi tumpeng.
Namun, acara yang paling menarik perhatian pengunjung adalah lomba tarian tradisional Indonesia, selain pentas band Indonesia sendiri tentunya. Tiap tahun pesertanya semakin membludak. Biasanya, yang menjadi favorit pilihan peserta adalah tarian Bali, Padang, atau Jawa. Ada-ada saja variasi para remaja Korea ini, misalnya saja tahun ini ada yang menggunakan angklung saat melakukan sinden.
Kebetulan hari itu saya datang, iseng-iseng diajak teman. Perasaan kagum dan kecewa bercampur jadi satu. Kagum dengan negara orang, kecewa dengan orang negara sendiri. “Sakitnya tuh disini di dalam hatiku. Sakitt…. Sakittt…..” Lagu dangdut Cita Citata berkumandang seolah ingin membuat saya lebih galau, seolah mencemooh fanatisme orang Korea yang menganaktirikan tanah airnya sendiri. Kepala saya pening.

Senin, 20 April 2015

Jamuan Malam

Aku datang dalam bayang kunang-kunang. Kau hilang serupa pendar malam. 

Di anggur yang kau minum, telah kumasukkan racun. Mematikan tapi tak membuatmu binasa. Di roti yang kau makan, telah kumasukkan bisa. Tenang, hanya akan membuatmu gila.  Di sirup yang kau serup, telah kumasukkan sumpah. Pun kuludahi ranjangmu. Kukutuk jubah barumu. Kau ada. Tapi tak ada.

Di taman bungamu, kuternak hama. Di lemari kesayanganmu, kusimpan senjata, kalau-kalau kau tertarik mengakhiri hidupmu. Di langkahmu, kutenun kutukan. Entah kau dengar atau tidak, aku datang, kawan. Lawan! Oh, kau masih tak mampu.

Masihkah lidahmu tajam? Mulutmu lebar? Kau tak bisa sombong sekarang, bukan? Kenapa kau diam? Dulu suaramu paling lantang. Manusia lemah dan tanpa daya, apa yang kau cari? Manusia lemah dan penuh dengki, apa yang kau cari? Semua ada di sini. Semua hilang di sini. Rehat lah. Kau tampak lelah.

Dengar, ini kisah pilu diberi nyanyian rindu. Amboi. Gampang sekali menipu. Gampang sekali ditipu.

Tertipu!

Sudah kau diam saja.

Minggu, 19 April 2015

Lusa Kami Pulang

Ibu, aku jatuh cinta. Sayang, tak seindah yang kukira.
Kakak, aku ingin membeli sayap. Yang paling putih, besar, dan lebar.
Adik, kau mau ikut terbang? Kutunjukkan padamu dunia dari langit.
Ayah, tangkap aku ketika lelah, ya?
Keluargaku seumpama cemara abadi, bertahan di empat musim, tangguh di empat iklim. Tak banyak yang mengerti kami pun tak banyak yang kami mengerti. Layaknya hidup. Layaknya mati. Tiap malam kami bercengkrama. Tiap pagi kami saling lupa. Kami berbaur, namun tak melebur. Kami berbeda. Kami sama. Saling silang. Saling menghilang.

Kau tahu, tidak mudah menjadi kami. Pun itu adalah hal termudah yang kami jalani. Tidak gampang menjadi diri sendiri, makin sulit tuk bersandiwara. Pernah kucoba sekali. Diberi jiwa tapi merasa tak punya. Hidup hanya untuk tidak mati. Mati hanya untuk tidak hidup. Gila! Hanya sekali itu orang menganggapku waras.

Saat pagi menjelang dan malam menghilang, senyap datang. Percakapan basa-basi di jalan. Basi! Ramai tapi sepi. Sepi nyatanya ramai. "Kau tahu, apa itu keluarga? Aku rasa mereka yang menerimamu apa adanya. Mereka yang membentukmu jadi sebagaimana adanya."

Basi! Sudah kubilang hanya basa-basi.

Tapi sepi.

Ramai tapi sepi.

Sabtu, 18 April 2015

-Ti-Tik-

Dalam sepenggal lirik pagi, embun berpuisi, "Matahari yang indah, bersinar secerah yang kau bisa. Di sini aku menantimu, walau kau kan buatku binasa. Manusia yang angkuh, kau bebas mengagumiku."

Wajah lelah. Mata penuh luka. Nona, kau lupa tidak semua manusia punya hidup yang sama. Buatmu, hidup itu mudah. Buatku, lain lagi adanya. Nona, kau lupa, cerita tidak hanya seputar cinta pun kehilangan. Kisahku tentang bertahan. Kisahmu tentang tak dipermalukan. Nona, kau punya pilihan. Beribu banyaknya semau yang kau mau. Kenapa kau masih disini?

Tuan, bisakah kau hentikan waktu? Sekejap. Sebentar. Tuan, apa kau bisa mendongeng? Aku sedang ingin terlelap. Tuan, apa manusia diberi hati berbeda satu dan lainnya? Mengapa punyaku begitu lemah, sedang engkau segagah baja. Jiwa lelah. Senyap penuh luka. Kenapa aku tetap disini?

Jumat, 17 April 2015

Biya.

Biya. Namamu sederhana. Mudah dilafalkan. Enak didengar.
Biya. Aku datang. Kini telah pulang. Apakah kau masih disana?
Biya. Masihkah kau ingat padaku? Apakah bagimu aku ada?
Biya. Bagaimana kabarmu? Oh ya, kau makin pandai bicara?
Biya. Aku rindu tingkah lucumu. Jangan takut padaku, ya?
Biya. Maaf.
Biya, ini ayah.

Alun-Alun Waktu


Jam dinding diam, sekelilingnya berputar. Tetes air terdengar. Gadis itu ingin menutup mata, juga telinga, apa daya tangannya kaku. Tangan lain menjamah. Hatinya beku. Seumur hidup ia kira manusia baik semua. Ternyata ada maunya. Sepanjang usia ia kira tiap jiwa tanpa pamrih. Ia harus membayar mahal. Harga dirinya murah.

Jam dinding berputar, sekelilingnya diam. Ia kembali ke masa lalu. Saat roti enak dan selimut tebal ada untuknya tiap malam. Kini yang datang mereka yang tak diharapkan. Ia teringat ibunya, mencoba melupakan abangnya. Ia akan selalu merengek meminta disenandungkan nyanyian merdu ibunya. Ia akan selalu merengek, hanya lagu pilu. Ia berkelana ke masa depan. Terhempas. Ia di masa sekarang. Dingin.

Minggu, 22 Februari 2015

What Your Mom Said When Your Father Left

1.
She told me she's insane.
She told me she's like a kid.
She never told me he's a jerk.
She never told me he's a creep.
And maybe that what makes me hate him even more.

2.
She has this one thing. 
She can't tell anyone about it.
He has this one thing.
He won't tell anyone about it.
They have this one thing, they don't have anything.

3.
She said I may be happy and he won't know.
She said he may be happy and we won't know.
We should be happy. 
We should have known.
He doesn't have to know.

Melankolia

Rahasia itu menghilang, bersama bianglala yang berputar kencang.
Rasa itu memudar, bersama ia yang hilang tanpa kabar.
Rindu itu datang, bersama kenangan.
Jarak. Helaan nafas. Erangan panjang.

-----

Malam yang sama. Gadis itu mengenakan baju tidur satin kesukannya. Ia magis, cantik dengan cara yang asing, dengan caranya. Saya dengan mudah tahu dia rapuh, dengan cepat paham senyum sendunya, dengan hati-hati berupaya tidak melukainya. Tanpa sadar, saya terpaku. Mungkin karena tatapan kosongnya, mungkin juga karena matanya yang indah.

Jika ia lukisan, jika manusia bisa diibaratkan dengan warna, gadis itu adalah campuran biru dan jingga muda. Saya akan memilih tone paling pucat untuk melukiskannya. Kemudian akan saya tambahkan ilalang dan pot bunga, sedikit awan dan sedikit gerimis. Ia akan menjadi potret hangat juga dingin yang sempurna.

Ia selalu membawa padi di sakunya. Entah untuk apa. Ketika ditanya, ia hanya diam, lalu tersenyum. Tapi kemudian ia memberi saya satu. Saya ingin menolak, tapi tak tega melihat ia yang penuh harap. Saya mengangguk. Ia mendekap padinya kemudian memberikannya ke saya. Saya melakukan hal yang sama. Untuk pertama kali, saya lihat tatapan matanya bercahaya. Ia berpendar.

Senja yang sama. Kami menghabiskan waktu di tepi ladang kapas. Dalam hening dan semilir angin, kenangan datang, perlahan tanpa bisa dihentikan. Saya mulai menulis, entah tentang apa, entah untuk siapa. Gadis itu hanya memandang jauh, sesekali bangkit, berjalan, lompat, berlarian. Serbuk putih bertebaran. Saya mengulum senyum.

Kami pulang. Ia mengumpulkan batu paling cantik sepanjang jalan. Lalu akan diletakannya di atas daun-daun gugur, atau di tepi pohon rindang, atau dekat bunga yang malu-malu mekar. Langkah saya pelan. Langit sore itu hangat sekali.

Selasa, 17 Februari 2015

Tentang Ia

Saya bisa jatuh cinta. Ke satu orang. Ke dua orang. Ke tiga orang. Di saat yang sama.
Saya mudah jatuh cinta. Ke satu orang. Ke dua orang. Ke tiga orang. Di saat yang sama.
Saya selalu jatuh cinta. Ke satu orang. Ke dua orang. Ke tiga orang. Di saat yang sama.

-----

Saya tahu. Sayangnya saya hanya bisa, mudah, dan selalu jatuh cinta ke kamu. Di saat yang sama.
You can run. Away. Runaway. As fast as you can. As coward as you are going to be.

Rabu, 04 Februari 2015

Tentang Raga

Apa kabar Raga? Bagaimana kabarmu? Ah aku jadi mengulang kalimat yang sama.

Raga, kini disampingku bukanlah kamu. Lucu, mengingat dulu kita telah membicarakan masa depan yang jauh. Rencana. Tentang rumah. Rencana. Tentang berapa jatah belanjaku sebulan. Rencana. Tentang pekerjaan impianmu. Rencana. Tentang segala hal. Tentang segalanya.

Raga, kini disampingmu pun bukanlah aku. Aneh, seingatku kita telah berandai dengan jumawa. Tentang anak pertama. Tentang namanya. Tentang bagaimana ia akan menikmati hidupnya. Bagaimana ia mengenyam pendidikannya, pergaulannya, bahkan kekasihnya. Lihat kan, betapa sombongnya kita.

Raga, apa kamu bahagia?

Raga, aku harap kamu bahagia.
Cinta yang datang belakangan. Lucu. Ia meninggalkan kenangan.

Sabtu, 10 Januari 2015

L-A-L-A-L-A-L-U

"Di kepala saya, kamu adalah orang terakhir yang saya harapkan menghakimi saya. Terima kasih telah membuktikan saya salah secepat ini. Saya tidak punya cukup waktu untuk menjelaskan diri saya ke kamu."

Dia lalu pergi. Hilang bersama kenangan. Ditelan genangan.

Hujan menembus awan. Bintang-bintang kesepian. Langit muram.

Saya tetap tinggal.

Mereka menghilang.

Kamis, 08 Januari 2015

Abaka

Saya tahu.

Saya tahu dari gerik tubuhmu, mereka tak pandai menipu. Saya tahu dari senyum malu-malumu. Saya tahu dari suara kenesmu. Saya tahu dari bibirmu yang lebih merah muda ketika akan bertemu dengannya. Saya tahu dari mata berbinarmu. Saya tahu dari rokmu yang mensubtitusi jeans belelmu. Saya tahu dari renda pita yang mengkomplementer rambut ikalmu. Saya tahu dari pinsil alismu, dari maskaramu, dari foundationmu, dari bedakmu.

Saya tahu kamu jatuh cinta padanya.

Tapi sayang kamu tidak tahu.

Selasa, 06 Januari 2015

Iya, Kamu.

Gimana ya cara saya bilang ke teman saya bahwa hidup bukan hanya tentang jatuh cinta dengan orang yang salah?