Sabtu, 27 Desember 2014

Senin, 22 Desember 2014

Bsshhhhzzz

Dukun-dukun di sawah. Melafal mantra. Tapi mereka tak mau pergi. Setan! Disembur air tak mati-mati. Mereka sudah mati. Diberi bunga. Kegirangan. Wangiiiii! Dasar norak. Tapi sudah jadi setan mana peduli lagi. Manusia ketakutan. Mereka makin girang. Om dukun lelah. Anak istri di rumah. Menunggu diberi makan. Setan harus punah. Agar mendapat uang. Demi sebakul nasi dan biaya listrik bulan ini.

Kue bertingkat

Saya masih menyimpan goresan tangannya. Yang hurufnya sangat nyastra. Yang selalu membuat saya jatuh cinta.

Hujan dan Kematian

Setiap hujan selalu ada yang mati.

Bapak tergelincir ke sungai di hujan bulan Februari. Emak menyusul tiga tahun lima bulan kemudian. Di hujan bulan Juli, digigit ular saat mencari kayu di hutan. Akak sakit-sakitan, kekurangan gizi dan tertekan bapak emak dijemput maut. Tiap hujan datang, aku ketakutan. Tidak rela kehilangan lagi sekarang.

Minggu, 27 Juni

Awan mendadak kelabu. Petir menyambar. Hujan datang dengan sambutan. Gerimis. Badai. Aku segera berlari pulang, ingin memastikan akak masih bernapas. Tanah licin. Beberapa kali aku hampir terjatuh. Kukencangkan lariku, tak acuh.

Tapi, kurasakan ada bayang-bayang. Di pohon sebelah, berpindah ke pohon seberang, berpindah ke pohon di sudut kiri, lalu kanan. Cerita leluhur kala seperti ini, peri hutan berkeliaran. Mencari mangsa, mencari anak nakal. Aku bukan anak nakal maka aku berani. Akak ku lebih penting, ku tantang peri hutan!

Hujan makin deras. Lariku makin kencang. Jarak pandangku makin dekat. Tapi, itu rumah. Aku telah pulang. Kuberlari ke kamar, kusambar gagang pintu. Kulihat akak, ia lemah, tapi belum jadi mayat.

Minggu, 27 Juni. Malam hari.

Hujan lagi. Takut kembali.

Senin, 28 Juni. Dini hari.

Aku terbangun. Oleh ketukan di pintu, di jendela, di atap. Semua terasa bergemuruh. Ada badai. Ada gempa. Aku coba berlari, tapi kaki ku kaku. Ngilu. Bengkak. Kemarin di hutan terinjak sesuatu. Langit kamarku mulai roboh. Akak ku ada di pintu, tertatih ingin menyambarku.

Telambat. Di hujan bulan Juli maut datang. Bapak, Emak, kini aku pulang, ke kalian. Semesta sangat berkilauan.

Bintang-bintang ada jutaan. Langit gelap. Terang. Aku rindu.

Rabu, 17 Desember 2014

Menolak Pagi


“Hidup saya menyedihkan. Kamu seharusnya tidak ada disini. Kamu seharusnya tidak pernah terlibat dengan saya dari awal. “

“Dengar, saya punya kisah.”

“Saya sudah tidak ada waktu untuk dongeng.”

“Tolong dengarkan. Saya janji ini akan menjadi dongeng terakhir yang saya ceritakan.” 

Ia diam, saya mulai berbicara. Kalimat saya lancar, tapi hati saya tak karuan. Saya rasa ini adalah kesempatan terakhir saya.

“Alam dan seluruh isinya saling berkaitan. Seperti benang, kadang menjadi kusut. Hari ini ada yang kehilangan. Tapi di hari yang sama, ada yang menemukan. Ada mereka yang hampir menyerah, tapi ada mereka lain yang kembali berusaha. Hari ini ada yang dihianati. Hari ini ada yang disakiti. Ada yang tersadar. Ada yang bersedih. Ada yang kecewa. Ada yang marah. Ada yang akhirnya bisa menerima. Tolong sambung cerita saya.”

“Kamu gila.”

“Saya mohon. Ini terakhir kalinya. Tidakkah kamu kasihan melihat saya?”

Ia tidak mengiyakan, tapi langsung menyambung celoteh saya, seperti yang biasa kami lakukan. “Hari ini ada rasa terima kasih yang disimpan dalam hati. Ada yang meyakinkan diri untuk bangkit kembali. Manusia punya cerita. Manusia penuh kisah. Mereka bersembunyi. Mereka bewarna. Kadang merah, kadang jingga. Mungkin juga hitam.”

“Tapi, ia berbeda. Ia tidak sama dengan manusia lainnya. Ia hanya diam, suka memandang hujan, memandang kosong. Saya tidak tahu warna apa ia. Yang saya tahu ia adalah warna paling meriah di kisah saya.”

Ia menghela napas, hampir terbata. “Warna darinya hanya berbeda, maka kamu terkesima. Hidupmu penuh warna berkilauan, sedang ia membawa abu-abu kusam. Kamu kaget, tapi lambat laun kamu akan sadar, jelaga bisa dengan mudah ditemukan. Tamat. Sekarang saya mau pergi. Hari ini ada yang memutuskan untuk tidak kembali.”

“Dan di hari yang sama, ada yang memutuskan untuk bertahan. Awalnya ia adalah cara saya mencapai bahagia. Tapi, kini ia adalah kebahagiaan itu sendiri. Ia bilang warna di hidup saya berkilauan, sedang ia hanya kusam. Tidak masuk akal. Saya telah menemukannya dan bagi saya ia adalah warna paling menyilaukan di semesta. Jika saya menurutinya, saya akan kehilangan warna saya. “

Ia berkaca-kaca. Tapi, hanya diam. Tidak mau mengingat kisah. Menolak. Saya disini. Mencoba mendekat, ditolak. Mencoba mengerti, disuruh pergi. Tapi saya terpaku. Jika saya pergi, saya akan tersesat. Karena bagi saya kini ia adalah dunia. Dan ia tahu itu.

Sabtu, 13 Desember 2014

Tidak Masalah Toh

"Jika kamu berghibah, maka pahala dari timbanganmu akan dipindahkan ke timbangan orang yang kamu ghibah kan di hisab nanti." Kalau manusia menjaga lisan dari bergunjing karena tidak ingin orang lain mengambil pahala mereka, apa bukan berarti manusia tetap bersifat tamak sampai hari kiamat?

Jumat, 12 Desember 2014

Asphalt

Kisah dan persinggahan. Ingin mengejar yang tidak bisa dikejar. Ingin datang ke ia yang pergi. Ingin pulang ke ia yang tak kembali. Seperti remah-remah roti, akan ada bagian yang (tidak sengaja) tertinggal. Kasihan. Remah-remah roti sendirian. Bagian yang enak sudah disantap, sisa-sisa terbuang. #ngomongoposihdin

Jumat, 05 Desember 2014

Trapped

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al Baqarah: 216)

Hari ini saya (rasanya) paham. Din, dari SMA sampe kuliah kok sama aja sih.....

Kamis, 04 Desember 2014

Koin 500 rupiah

Saya berandai, andai hidup ini koin 500 rupiah. Ada dua sisi, bunga dan garuda. Satu tinggal di tanah, satu berkeliaran di langit. Bunga dan garuda adalah satu, tapi mereka tak pernah bertemu. Saat bunga melihat kiri dunia, garuda memandang kanan, pun berkebalikan. Apa yang mereka lihat tidak pernah sama. Karena tak sama, bunga dan garuda bersikeras apa yang masing-masing lihat lah yang benar, walau sebenarnya tidak ada yang salah. Hanya saja masing sisi tak mampu paham apa yang sisi lain mengerti. Andai saja ada percaya. Oh, mungkin lebih tepatnya memaklumi. Maklum dua sisi tak memandang di waktu yang satu.

Rabu, 03 Desember 2014

Saya punya seribu kata-kata indah. Tapi, ia punya sejuta.

Lampau dan Lalu

Hanya tersisa lalu dan lewat menjadi lampau. Dulu dan sekarang tentu tak sama. Saya tak berhak meminta dulu, jika sekarang saya tak berubah. Sayangnya, saya masih orang yang sama. Tapi, sayang kamu berbeda. Kita mulai bertanya. Saya pun berandai, mungkinkah dulu dan sekarang saya paksa setara? Tenang, saya pun telah paham nyatanya.

Duh, Gusti!



Duh Semar, kamu tidak lihat ya. 


Rahwana, Raja Rakshasa dari Kerajaan Alengka siapa tak kenal ia
Rahwana, makhluk agung raja tiga dunia, kuasai dedemit surgawi dan dunia
Berwatak setengah iblis akibat orgasme salah waktu Kaikesi dan Wisrawa
Kelahirannya tak diinginkan, tapi baktinya tak diragukan

Berkatnya, rumah paling miskin memiliki kendaraan emas di Alengka.
Tapi apakah kita harus dipimpin iblis agar sejahtera?
Pemimpin kita memang manusia, mungkin itu kelemahannya
Karena ia manusia serakah dan kita tak cukup berdaya

Ssshh... Namun, apa kamu tahu arti Rahwana?
Asal namanya dari tangis, "Ia yang Raungannya Dahsyat"
Konon bumi berguncang hebat saat kelahirannya
Sungguh sesuatu yang kuat disebut dari hal yang lemah.

Sayang ia gila wanita.

Sepuluh kepala Rahwana mencumbu sepuluh gadis berbeda sekaligus!
Keduapuluh tangannya sibuk menjamah sana sini
Menimbulkan erangan nikmat para bidadari
Untung kemaluannya hanya satu.

Loh kata siapa?

Ia tetap memuliakan Sita (Rama yang agung saja kalah)

Kenapa pula Rama mempertanyakan kesucian Sita
Bila ia tidak suci lantas kenapa, tega Rama membakar istrinya?
Tau begitu lebih baik ia serahkan diri ke Rahwana yang mencintainya
Tidak pernah Sita dihina, selalu dipuji dan diperlakukan mulia

Rama memang manusia sejati
Kupingnya tajam, matanya buta
Karena bisik-bisik rakyatnya
Sita yang bunting putranya, disuruh lari ke hutan seorang diri

Sungguh apa yang tampak belum tentu sebagaimana adanya
Sejarah selalu berulang, tak sama namun serupa
Kisah serakah, wanita, dan siapa yang sebenarnya (tidak) mulia
Rahwana kalah oleh manusia. Manusia kalah oleh manusia.

Loh, saya tidak menyudutkan siapa-siapa.

Tapi, Semar, apa lantas kamu percaya?

Senin, 01 Desember 2014

Nyala Menyala Nyalang - Sayembara Menulis Cerpen UKM Belistra 2013


Oleh ibu, Nyala diberi nama Nyala. Nyala suka sekali namanya. Nyala juga suka sekali sama Ibu.

Nyala 5 tahun

Nyala sudah lama bisa berjalan, bahkan sangat bisa berlari. Apalagi ketika Nyala paham betapa sakitnya tamparan ibu di pipi. Nyala akan lari, lari secepat jemuran basah saat hujan. Tapi pada akhirnya Nyala akan selalu kalah. Ibu mengejar Nyala seperti kesetanan. Dan pipi Nyala akan menjadi merah, semerah matanya yang basah, sebasah bibir merahnya yang digigit kuat-kuat menahan tangis.

Nyala 7 tahun

Nyala dibilang anak haram. Di sekolah teman-temannya suka menatap benci. Ibu guru tidak peduli. Nyala manis ke semua orang, tapi orang-orang memperlakukan Nyala dengan kasar. Atau yang paling wajar, mereka seolah buta akan kehadiran Nyala. Suara Nyala tidak pernah didengar, kehadiran Nyala tidak diharapkan. Nyala tidak pernah kenal siapa itu haram, Nyala juga tidak pernah benar-benar kenal ibu guru dan mereka yang katanya teman.

Nyala 10 tahun

Kadang Nyala suka heran. Melihat ibu, melihat teman-teman ibu yang selalu berpoles gincu tebal dan baju kekecilan. Pernah Nyala iseng mencoba, tapi langsung dipukul ibu. Setelah itu ibu langsung menangis dan bilang, “Nyala jangan pernah jadi seperti ibu.” Nyala hanya diam, mengangguk pelan. Nyala tidak pernah tega melihat ibu menangis. Tapi tiap hari air mata ibu mengalir, seperti es kutub utara yang mengering.

Nyala 13 tahun

Nyala mengerti. Hidup tidak selalu baik dengan semua orang. Hidup tidak pernah baik dengan Nyala atau ibu. Maka Nyala mengerti, Nyala belajar. Isi buku di sekolah tidak pernah membuat Nyala mendapat solusi. Pelajaran kelas cuma sebatas welas. Orang-orang ketakutan seperti kucing dimarahi banci.

Nyala 15 tahun

Nyala bisa menjadi pendiam. Bisa juga memiliki segala hal untuk dikatakan. Tapi seringkali ia hanya bagian dari orang-orang aneh yang menangis ditikam sepi. Nyala kadang suka berandai. Kepedihan mereka akan ditampungnya di milyaran botol. Kemudian Nyala akan menjelma menjadi segitiga bermuda, melenyapkan botol-botol air mata. Menyesap asinnya seperti menyeruput sirup, menjilati kembang gula.

Nyala 17 tahun

“Berapa harga anakmu?”

“Apa?”

“Harga anakmu.”

Muka kenes ibu mendadak jadi dingin. Itu menjadi pelanggan pertama yang diusirnya dengan kasar. Setelah itu banyak sekali yang menawar Nyala. Seolah dia dagangan yang bisa digrosirkan. Sejak saat itu ibu menjadi lebih sering marah-marah. Nyala tidak boleh sampai keluar.

Hari itu Pak RT diam-diam datang, tengah malam. Tidak ada seorang pun yang tahu, bahkan Nyala sendiri. Ia tidak sengaja keluar, mata mereka bertemu. Pak RT menatapnya dengan aneh, seolah ia maling yang mencuri seluruh harta karun di dunia. Nyala langsung lari ke kamar, takut ibu tahu.

“Anjing! Pergi!”

“Setan kamu! Pelacur saja sombong.”

“Dasar bandot. Sadar umur!"

Teriakan-teriakan kasar terdengar. Makin lama makin kencang. Makin lama juga diwarnai suara barang dan kaca yang pecah.  Nyala meringkuk gemetaran. Belum pernah ia setakut itu. Ia sering mendengar teriakan ibu. Ia pernah mendengar tangisan ibu, Ia hafal suara tamparan, pukulan, dan riuh ketika barang dilempar. Tapi belum pernah ia merekamnya jadi satu.

Nyala mengintip ke kamar ibu. Pak RT keluar, wajahnya tergores darah. Kakek itu pergi meninggalkan sumpah serapah dan jejak kaki yang kotor dan basah. Lalu, Nyala melihat ibu. Ia belum pernah melihat ibu tampak selelah dan selemah itu.

Dua hari setelah kejadian itu, ibu tetap berdiam di kamarnya. Tidak mau keluar, bahkan untuk makan. Nyala yang mengantarkannya, tapi seringkali makanan buatan Nyala tidak tersentuh oleh ibu. Dua hari setelah kejadian itu, rumah mereka digedor warga. Ibu ditarik, Nyala meronta, tapi ibu tetap diam, matanya kosong, wajahnya pasrah.

Ibu dibakar, diarak keliling kampung. Berita esok yang beredar “Anak Perek Mengamuk Hanya Karena Ibunya Ditelanjangi”. Nyala marah, marah sekali. Persetan kalian. Persetan dengan hanya.

Nyala 18 tahun

Ulang tahun Nyala hanya berselang delapan hari dari kejadian tidak manusiawi itu. Nyala ingin meminta keadilan. Tapi dari kecil ia sadar, barang itu bukan untuk semua orang. Nyala mengutuk hujan yang tidak datang meredakan api. Nyala mengutuk Tuhan yang tidak pernah menolong Ibu dan Nyala.

Nyala kabur dari desa, menumpang truk sayur pertama yang berangkat ke kota. Tepat saat 6.570 hari Nyala ada di dunia, ia diselimuti sawi, ia duduk beralaskan besi becek. Tapi, dia tidak peduli. Nyala tidak pernah akan peduli. Hatinya beku, amarahnya seolah mampu melenyapkan dunia.

Nyala 56 tahun

Nyala menjadi presiden. Nama desa kelahirannya dihapuskan dari peta. Membuat Hari Gundik Sedunia.

Petak Umpet

"Sshhh tenang, saya sedang sembunyi."
"Sembunyi dari apa?"
"Lari dari lara."
"Kamu sembunyi atau lari?"
"Saya sembunyi agar bisa lari."

Ruang yang berantakan. Hati yang tak karuan. Tetap, kebahagiaan akhirnya selalu datang, dengan pelan, dengan malu-malu (walau sering terang-terangan).

Minggu, 30 November 2014

Tuan, Nona ingin pulang ke istana masa depan yang Tuan janjikan. Tapi apa Tuan akan ada disana?

Jika dan Hanya Jika

Jika kau tak memiliki suara, apa kau akan tetap mencoba bicara?
Jika kau tak punya sepasang mata, apa kau masih menganggap dunia ini indah? Atau sebaliknya mungkin....
Jika kau tak lengkap tangan dan kaki, kau tentu sulit untuk pongah.
Jika dan hanya jika kau punya hati, tentu kau akan mengerti.
Jika dan hanya jika pikiranmu melesat, tentu kita tak perlu tersesat.

Manusia dikaruniai hati yang (seharusnya) lapang. Hati yang bisa jatuh cinta seribu kali. Hati yang bisa hancur lalu (di)bangun lagi. Hati yang tergugah. Hati yang setangguh besi. Manusia juga diberkahi pikiran yang (seharusnya) luas. Pikiran yang menuntun jalan. Pikiran yang membuat manusia berkembang, syukur-syukur jadi paham empati. Pikiran membantu hati paham, hati membantu pikiran merasa, meraba apa yang benar dan salah.

Pikiran dan hati satu nadi. Tapi mereka sering berkelahi. Hati lapang dan pikiran luas senang saling mendebat. Toh manusia punya andil tuk menengahi.
Falling in love with me is one thing, staying in love with me is another thing.

Sabtu, 29 November 2014

Bubur Rasa Rindu

Aku menyesapnya, panas, hangat.
Mataku meleleh.
Teringat rumah, teringat pulang.
Ibu, teringat bubur buatanmu, ini bubur rasa rindu.

Pernah kan saat kamu mengunyah sesuatu, mengecap, menyesap, dan menelannya, tiba-tiba kamu teringat kenangan yang jauh, yang bahkan kamu pikir kamu sudah lupa. Dulu, saat kecil saya sering sekali sakit. Setiap bulan selalu bolak-balik ke dokter. Hampir tiap waktu saya mengonsumsi obat. Jika sudah sembuh, tak lama kemudian akan sakit lagi, dan seterusnya. Saat-saat seperti itu, hidup saya terpusat di mama. Mama yang mengantar saya ke dokter, menemani saya mengantri, mengambil obat di apotek, memastikan saya minum obat walau sering mengomel karena saya bandel, memberi saya makanan enak (walau kadang tidak menyehatkan haha). Dan tiap saya sakit disini, saya selalu teringat mama, kompres es, dan bubur ayam tepi jalan.

Minggu, 16 November 2014

#MenolakLupa


Bagai masa lalu ia memburu. Tidak ada perbandingan, tapi ada yang merasa dikalahkan. Tidak ada tuntutan, tapi ada yang harus dipertanggungjawabkan. Cinta yang hilang tak mungkin lagi datang. Sama. Dendam di hati sulit untuk pergi. Seperti waktu yang angkuh, ia membisu. Menuai tanda tanya. Menunggu jawaban. Lagi, ia hanya membisu. Walau kutukan bak angin ribut.

Senin, 10 November 2014

Saya lapar, tapi tidak mungkin saya bilang ke ibu. Kita sama-sama keroncongan.

Tik.

Tik tok tik tok tik tok. 

Waktu itu saya hampir menyerah, tapi tidak terima untuk kalah. Siapa sangka di tik tok berikutnya saya lapang dada dan menemukan keluarga.

Tik tok tik tok tik tok.

Waktu itu kita masih bersama, penuh cerita dan bahagia. Siapa sangka di tik tok berikutnya kita berpisah, kau lelah, saya pun sama.

Tik tok tik tok tik tok.

Waktu itu kita berteman, sangat akrab walau tidak dekat. Siapa sangka di tik tok berikutnya kau bahkan segan menyapa, menganggap saya muka dua.

Tik tok tik tok tik tok.

Waktu itu kau bukan siapa-siapa, kita hanya bercakap sambil lalu yang tidak berarti apa-apa. Siapa sangka di tik tok berikutnya kau adalah orang terbaik di hidup saya.

Tik tok tik tok tik tok.

Waktu itu saya jatuh cinta dengan rumah tempat kita berada, saya lakukan semuanya sepenuh hati. Siapa sangka di tik tok berikutnya saya tidak masalah untuk pergi.

Tik tok tik tok tik tok.

Waktu itu saya menganggap saya tidak punya apa-apa. Siapa sangka di tik tok berikutnya saya salah, saya memiliki segalanya dan harus bahagia.

Tik tok tik tok tik tok.

Saya hanyalah saya. Kau bisa siapa saja. Kata bisa saja nyata.

Tik.

Rabu, 05 November 2014

Perjalanan Menemukan Cinta

Saya mencari-cari cinta ibu. Saya mencari cinta ibu di surat-surat yang tertinggal. Saya mencari cinta ibu di gambar-gambar lama. Saya mencari cinta ibu di cucian, juga di perapian. Nihil.

Saya tanya ke Bunda rupa ibu seperti apa. Bunda jawab tidak tahu. Bunda menjadi sedih, mungkin ia harap saya sudah lupa. Saya tak bisa, tepatnya menolak untuk lupa. Saya mencari kembali. Saya mencari kenangan tawa ibu. Saya mencari kenangan musik yang ibu suka. Saya mencari kenangan dongeng dari ibu. Saya mencari kenangan bahagia ibu saat saya lahir. Saya mencari semua kenangan, berharap menemukan cinta disana. Nihil. 

Saya putuskan melakukan perjalanan mencari cinta. Berbekal alamat dan foto lama saya susuri semua sudut kota. Saya mencari di lorong-lorong, kaki jembatan layang, gedung-gedung megah, hotel-hotel mewah, hotel-hotel murah, dan emperan toko. Saya datangi stasiun kereta, terminal bus, bandara, pesantren, dan gereja. Nihil.

Saya putus asa. Saya hampir putus asa. Di tengah gigil hujan dan gemetar tangan, sekelebat cerita muncul, cerita-cerita bermunculan. Di setiap cerita itu selalu ada wajah yang sama dan itu.... bukan wajah ibu. Tapi disana saya menemukan cinta yang paling besar. yang paling tulus, yang paling sabar.

Saya melakukan perjalanan mencari cinta padahal sudah lama saya menemukan cinta. Mungkin di setiap nafas ibu, ibu mendoakan saya. Mungkin karena doa-doa ibu saya tidak pernah kekurangan cinta, walau bukan darinya. Mungkin karena itu pula saya akhirnya juga menemukan rumah. 

Lalu saya, setelah berminggu-minggu, akhirnya tersenyum. Saya menatap langit dan mengangguk seolah di atas sana mata Tuhan tepat menatap saya. Saya melangkahkan kaki, rindu rumah.

Selasa, 04 November 2014

The way you holding on is by clinging onto memories instead of cherishing present moments.
Saya ingin disayangi setiap hari. Dengan egois. Dengan sepenuh hati.

Alkisah Sekotak Cokelat

Ada yang salah, ada yang harus diubah, ada yang harus berubah.

Contohnya, ada orang diperlakukan semena-mena, tapi tetap memberi cinta yang sempurna. Nona, kau sebut itu buta atau bodoh?

Misalnya, ada orang yang kau tolak mentah-mentah, tapi tetap tergila-gila padamu. Nona, kau sebut itu cinta atau ambisi?

Katanya, ada orang yang sama-sama cinta, tapi saling menyakiti tiada henti. Nona, lagi-lagi kau sebut ini apa?

Kadang manusia begitu naif, terlalu terobsesi dengan kenangan yang pernah mereka miliki atau kenangan yang mereka harap mereka miliki. Manusia bertahan dengan ingatan indah, tanpa mau melihat bahwa yang mereka jalani menyakiti mereka pun ketika berakhir. Kamu dan aku seharusnya menghargai diri sendiri lebih tinggi daripada dia yang tidak menyadari kamu berharga, aku berharga.

Senin, 03 November 2014

Dikata Kata-Kata


Hari hari mata hari. Mata mata mata hari. Mata hari mata hari. Hari mati mata hari.
Malam malam malam lama. Malam malam lama malam. Malam lama malam malam. Lama lama malam malam.
Malam hari mata hati. Malam hari mata mati. Hari malam mata mata. Lama lama mata mati.

Lagi lagi lagi gila. Lagi lagi lagi ku gila. Lagi lagi lagi ku bisa gila.
Marah marah marah ramah. Marah marah marah tak ramah. Marah marah marah kau tak ramah.
Lama lama lama malah. Lama lama lama malah gila. Lama lama lama malah marah.

Hati hati hati hati. Hati hati hati sakit hati. Hati hati hati kita sakit hati.
Seduh seduh seduh sedu. Seduh seduh seduh tersedu. Seduh seduh seduh tak tersedu.
Hati sakit hati sakit. Seduh sedu seduh sedu. Seduh sedu sedu sedan.

Kata kata kata dikata. Kata kata kata dikatai. Kata kata kata mengatai. Kata kata kata tak berkata.
Kaca mata kaca mata. Mata mata mata kaca. Mata kaca kaca mata. Kaca kaca kaca mata.
Kata mata kaca kaca. Kata kaca mata mata. Kata kaca kaca mata. Mata kaca kaca mata.

Butuh butuh butuh tubuh. Butuh butuh butuh tubuhmu. Butuh butuh tak butuh tubuhmu.
Cinta cinta cinta mencintai. Cinta cinta cinta dicintai. Cinta cinta cinta tai. 
Butuh cinta butuh tubuh. Butuh cinta atau tubuh? Butuh cinta tak butuh tubuh. Butuh tubuh tak butuh cinta.

Langit. Kilat. Hujan. Redam. Kilat. Badai. Banjir.

Rabu, 29 Oktober 2014

KK


Malam itu saya dan beberapa teman pulang bareng, lewat jalan teknik ke kutek. Tiba-tiba kita menjerit di waktu yang hampir bersamaan, alasannya di tengah jalan ada bangkai kucing, baru saja tertabrak. 

Saya lalu kembali ke BOE, mengambil koran untuk memindahkan bangkainya dan sekalian menutupinya sampai besok dikubur sama pak satpam. Saat memindahkannya berdua Lita, rasa-rasanya saya mau menangis. It’s so soft…. yet so cold. It reminds me how fragile life could be.

Besoknya, kucing itu masih disana. Masih terbungkus koran, hanya saja sudah dikerubuni lalat. Apa pak satpam belum melihatnya ya?

Besoknya lagi, saat saya sedang terburu-buru mengejar kelas Mejik dan pusing memikirkan tugas Forensik, saya terhenti di jalan sambungan itu dan hampir menangis, lagi. Belum ada juga yang mengubur kucing ini. And that reminds me how ignorant men can be.

Alhasil, sesaat setelah kelas Mejik selesai, saya langsung mencari Fahmy dan minta tolong mengubur kucing itu. Oleh Fahmy, saya diajak ke tempat bapak-bapak  audit nongkrong. Disitu saya dan Intan akhirnya meminta bantuan Pak Martha.

Saya jadi teringat manusia dan novel Gone With The Wind. Ada kisah seorang ibu yang selalu menguburkan mayat-mayat tentara musuh, dengan harapan jika nanti anaknya mati di medang perang yang antah berantah, ada seorang baik yang mau mengurus mayat anaknya. Lalu saya jadi berandai, bagaimana ya jika saya atau keluarga saya mati di tempat jauh yang asing, apakah ada yang peduli atau mayat saya, seperti kucing tadi, hanya dibiarkan di jalan berhari-hari?

Minggu, 26 Oktober 2014

Percakapan Toko Kelontong

"Kamu tinggal di kardus berapa?"
"Oh di kardus nomor 3."

Ucap sebungkus camilan ke teman barunya.

Teater Papan

Jika langit tak mencintai matahari, maka bulan tak akan iri.
Dan bumi tak akan memiliki pagi yang lebih lama, lebih indah. 

Waktu selalu berputar, hidup cuma sebentar.
Apakah kau akan tetap tinggal? Tidakkah mereka mendengarkan?
Hatiku makin lapang, tanahku makin gersang.
Tuhan, apakah ini benar?

Anak menangis diseberang jalan.
Wanita mengaduh kesakitan.
Para ayah lalu kehilangan.
Ada dunia yang dipermainkan, keadilan lantas digadaikan.

Cinta ditulis, sedih dilukis.
Ada tokoh yang ditunggu, ada sosok yang menganggu.
Teman, apakah nyaman tetap temanmu?
Karena di kisahku, ia menghilang.

Gelas kaca berdentingan, silau kelap-kelip lampu kristal.
Ada pesta dansa, ada tarian penuh luka.
Nyanyian pilu ibu-ibu membahana, kalahkan seriosa gereja.
Hawa ketakutan, Adam lantas diam.

Hujan tak turun juga, perih singgah selamanya.
Harpa dibakar, suara dibungkam.
Lihat, disana mereka! Para wajah ketakutan.
Tuhan, tidakkah Kau punya kebenaran?

Bumi bergidik, langit menggeleng pelan.

Untuk Tuan Disana, dari Nona yang Sama

Tuan, apakah kita telah selesai? Atau memang tak pernah benar-benar memulai? Membingungkan bagaimana kisah yang berawal dengan indah bisa ditutup dengan pilu, atau setidaknya bagi diriku.

Siapa sangka sebuah pilihan yang ditentukan kata "ya" dan "tidak" bisa sangat menentukan jalan bagi kita semua, bahkan setelah bertahun-tahun kemudian. Tidak ada yang terjadi akibat kebetulan. Awalnya kupikir kalimat itu bercanda, tapi kini makin kutahu kebenaran tak kenal main-main.

Apa kabar dirimu disana? Apakah kamu tetap baik-baik saja? Misalnya kamu bertanya, aku disini sudah tidak apa-apa. Siapa sangka, awalnya yang kupikir hidup tidak akan pernah sama, memang ternyata menjadi lebih indah.

Kupikir hati dan jiwaku telah mati rasa, kupikir caraku memandang dunia akan berubah. Ternyata tuan, di sepanjang jalan, aku bertemu teman-teman baru, walau kuakui tidak ada yang se enerjik dirimu. Namun tuan, berkat mereka, aku punya kisah kemenanganku. Aku kini bahagia, jauh lebih bahagia daripada saat kita bersama.

Apakah kamu sedikit lebih lega mendengarnya? Atau seperti dulu, kekecewaanku kau tanggapi sambil lalu. Tidak masalah, entah orang seperti apa tuan sekarang, aku tetap nona yang sama. Jika bertemu, aku akan tetap menyapamu, aku akan tetap bersikap sebaik yang aku mampu. Namun kali ini, hatiku telah bebas. Rasaku telah lepas.

Jumat, 24 Oktober 2014

Kamis, 23 Oktober 2014

Cerita Senja

Sore di saat daun-daun berguguran dan musim semi tidak segera datang, kita bercerita.

"Apa sih yang kamu suka dari aku?"

"Hmmm.... apa ya? Kok pertanyaanmu sulit," ujarmu tertawa. Tinggal aku yang misuh-misuh.

"Jangan lekas marah. Kamu kan memang tidak bisa-bisa apa." Makin sebal aku mendengarnya.

"Ini ya sayang. Aku paling suka kalau kamu menginjak bagian belakang sepatumu."

"Ha?"

"Iya, saat kamu terburu-buru dan bahkan tidak sempat memakai seluruh bagian sepatu."

"Huh masa itu sih."

"Ini ada lagi. Aku suka kamu yang selalu memotong kuku kependekan dan meratapi kukumu yang baru."

"Iiihhh kok yang itu sih."

"Aku suka nyanyianmu yang tidak pernah berirama. Aku suka saat kamu berpoles lipstik cantik. Aku suka saat kamu serampangan. Aku suka idemu yang sembarangan. Aku suka seleramu yang sebenarnya kampung. Aku suka caramu marah. Aku suka caramu tertawa. Ya intinya aku suka kamu apa adanya."

"Gombal!!!" Tapi, lantas aku diam.

Senin, 20 Oktober 2014

Nebula

Ada keyakinan yang diragukan. Ada percaya yang dipertaruhkan. Ada cinta yang pelan-pelan enyah. Ada cinta yang pelan-pelan kembali. Ada benci yang mulai layu. Ada benci yang mulai tumbuh. Selalu ada bidadari yang paling sabar. Selalu ada pangeran yang tidak sadar.

Ada rasa yang diam-diam sembunyi disana. Ada kenangan yang menunggu untuk dikenang. Ada kenangan yang harus dilupakan. Ada sesal yang tak sempat diutarakan. Ada memori yang menjadi pelajaran. Selalu ada orang kesepian. Selalu ada niatan nakal.

Ada kisah yang tidak adil. Ada angan yang tidak selesai. Ada impian yang berganti haluan. Ada hati yang rela menunggu tiada pamrih. Ada hati yang pergi tanpa ingin kembali. Selalu ada hati yang kelelahan, lelah menunggu dan lelah pergi.

Ada angin yang kesakitan. Ada awan yang selalu hitam. Ada bunga yang tetap disimpan. Ada hadiah yang lantas dibuang. Ada manis yang berasa hambar. Ada sakit yang menjadi candu. Selalu ada tatapan paling kejam. Selalu ada tangan yang menghangatkan.

Ada pagi yang tidak ramah. Ada malam yang menguji jiwa. Ada garis yang selalu berputar. Ada senyum yang mendebarkan. Ada rasa yang samar. Ada amarah yang sendirian. Selalu ada kesedihan. Selalu ada mereka yang membuat tenang.

Ada langit yang menyebalkan. Ada hujan yang tak pernah datang. Ada melodi yang disenandungkan. Ada janji yang kini tak bertuan. Ada tangis yang mulai hilang. Ada bahagia yang tak bisa diam.

Dan kita, selalu ada diantara semua ada.

Jika Kata

Lebih hebat mana, kisah yang timbul karena magisnya jatuh cinta atau menawannya patah hati?

Minggu, 19 Oktober 2014

17


Sering aku terhenti di persimpangan, tergelitik untuk melihat ke belakang. Kadang aku diam di ambang jalan, menolak melihat masa sekarang. Sayup bisik-bisik menghajar telinga, menusuk mata, menghantam hati. Ngilu. Perih. Lalu aku terselimuti hangat. Jiwanya melindungi, tak tega lihat aku hampir gila. Mungkin ini yang mereka sebut percaya. Tertatih-tatih aku mulai pulih, kembali berjalan walau tidak sebentar. Mungkin ini yang namanya usaha.

Jumat, 17 Oktober 2014

Tentang


Lalu kau pelan-pelan datang. Mengubah sudut pandang ia yang mulai sinis kepada dunia. Lalu kau ajari ia bahagia, sering membuatnya tertawa. Lalu pelan-pelan ia belajar cinta. Lalu ia menerima, mencari cara pula agar selalu diterima. Kadang membuat kesal, tapi diam-diam ingin cari perhatian, ingin selalu disayang. Sayang, sampai kapan kau akan maklum? Kalau menangis ingin selalu dikejar, kalau salah selalu kau yang ia salahkan. Pacarmu kekanakkan, untung kau orang yang sabar :-)

Kamis, 02 Oktober 2014

Twitted

Aneh ga sih baru di (menjelang) semester akhir ini punya sedikit rasa sama akuntansi. Anehnya lagi suka itu dateng dari kelas yang paling dibenci. Belum pernah selama kuliah ada kelas yang jadi momok banget. H-2 udah galau ga jelas. Tiap minggu kayak gitu.

Aneh ga sih dulu takut banget sama sesuatu, sekarang itu bukan apa-apa. Aneh juga gimana kamu pernah care banget sama sesuatu, sekarang itu juga bukan menjadi apa-apa. Cukup aneh dulu pernah muak banget sama sesuatu, sekarang bahkan merasa itu lucu.

Tapi dasarnya hidup dan kehidupan itu punya jalannya sendiri. Dan mungkin, jalan yang dirajut bagi kamu memang (bukan) yang teraneh.


Selasa, 05 Agustus 2014

Gimana kalau kita barter satu tawa sama sepuluh tetes air mata?

Gitanyali

Mau nulis seribu kata, tapi jadinya cuma mikir. Berandai. Berskenario.
Tiap hari mau jadi lebih baik lagi. Mau belajar yang banyak. Mau berbenah. Tapi akhirnya stuck di rutinitas yang sama.
Maunya mencari sesuatu yang baru atau paling engga mendalami yang lama. Belajar menekuni. Tapi perhatiannya sering teralihkan.
Berharapnya semua tiba-tiba berubah. Tapi apa bener perubahan itu perlu?
Pengennya tetep kayak gitu aja. Tapi kok lama-lama ada yang beda.
Ada seribu jawaban tapi sayangnya punya sejuta pertanyaan.

Rabu, 16 Juli 2014

Benediction


This white room and its melancholy.

I wonder why on earth I’m getting all this weird sensible thoughts at this small and messed up space. Then I slowly realize, it’s not about the room, it’s about the loneliness. I can barely hear sound since it’s 3 am already. I haven’t got any sleep.

I read. About what happened in someone’s life today, at yesterday, on months, and in years ago. I read. About someone’s thought. Some may crack me up, some may lies within my head, some may warm my heart, and for some they pass without leaving a trace. My mind wanders.

I randomly bumped into old album; grinned at my picture and thinking how free and tanned and clumsy I used to be. I am awkward. I am happy. Feeling blessed and terrified at exactly same moment. I regret things. I cherish things.

And for unknown reasons, I feel relieved.

Minggu, 18 Mei 2014

There's no place like home

A : Keong kecil mau pulang
B : Yang dibawa sekarang kan rumahnya.
A : Bukan.
B : Terus dia mau pulang kemana? Cuma itu rumah yang dia punya.
A : Tapi kata keong kecil itu bukan rumahnya lagi
B : Udah disita keong lain?
A : Aku serius.
B : Lagian kamu ada-ada aja.
A : Keong kecil mau pulang. Dia mau pulang ke rumahnya!


Jumat, 16 Mei 2014

What I love (less)

- Mediocre plot with beautiful words
- Wake up at noon
- That insightful class that demands you to be ambi
- Seeing beautiful expensive dress
- Have that quirky things you have no idea where and when you're gonna wear it.
- And two other things that I won't post


If I was sleeping at kosan, I will sneak out at night hoping no one sees me and turn on the light all along the hallway for I scared of the dark and have no night lamp. I don't want to sleep with more or less light (iya tau, banyak mau). Sori ya buat listrik-listrik yang kebuang percuma gara-gara ada satu anak penakut di Dclassic.

Jumat, 02 Mei 2014

Iya sih jahat

Kalo kamu sebegitu cinta sama ia, kenapa ga mencoba lebih mengerti dan mendalami apa yang ia percaya. Melihat dunia dari sudut pandang ia dan membuat segalanya lebih 'mudah'.

———

Saya jahat ga sih kalo mikir gini?

Terima Kasih Tuhan

Last week for the first time in my life I feel like I'm going to die. Literally that strong feeling of death. I'm scared. I cried for hours, can't sleep till dawn, and read Quran to calm me down. I count every seconds, pray to God I want longer time to live, and thinking I haven't raised cute kids yet!

Thanks God I'm still breathing. That moment forced me to remember how lucky I am and how I haven't shown people enough how grateful I am to have them. And then I remember those dreams I haven't tried to pursue. And that sad and hurt feeling if I'm really going to die tomorrow, I will be remembered just as Dina, that no one Dina. I haven't published any sensational novel yet. I haven't made that beautiful dresses yet, I haven't created any quirky designs yet.

I feel silly for times I think I still have tomorrow to start something or maybe to start all over again. What if I have no tomorrow left? Those dreams I never have guts to start and those people I often hurt though I love them so much. Mau diapain itu semua.

Gela(p)gapan


Kalau gelap bisa memilih nama
Mungkin gelap tak diacuhkannya
Dan akan memilih nama manis seperti senja, pagi, atau jiwa

Gelap tidak memilih sedih
Atau menjadi tempat sembunyi
Ia lebih suka menjadi ceria atau mungkin tawa

Gelap bukan ingin menjadi terang
Ah mungkin sedikit ingin
Tapi ia hanya berharap harapan, bukan jalan buntu

Gelap suka dongeng, kadang juga suka jus buah
Bodoh, mereka malah sering memberi gelap stensil
Dan, oh, bukan itu maksud gelap. Buahnya terlalu masam!

Gelap suka seni, gelap suka sastra
Gelap suka menari, suka juga menggambar
Tapi tolong beri gelap warna merah muda

Gelap pintar menjahit, gelap pandai memasak
Tapi mereka tidak pernah tahu
Karena gelap seharusnya tidak melakukan itu

Gelap tidak suka menghilang
Tapi tidak suka juga kalau datang
Ah banyak hal yang gelap tidak suka

Gelap tidak suka misterius
Ia tidak suka tawa tangis atau teriakan putus asa itu, apalagi kuduk merinding itu
Bertemu gelap, mereka gampang ketakutan

Gelap benci menjadi gelap
Lebih benci lagi ketika ia benci menjadi gelap
Gelap pikirkan orang-orang sepi itu, kasihan mereka!

———————


Jadi sekarang tiap senin sore di BOE kita ada acara apresiasi puisi. Dan ini salah satu puisi yang saya buat inspired by tema minggu depan yaitu "GELAP". Excited!!